GEDUNG Rumah Sakit Islam (RSI) Masyitoh di Bangil berdiri megah. Siapa yang menyangka, sebelum menjadi gedung kesehatan seperti sekarang, dulunya bangunan tersebut adalah bangunan pendidikan.
Belum diketahui, tahun berapa dibangun. Namun, keberadaan bangunan tersebut disebut-sebut sudah ada sebelum 1940. Bangunan khas Belanda tampak berdiri kokoh waktu itu.
Namun, kekokohannya telah sirna. Tidak ada satupun jejak bangunan bekas kolonial yang tersisa.
Menurut Susanto Dwi Laksono, pemerhati sejarah Bangil, sebelum berdiri RSI Masyitoh, dulunya kawasan setempat merupakan bangunan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (BAPERKI). Bangunan tersebut merupakan sarana pendidikan bagi pelajar Bangil dan sekitarnya.
Namun, mayoritas yang bersekolah di sana adalah kalangan etnis Thionghoa. "Karenanya, bangunan itu dulu lebih dikenal sebagai Sekolahan Cino. Sebab, yang bersekolah di situ, mayoritas keturunan Cina," kisah Santo, sapaannya.
Bertahun-tahun lamanya, sekolahan tersebut berdiri. Hingga akhirnya masuk Orde Baru. BAPERKI yang dianggap berhaluan kiri, akhirnya dibubarkan.
Sekolah itu pun bertransformasi. Menjadi Yayasan Pendidikan Ahmad Yani. Nama itu diambil untuk mengenang atau memberikan penghargaan kepada Jendral Anumerta dan Pahlawan Revolusi tersebut.
"Yayasan Pendidikan Ahmad Yani kala itu, menyelenggarakan pendidikan SD hingga SMEA atau Sekolah Menengah Ekonomi Atas," sampai Santo.
Memang, lembaga pendidikan kala itu, tak sebanyak seperti sekarang. Termasuk sekolah menengah. Masih jarang.
Tak heran, Yayasan Pendidikan Ahmad Yani menjadi jujukan. Khususnya bagi pelajar di Bangil dan sekitarnya untuk menempuh pendidikan. Terutama untuk pendidikan menengah.
Namun, seiring berjalannya waktu, Yayasan Pendidikan Ahmad Yani itu berpindah ke Kalirejo, Kecamatan Bangil. Santo mengaku, tak mengetahui apa alasannya. Apakah masalah representatif lingkungan sekolah atau faktor lainnya.
Di Kalirejo, Kecamatan Bangil, yayasan setempat menyediakan pendidikan dari tingkat SD, SMP, hingga SMA sampai sekarang. Sementara, gedung yang ditinggali, dialihfungsikan. Menjadi gedung perbankan, Bank Harapan Sentosa (BHS Bank) di era 90-an.
Beberapa tahun lamanya, BHS Bank beroperasi. Namun, kemudian bank tersebut akhirnya bangkrut. Sehingga dimungkinkan, aset lahan dan bangunannya dijual ke RSI Masyitoh.
Dari situlah, kawasan setempat akhirnya berubah. Menjadi sarana pelayanan kesehatan berupa RSI Masyitoh hingga sekarang.
Sempat Jadi Panggung Pertunjukan Band
Sebelum berpindah ke Kalirejo, Kecamatan Bangil, Yayasan Pendidikan Ahmad Yani bisa dibilang sekolahan yang cukup memiliki pamor. Banyak pelajar yang menjadikan yayasan setempat untuk menempuh pendidikan.
Santo–sapaan Susanto Dwi Laksono–menguraikan, seingatnya saat masih dimanfaatkan oleh Yayasan Pendidikan Ahmad Yani, halaman sekolah begitu luas. Ada lapangan basket yang disebutnya menjadi satu-satunya di Bangil kala itu.
Suasana pun tampak ramai. Apalagi, ketika ada perpisahan atau disnatalis. Suasana ramai terpancar. Hal tersebut tak lepas dari suguhan musik yang ditawarkan.
Band-band yang berasal dari pelajar setempat, unjuk kebolehan. Mereka tampil di teras depan. "Ada Bang Ulit, Bang Sakip, Kak Ijot, dan kawan-kawannya," kenangnya.
Saking ramainya, sampai-sampai bisa mengalahkan pertunjukan ludruk. "Ludruk Irama Baru, yang biasa main di Stadion Pogar, bisa kalah," gumamnya sambil tertawa.
Namun, nuansa itu jelas tak lagi tampak. Sejak dialihfungsikan, nuansa ramai dengan pertunjukan musik itu tak lagi ada di area yang kini menjadi RSI Masyitoh tersebut. Hal ini bisa dimaklumi.
Karena kawasan setempat telah berganti. Menjadi pusat kesehatan. Bukan lagi pendidikan seperti sebelumnya.
Sementara, Yayasan Pendidikan Ahmad Yani yang berada di Kalirejo, Kecamatan Bangil, bukan satu-satunya lembaga pendidikan di wilayah setempat.
Karena ada sederet lembaga pendidikan lain yang berdiri. Ada Yadika Bangil, MTs negeri yang ada di Bangil, hingga SMAN 1 Pasuruan. Kawasan Kalirejo tersebut, menjadi pusat pendidikan di Bangil.
Bangunan Kuno Tergerus Modernisasi
Tidak ada lagi bangunan sejarah yang tampak. Padahal, bangunan RSI Masyitoh Bangil dulunya disebut-sebut bangunan kuno, eks Belanda.
Pilar-pilar kokoh menjulang, menjadi penyangga. "Pilar-pilarnya begitu besar dan tampak kokoh," kata Suharwati, salah satu warga Bangil.
Ia ingat bangunan eks BAPERKI itu, dulunya adalah bangunan kuno. Meski tak diketahui kapan dibangun, namun kesan bangunan Belanda terpancar. Khususnya dari desain bangunannya.
Tiang-tiang penyangga, tampak begitu besar menghiasi bangunan depan. Pintu dan jendela yang ada pun, berbeda desainnya dengan bangunan kebanyakan seperti sekarang.
Namun, kini hal itu tak tampak lagi. Bangunan tua itu, kini telah berubah. Menjadi bangunan modern yang kini dipakai sebagai layanan kesehatan RSI Masyitoh Bangil.
"Memang sayang, bangunan kuno yang merupakan peninggal sejarah, akhirnya dibongkar. Berganti bangunan modern. Tapi, itu memang hak pemiliknya," sampainya.
Hal senada diungkapkan Santo, sapaan Susanto Dwi Laksono. Bangunan kuno, memang tak ditemukan di eks BAPERKI tersebut. Semuanya telah dimodernisasi. "Bangunan tua itu pun menjadi kenangan," tandasnya. (one/mie)
Editor : Jawanto Arifin