Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Asyari Cahyani; ASN Sukses Antar Persekap Juara Divisi 1, Cetak Pemain Liga 1

Jawanto Arifin • Minggu, 7 Mei 2023 | 22:30 WIB
DUNIA BOLA: Asyari Cahyani saat memberi instruksi pada para penggawa Persekap saat masih berlaga di Liga 2, beberapa waktu silam. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
DUNIA BOLA: Asyari Cahyani saat memberi instruksi pada para penggawa Persekap saat masih berlaga di Liga 2, beberapa waktu silam. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
DUNIA bola tidak bisa lepas dari sosok Asyari Cahyani. Sejak muda ia meniti karir sebagai pemain sepak bola profesional. Usai gantung sepatu, aktivitasnya pun masih belum bisa jauh-jauh dari lapangan bola.

Saat ini Asyari berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Meski begitu, hal tersebut tak serta merta membuatnya lepas dari dunia yang membesarkan namanya itu.

Asyari mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) untuk menampung pesepakbola belia di Kabupaten Pasuruan. Ia juga dikenal sebagai sosol pelatih sejumlah klub. Mulai Persekabpas Junior hingga Persekap Kota Pasuruan.

“Selain menjalani kepelatihan untuk bibit-bibit sepakbola, sekarang saya fokus pelayanan kepada masyarakat,” ungkap lelaki yang menjabat Sekretaris Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Pandaan ini.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di sela-sela kesibukannya, pria kelahiran 3 Agustus 1968 itu mengkisahkan kembali perkenalannya dengan sepak bola. Ia mulai meniti karir di dunia bola tahun 1984. Ketika itu, ia baru duduk di bangku SMA. Ia mendapatkan kesempatan, untuk belajar sepak bola di SSB Assyabaab, Surabaya.

Jauh sebelum itu, ia sebenarnya sudah menggandrungi sepak bola. Hal itu tak lepas dari darah bola yang dialirkan oleh ayahnya, almarhum Mad Hari. Ayahnya merupakan seorang pesebakbola lokal.

“Sejak kecil memang suka sepak bola. Tapi, baru bermain-main antar kampung. Belum masuk SSB. Baru setelah SMA, saya masuk SSB Assyabaab Surabaya,” kisahnya.

Saat di Assyabaab Surabaya, ia pernah mengikuti sejumlah kompetisi. Bahkan, ia yang saat itu berposisi sebagai striker, pernah menjuarai beberapa kompetisi. Hingga akhirnya, ia pun terjaring masuk Persebaya Junior kala itu.



Berangkat dari Persebaya Junior tahun 1986 itu, ia kemudian dilirik tim Petrokimia Gersik. Bahkan, saat di Petro Kimia Gresik, ia sempat ditawari untuk menjadi ASN di Pemkab Gresik. Namun, ia menolak. Karena, alasan tertentu yang membuatnya enggan untuk menjadi pegawai kala itu.

Dua tahun lamanya di Petrokimia Gresik, ia akhirnya hijrah ke Bentoel Galatama Jember. Namun, hanya selang dua tahun. Karena, tak lama kemudian, ia memilih untuk melanjutkan studinya.

Kebetulan, ia mendapatkan beasiswa gratis dari Universitas Putra Bangsa (UPB) Surabaya. Bahkan, beasiswa itu disodorkan langsung oleh sang rektor universitas tersebut. Sejak tahun 1993 itulah, ia kemudian memilih untuk kuliah.

“Saya sempat mikir-mikir. Akhirnya, atas masukan orang tua dan pertimbangan masa depan juga, saya memutuskan untuk menerima bea siswa tersebut,” kenang lelaki yang kini tinggal di Kejapanan, Kecamatan Gempol tersebut.

Di UPB itulah, ia mulai melatih bola. Kebetulan, setahun sebelum menjadi mahasiswa, ia telah mendirikan SSB Bina Bola Bisa Jaya Kejapanan 1992. Pendirian SSB itu direalisasikannya, lantaran terinspirasi dengan pembinaan sepakbola usia dini di Gresik, yang memiliki SSB.

“Selain melatih, saya juga menjadi pemain sepakbola di UPB Surabaya. Bahkan, sempat membawa tim sepakbola UPB Surabaya meraih juara pertama se-Jatim. Saya pun, mencetak gol terbanyak kala itu,” papar lulusan sarjana hukum tahun 1997 silam itu.

Asyari benar-benar melirik dunia kepelatihan. Tahun 1996, ia dipercaya untuk menukangi Persekabpas Junior. Bahkan, ia juga dipercaya untuk mengarsiteki tim sepak bola kampusnya, UPB Surabaya. Timnya berhasil menyabet juara dua se-Indonesia pada tahun yang sama.

Tak hanya tahun 1996. Pada 1998, 2002 hingga 2008, Asyari juga diperjaya mengarsitekni The Lassak Junior –julukan Persekabpas Junior-. Dari situ, ia rutin menyumbangkan juara liga remaja tingkat Provinsi untuk tim kebanggaan arek-arek Kabupaten Pasuruan tersebut.



Dari situ pula, ia mendapat apresiasi. Dan mendapatkan reward dengan mengisi jabatan Sekretaris Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, tahun 1999 silam. “Tapi, belum ASN waktu itu,” tandas dia.

Selain Persekabpas Junior, Asyari juga pernah menukangi tim Persekap Kota Pasuruan untuk liga remaja tahun 2007 silam. Saat itu, ada sejumlah pemain yang dicetaknya. Sebut saja, Bayu Gatra yang merupakan musim lalu jadi pemain Madura United, Aripin dari Persik Kediri, Angga Saputra, Misbakhul Solikhin, Dave Mustain, serta Fandi Eko Utomo yang rata-rata merupakan pemain liga utama.

Selain itu, ia juga pernah melatih tim Persekap Kota Pasuruan untuk liga 2, menggantikan Danurwindo. Di Persekap, Asyari juga menorehkan prestasi gemilang. Dengan membuat tim berjuluk Laskar Untung Suropati itu jadi juara Divisi I musim 2011-2012.

Saat Persekap berlaga di Liga 2 usai terjadi dualisme, Asyari sempat jadi asisten pelatih. Pada 2016, ia kembali didapuk jadi pelatih kepala Persekap hingga pada 2019.

Merebaknya Covid-19, membuat pesepakbolaan nasional akhirnya vakum. Sejak itu pula, Asyari tak lagi aktif menangani klub. Ia fokus pada pekerjaannya sebagai pelayan masyarakat.

Dari yang semula sekretaris di Desa Kejapanan, hingga akhirnya masuk sebagai staf kecamatan lantaran diangkat sebagai ASN. Hingga menduduki Sekel Kutorejo, sekarang.

“Untuk sementara ini, saya fokus pelayanan masayarakat. Sambil menjalani hobi, untuk melatih bibit-bibit pesepakbola muda,” aku dia.



Kiprah Asyari di Dunia Bola

Pemain
- SSB Asyabaab Surabaya (1984)
- Persebaya Junior (1986)
- Petrokimia Gresik (1989-1991)
- Galatama Bentoel Jember (1991-1993)

Pelatih
- Dirikan SSB di Kejapanan (1992)
- Persekabpas Jr (1996, 1998, 2002 dan 2008)
- Persekap Jr (2007)
- Persekap (2011-2019) (beberapa tahun jadi asisten pelatih)

 

Fokus Pelayanan pada Masyarakat

Sepak bola kini lebih menjadi hobi bagi Asyari Cahyani. Karena, fokus utamanya saat ini, adalah pelayanan kepada masyarakat. Ya, bapak dua anak ini, merupakan abdi negara yang menduduki Sekretaris Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Pandaan.

Sebagai sekretaris kelurahan, hal utama yang menjadi fokusnya saat ini, tak lain pelayanan kepada masyarakat. “Kalau dulu, sepak bola mungkin menjadi hal utama bagi saya. Namun, sekarang fokus saya adalah pelayanan kepada masyarakat,” sampainya.

Asyari mengaku, sebelum menjabat Sekel Kutorejo, ia terlebih dahulu menjabat Sekdes Kejapanan, Kecamatan Gempol. Jabatan itu disandangnya, sejak 1999 silam. Ketika itu, mendapatkan reward. Usai mengantarkan Persekabpas Junior meraih berbagai juara.

Hingga tahun 2007 kemudian. Ia kemudian diangkat menjadi ASN. Kebijakan pemerintah menarik semua ASN di desa, kemudian membuatnya berpindah tugas. Ia dipercaya untuk menduduki jabatan staf pemerintahan di Kecamatan Gempol.

Photo
Photo
ASN: Asyari Cahyani saat ditemui di sela-sela kesibukannya sebagai Sekretaris Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Pandaan. (Iwan Andrik/Radar Bromo)



Tiga tahun lamanya, kursi staf pemerintahan di kecamatan Gempol didudukinya. Baru kemudian Maret 2023, ia ditugaskan sebagai Sekretaris Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Gempol.

Menjadi ASN merupakan hal yang disyukuri. Bisa memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat hal yang utama harus dilakukannya. Karena itulah, ia kini memilih fokus untuk pelayanan kepada masyarakat.

Ia mengakui, sempat ada beberapa tawaran melatih. Seperti ke Mitra Kukar. Namun, kursi kepelatihan itu tak diambilnya. Lantaran pertimbangan pekerjaannya.

“Memang saya harus bisa mengatur waktu. Kalau di staf kecamatan dulu, mungkin masih bisa. Pagi jam 05.00 berangkat melatih. Dan sekitar jam 07.00 ke kantor. Tapi untuk di kelurahan, saya harus pertimbangkan juga untuk mengatur waktu. Berbeda dengan SSB, kan bisa latihan ketika sore hari dan Minggu pagi,” tambah dia.

 

Tergerak Dirikan SSB untuk Cetak Bibit Muda

Kecintaan Asyari Cahyani pada sepak bola cukup besar. Salah satunya, dengan concern di dunia pembibitan atau sekolah sepak bola (SSB). Ia sudah menggeluti SSB sejak 1992 silam.

Ia mengaku terinspirasi dengan pembinaan sepakbola yang ada di Gresik. Banyak berdiri SSB di wilayah setempat. Sementara di Pasuruan saat ini, minim SSB yang didirikan. Padahal, keberadaan SSB sangatlah diperlukan. Agar pelatihan sepak bola lebih terarah.

Photo
Photo
PEMBIBITAN: Asyari Cahyani saat melatih di SSB yang didirikannya. (Asyari Cahyani for Radar Bromo)



“Sejak itulah, saya kemudian mendirikan SSB. Bahkan yang pertama di Pasuruan,” ungkap pelatih berlisensi B nasional atau lisensi C FIFA tersebut.

Ia mendirikan SSB Bina Bola Bisa Jaya Kejapanan tahun 1992. Kala itu, banyak pesepakbola yang berlatih ke SSB miliknya. Tidak hanya dari Gempol. Tetapi juga datang dari Bangil hingga Purwosari dan wilayah lainnya.

Ratusan pesepakbola belia, berdatangan untuk belajar. Bahkan, tidak sedikit yang berhasil diorbitkannya untuk bisa menembus level nasional. Contohnya, Iswandi Yasin yang merupakan pemain Persebaya atau Hermanto, hingga Arif Al Akbar yang sempat menjadi pemain timnas U 15 untuk ke Jepang. Serta sejumlah nama lainnya.

Asyari menegaskan, SSB miliknya tetap eksis hingga sekarang. Meski jumlah pesepakbola yang berlatih, tidak sebanyak seperti sebelumnya. Banyaknya SSB berdiri, menjadi salah satu faktornya.

“Kalau dulu, bisa sampai 200 anak. Sekarang, sekitar 80-an anak. Tidak masalah. Karena keberadaan SSB-SSB, merupakan upaya untuk pengembangan sepakbola bagi generasi muda,” paparnya. (one/mie) Editor : Jawanto Arifin
#persekap #liga 1