Semua yang berbau Tionghoa harus di-Indonesia-kan. Peranakan Tionghoa kemudian harus mengganti nama Cina-nya atas nama nasionalisme.
Kebijakan asimilasi etnis Tionghoa itu diperkuat dengan Keputusan Presiden RI Nomor 240/1967 tentang Kebijaksanaan Pokok Yang Menyangkut Warga Keturunan Asing.
Etnis keturunan Tionghoa dipaksa berasimilasi dengan penduduk pribumi. Mereka harus mengubah namanya supaya terkesan ‘asli’ Indonesia.
Kwee Tik Swan, ketua TNH saat itu mengganti namanya dengan Swananda. Pada 1967, dia juga memprakarsai pergantian nama Tjhing Nien Hwe menjadi Tunas Nusa Harapan. Kemudian diganti lagi dengan nama Taruna Nusa Harapan.
“Meskipun menghilangkan nama Tionghoa, namun nama baru dari perkumpulan olahraga ini singkatannya tetap TNH. Itu yang dipertahankan oleh Pak Swananda,” kata Ketua Yayasan Budi Dharma Adi Susanto.
Seiring waktu, perkumpulan olahraga itu terus mengalami pergantian nama. Meski tetap berkantor di Gedung Pancasila. Pada 1973, J. Laksmana mengubahnya menjadi POR Panca Dharma. Selang lima tahun kemudian perkumpulan olahraga itu kembali berubah menjadi POR Panca Adhi Dharma.
“Sekarang perkumpulan olahraga itu sudah berada di bawah Yayasan Budi Dharma,” kata Adi.
Dia bercerita, nama yayasan itu merupakan penggabungan antara perkumpulan olahraga dengan bidang kematian warga Tionghoa. Alasannya, untuk menghindari konflik. Karena kota sekecil Pasuruan tidak baik jika terdapat banyak perkumpulan diantara sesama warga etnis Tionghoa.
Sementara aktivitas pendidikan di gedung itu sekarang dibawah naungan Yayasan Pendidikan Pancasila. Di sana ada lembaga pendidikan TK dan SD yang dibuka untuk umum.
Cagar Budaya yang Siap Dipoles
Gedung Pancasila sendiri saat ini merupakan salah satu objek cagar budaya di Kota Pasuruan. “Termasuk objek bangunan cagar budaya. Penetapannya sudah sejak 2020,” kata Agus Budi Darmawan, Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan.
Belum lama ini, Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf melontarkan keinginannya memoles bangunan gedung itu. Keinginan itu timbul setelah melihat megahnya Gedung Harmonie setelah lebih dulu dipoles.
Gus Ipul -sapaan akrab wali kota- berharap Gedung Pancasila nantinya juga bisa kembali menarik perhatian masyarakat. Bedanya sekarang dengan menonjolkan nuansa heritage yang menjadi salah satu destinasi wisata. (tom/mie) Editor : Jawanto Arifin