Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Graha Sanika Satyawada yang Dulunya Sekolah Pendidikan Guru di Era Belanda

Jawanto Arifin • Minggu, 24 April 2022 | 16:01 WIB
SERBAGUNA: Graha Sanika Satyawada yang dahulunya kweekschool (inset) yang di era kolonial menjadi tempat untuk pendidikan guru pertama sebelum mengajar di sekolah. (Foto: Rizky Putra Dinasti-Budi for Jawa Pos Radar Bromo)
SERBAGUNA: Graha Sanika Satyawada yang dahulunya kweekschool (inset) yang di era kolonial menjadi tempat untuk pendidikan guru pertama sebelum mengajar di sekolah. (Foto: Rizky Putra Dinasti-Budi for Jawa Pos Radar Bromo)
DI zaman kolonial dahulu, Belanda juga sudah memperhatikan pendidikan di Nusantara. Bukan hanya mengembangkan sekolah. Belanda dulu juga memiliki Kweekschool. Suatu jenjang pendidikan resmi yang harus diikuti seseorang untuk menjadi guru. Di Kota Probolinggo salah satunya.

Kweekschool dibentuk sebagai keputusan dari Raja Belanda, tanggal 30 September 1848, tentang pembukaan sekolah dasar khusus pribumi (Inlandsche School). Sehingga untuk memenuhi kebutuhan guru di sekolah-sekolah tersebut, dibuka sekolah pendidikan guru pertama pada 1852 di Surakarta.

Setelah di Surakarta, berturut-turut didirikan sekolah sejenis di Bukittinggi (Fort de Kock tahun 1856); Tanah Baru, Tapanuli tahun 1864; Tondano tahun 1873; Ambon tahun 1874; Probolinggo tahun 1875, Banjarmasin tahun 1875, Makassar tahun 1876, dan Padang Sidempuan tahun 1879.

Photo
Photo
CALON GURU: Siswa di kweekschool yang sedang belajar. (Foto: Budi for Jawa Pos Radar Bromo)

Photo
Photo
AWET: Kweekschool saat di zaman kolonial dulu. (Foto: Budi for Jawa Pos Radar Bromo)



Nah, sisa-sisa peninggalan kweekschool di Probolinggo kini masih ada. Bahkan bangunannya terawat dan masih dimanfaatkan. Lokasinya berada di Jalan dr Moh Saleh. Berada di kawasan markas Polres Probolinggo Kota. Hanya, namanya kini berganti menjadi Graha Sanika Satyawada.

Achmad Budiman Suharjono, pemerhati sejarah asal Kelurahan, Gentong Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan menerangkan, kweekschool di Probolinggo untuk pertama kali diresmikan tanggal 2 Januari 1875. Saat itu diresmikan oleh Residen Probolinggo, J. Kniphorst, yang sebelumnya menjabat sebagai Asisten Residen di Malang. Peresmian sekolah juga dihadiri oleh Bupati Probolinggo.

“Jumlah murid pertama sebanyak 41 orang, dan masih tersisa lowongan untuk 9 orang. Sesuai kapasitas sebanyak 50 orang,” terang pria 54 tahun itu.

Di tahun 1927, pemerintah kolonial membuat kebijaksanaan baru dalam bidang pendidikan. Sebelas kweekschool di berbagai wilayah di Nusantara ditutup, akan digantikan hanya 5 kweekschool tipe baru. Untuk daerah luar Jawa akan didirikan di Medan dan Ambon. Di Jawa Barat ada di Bandung. Untuk Jawa Tengah di Jogjakarta atau Purwokerto, dan untuk Jawa Timur di Blitar.

Kweekschool di Probolinggo memang tidak dikembangkan. Tetapi sudah bisa mencetak tenaga pendidik yang tujuannya memang untuk meningkatkan kualitas guru. “Akhirnya setelah 52 tahun, menghasilkan guru-guru pribumi untuk wilayah Jawa Timur dan sekitarnya. Di pertengahan tahun 1927, kweekschool yang ada di Probolinggo ini ditutup. Fasilitas sekolah ini dipindah ke Blitar,” imbuhnya.

Dari bekas gedung sekolah ini, kemudian digunakan untuk sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) afdeeling der AMS (Algemeene Middelbare School). Sejenis sekolah SMP di zaman sekarang, dengan masa belajar yang ditempuh selama tiga tahun. Para calon murid lulusan HIS atau setingkat SD, dapat melanjutkan studi di sekolah ini.



“Lewat penelusuran foto lama dan peta kuno tahun 1882, dapat diketahui lokasi kweekschool atau MULO ini dulunya ada di Weduwe Straat. Sekarang Jalan dr Moh. Saleh. Bekas gedung sekolah ini sekarang digunakan sebagai gedung serbaguna Graha Sanika Satyawada, di kompleks milik Polres Probolinggo Kota,” terangnya.

 

Bangunan Asli Tak Banyak Berubah

Meski sudah puluhan tahun, gedung nyaris tidak berubah dari aslinya. Hanya ada tambahan teras dan empat pilar baru. Tiga pintu utama di depan, serta dua jendela besar di kanan kirinya. “Mudah-mudahan masih yang aslinya. Kalau masih asli, maka layak gedung ini menjadi salah satu cagar budaya atau heritage building di Kota Probolinggo,” tandas Achmad Budiman Suharjono.

Pria yang banyak memiliki referensi sejarah ini menyebutkan, sisa bangunan kweekschool di Probolinggo juga masih kokoh. Karena arsitek pembangnan yang dibuat pada zaman belanda memang tak main-main.

Seperti bangunan Graha Sanika Satyawada. Gedung Putih yang digunakan sebagai bangunan serbaguna milik Polres Probolinggo Kota. Walau sudah beberapa generasi dan pemanfaatannya sangat lama, sampai kini kondisinya masih layak.

Plt Kasi Humas Polresta Iptu Zainullah Regama menerangkan bahwa untuk bangunan gedung putih tersebut sampai saat ini masih kokoh. Zainullah menyebut, tidak banyak perubahan di dalamnya.

Lantaran gedung tersebut masuk dalam bangunan tua, maka informasi yang ia terima gedung tersebut oleh pemkot akan dimasukkan dalam salah satu cagar budaya di Kota Probolinggo. Bangunan berciri khas era Belanda tersebut tentuya sudah diperhitungkan dengan matang. Pasalnya tinggi gedung membuat ruangan yang ada dingin tanpa adanya AC.

“Dulu kan belum ada AC atau kipas angin. Dan itu juga sudah diperhitungkan dengan tinggi bangunan. Sehingga lebih dingin,” tuturnya.



Untuk saat ini gedung putih tersebut banyak digunakan baik pada sejumlah acara yang ada di jajaran Polres Probolinggo Kota. Seperti beberapa waktu lalu saat ada acara launching inovasi yang diresmikan Wakapolda Jawa Timur, Brigjen Pol Slamet Hadi Supraptoyo dan dihadiri Forkopimda Kota dan Kabupaten Probolinggo. (rpd/fun) Editor : Jawanto Arifin
#Kota Probolinggo #bangunan cagar budaya #kweekschool #Polresta Probolinggo #graha sanika satyawada