TIDAK mudah mereplikasi motif batik kuno Kota Probolinggo. Para pembatik di Kota Probolinggo merasakan sendiri, saat memperbarui sejumlah motif itu dalam gelaran Festival Batik Kota Probolinggo pada tahun 2018 dan 2019 silam.
Salah satu pembatik Kota Probolinggo, Friday Malvinas mengungkapkan, kala itu 28 motif batik kuno berhasil direplikasi. Di antaranya, motif kembang suro, kapal keruk, belah ketupat, karang melok, hingga kembang manggar.
Motif batik ini diperbarui dan dikembangkan dengan ditambah corak dan ciri khas Kota Probolinggo saat ini. Misal, ditambahi dengan motif manggur. Sehingga, bisa sesuai dengan pangsa pasar saat ini.
Menurutnya, motif batik kuno Kota Probolinggo, beberapa mirip dengan batik daerah Pekalongan dan Jogja. Hanya namanya saja yang berbeda dan ada pengembangan dalam motifnya.
Pihaknya berharap motif kuno ini bisa lebih digali lagi filosofi motifnya. Sehingga, kita tidak hanya membuat atau mereplikasi motif tersebut, tapi juga bisa teredukasi dan paham dengan filosofi dari motif itu.
“Namun, kesulitannya, kami bingung untuk mencari filosofi batiknya. Sebab, dari sekian banyak motif, hanya ada nama motifnya tanpa disertakan filosofi,” jelas istri dari pembatik, Made Malvinas ini.
Ketua Komunitas Batik Kota Probolinggo Nico Sawiji menyampaikan hal senada. Katanya, mereplikasi motif batik kuno ini tidak mudah. Diperlukan kemampuan membatik yang sudah mumpuni.
Alasannya, ada beberapa motif kuno yang memang susah untuk dibaca karena usianya yang sudah lumayan tua. Sehingga, jika pembatik pemula atau baru belajar, tidak akan sanggup.
Harapannya, bisa segera terpecahkan filosofi dan makna dari masing-masing nama motif batiknya. Sebab, dari sekian banyak motif batik yang ada, pembatik belum satu pun bisa memecahkan filosofinya apa.
“Karakter dari motif batik kuno ini unik. Motifnya memiliki karakteristik pesisiran. Namun, secara warna mempunyai gaya pedalaman atau Majapahitan,” terang Nico. (riz/mie)
Editor : Jawanto Arifin