Konon, dulunya alun-alun menjadi tempat yang paling penting dalam suatu daerah. Yang utama, difungsikan menjadi pusat latihan perang bala pasukan kerajaan. Karenanya, bentuk alun-alun pada masa itu sangat berbeda dengan sekarang. Hanya sebuah lahan lapang yang berada di pusat pemerintahan.
Namun, memang tidak ada literatur yang secara khusus menceritakan kondisi Alun-alun Kota Pasuruan pada masa itu. Baru pada masa kekuasaan Bupati Pasuruan Nitiadiningrat I, di sebelah barat alun-alun itu dibangun Masjid Agung Al-Anwar. Masjid itu dibangun oleh Mbah Slagah atas permintaan Nitiadiningrat I.
Selepas itu, alun-alun menjadi kawasan ruang sipil. Terkadang menjadi tempat diselenggarakannya sayembara. Sesekali juga menjadi tempat upacara perayaan bagi masyarakat. Bahkan, pemerhati sejarah Budiman Suharjono menyebut pada 1929, alun-alun sudah menjadi pusat keramaian. Saat itu digelar pasar malam yang dinamakan Pasar Malem Tiong Hwa Hwee Kwan.
”Kemungkinan berlokasi di Alun-Alun Kota Pasuruan karena desain pintu gerbangnya sangat mirip dengan desain yang ada di alun-alun,” kata Budiman.
Di pasar malam itu terdapat berbagai stan produk, pentas tari, musik, dan restoran. Semua tersedia dalam satu tempat yang sama. Suasana pasar malam itu tampak indah dengan berbagai lampu hias yang meriah. Ada lampu sorotnya juga.
Setelah masa perjuangan kemerdekaan, Presiden Soekarno bahkan sempat berkunjung ke Kota Pasuruan. Proklamator Indonesia itu berpidato di sisi utara alun-alun dalam lawatannya pada 1950. Budiman mengatakan, kedatangan Bung Karno juga meresmikan kawasan Alun-Alun Kota Pasuruan.
”Dari penuturan masyarakat, peresmian itu ditandai dengan prasasti yang terletak di tugu alun-alun. Tapi, sekarang prasasti itu sudah tidak ada, hilang,” katanya.
Tidak hanya itu. Alun-alun juga menjadi tempat digelarnya rapat umum warga kota guna mendukung kembalinya Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia pada 1954. Bahkan, upacara HUT Kemerdekaan RI juga pernah digelar di alun-alun. Salah satunya dibuktikan dengan dokumentasi Departemen Penerangan Kota Pasuruan tahun 1957.
Menjadi Tempat Rekreasi Keluarga
Seiring dengan waktu, wajah Alun-Alun Kota Pasuruan terus berubah dan berkembang menjadi ruang terbuka yang lebih ramah pengunjung. Kawasan alun-alun terus disempurnakan. Menjadi salah satu penopang ruang terbuka hijau di Kota Pasuruan. Bahkan, saat ini, menjadi salah satu tempat favorit rekreasi keluarga.
Fasilitasnya cukup lengkap. Alun-alun digubah menjadi taman yang asri. Ditanami beragam tanaman. Ada suguhan air mancur di sekeliling tugu. Bahkan, pengunjung bisa melihat beberapa ekor burung terbang ke sana kemari sembari duduk bersantai di bangku taman.
Di samping itu, ada pula fasilitas bermain bagi anak-anak. Ada ayunan, papan luncur, dan permainan lain. Kawasan jantung kota itu sekaligus merupakan pusat perekonomian warga kota. Di sekelilingnya terdapat pedagang kaki lima yang menjajakan beragam menu kuliner.
Dalam waktu yang akan datang, alun-alun masih akan dipugar lagi. Kali ini dengan gagasan wisata religi terintegrasi. Wisata ini bakal menjadi sektor andalan masa depan Kota Pasuruan. Salah satunya, pembangunan bangunan kolosal payung Madinah di sekeliling alun-alun. Rencana itu bakal menunjang sektor wisata religi. Sebab, makam KH Abdul Hamid menjadi daya tarik utama bagi masyarakat luar kota untuk berkunjung ke Kota Pasuruan. (tom/far) Editor : Jawanto Arifin