BANYAK peninggalan bangunan fisik Belanda yang tersebar di Probolinggo Raya. Salah satunya Dam Amsterdam. Kondisinya masih terjaga. Hanya, peruntukannya kini tak sekadar kontrol pintu air. Namun, kini juga jadi destinasi wisata edukasi.
Pada mulanya, kedatangan kolonial Belanda ke Indonesia, salah satunya untuk berdagang dan mencari rempah-rempah. Tak heran, saat itu banyak infrastruktur dibangun untuk melanggengkan tujuan tersebut.
Salah satunya, pembangunan sejumlah jaringan irigasi dan pabrik. Sebagai tempat produksi bahan baku menjadi setengah jadi atau barang jadi.
Probolinggo sendiri menjadi salah satu wilayah potensi tanam tebu yang cukup baik kala itu. Tak heran, jika pemerintah Kolonial Belanda membangun beberapa pabrik gula, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Salah satunya, saluran irigasi dam yang berada di jalan KH. Rizal, Kelurahan Wiroborang, Kota Probolinggo. Saluran irigasi ini dibangun sekitar tahun 1923. Memiliki fungsi sebagai kontrol debit dan pembagi air yang masuk ke areal pertanian. Lokasinya sekitar 3 kilometer ke arah barat Pabrik Gula (PG) Wonolangan, Kecamatan Dringu.
Berbagai sumber menyebutkan, saluran irigasi ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan irigasi areal tanam tebu milik Belanda. Sebagai bahan baku produksi gula di PG. Wonolangan.
"Dulu masih belum ada pembagian wilayah administrasi antara kota dan kabupaten. Dari cerita di masyarakat, banyak yang mengatakan jika dam dibuat untuk mengairi areal pertanian tebu. Disini wilayahnya cukup dekat dengan PG. Wonolangan," kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wirotama, Abdul Rohman.
Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan masyarakat. Fungsi dam yang sebelumnya hanya untuk tanaman tebu, kini menjadi lebih variatif.
Masyarakat setempat kini memanfaatkannya menjadi saluran irigasi sawah yang ditanami padi, jagung, dan bawang. Fungsi tersebut masih dipertahankan hingga sekarang.
Selain itu pintu air dam yang masih manual ini juga sebagai pengontrol debit air sungai. Khususnya saat musim hujan. "Daerah irigasi sampai ke wilayah utara Kelurahan Wiroborang bisa mencapai 100 hektare. Irigasinya masih berfungsi dengan baik," tutur Rohman.
Keaslian bangunan dam hingga kini masih tetap dijaga. Jika dipersentase, tingkat keaslian bangunan peninggalan Belanda tersebut mencapai 80 persen.
Hanya ada beberapa perubahan yang dilakukan menyesuaikan kebutuhan pengguna air. Yang paling tampak adalah penambahan penutup roda kontrol pintu air.
Infrastruktur tambahan itu dibangun dengan pertimbangan yakni melindungi bangunan asli pintu air, agar tidak mudah rusak dimakan cuaca dan waktu. Juga melindungi petugas dari paparan sinar matahari maupun hujan.
"Bangunan masih asli tidak ada yang diubah. Hanya disesuaikan saja. Serta penambahan atap pada pintu kontrol," terangnya. (ar/mie)
Editor : Jawanto Arifin