Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Titik Nol Kota Probolinggo yang Pernah Mengalami Pergeseran Lokasi

Jawanto Arifin • Minggu, 10 April 2022 | 22:40 WIB
TUGU TITIK NOL: Penanda titik nol di selatan Rumah Makan Sumber Hidup. (Rizky Putra Dinasti/Radar Bromo)
TUGU TITIK NOL: Penanda titik nol di selatan Rumah Makan Sumber Hidup. (Rizky Putra Dinasti/Radar Bromo)
Perbincangan tentang titik nol Kota Probolinggo lebih menarik dari sisi sejarah. Warga kota tidak lagi menganggapnya memiliki fungsi penting. Mengapa?

--

Titik Nol Kota Probolinggo diketahui bergeser dari lokasi semula. Titik nol itu berada di depan Mako Kodim/0820. Pada sekira tahun 1942, titik nol yang dibuat oleh Belanda itu dicabut untuk mengecoh tentara Jepang.

Achmad Budiman Suharjono, pemerhati sejarah asal Kota Pasuruan, menerangkan, referensi tentang titik nol Kota Probolinggo dia dapat dari media cetak Asia-Raya edisi Rebo 1 Djoeli 2602–No. 62 dengan judul Tiang K.M Baroe. Berdasar tulisan itu, pria 54 tahun tersebut yakin bahwa dulu, pemerintah Belanda membuat titik nol tepat di depan karesidenan. Saat ini ya markas Kodim/0820 itu.

Photo
Photo
TITIK LAMA: Lokasi bekas Pal Titik Nol Kota Probolinggo di depan Kodim Probolinggo. (Istimewa)

”Titik nol itu berfungsi sebagai patokan saat pengukuran jarak antarwilayah. Baik antara kota hingga antarnegara,” paparnya.

Saat itu, titik nol juga berfungsi sebagai referensi lokasi pembangunan berbagai infrastruktur di suatu wilayah. Selain itu, digunakan untuk menghitung biaya kedinasan seorang pegawai. Misalnya, dinas luar berapa kilometer.

”Nah, karena saat itu penguasanya karesidenan, titik nol ditempatkan di depan karesidenan,” terang Budiman Sabtu (9/4) sore.



Pada sekitar tahun 1942, Jepang masuk dan mulai menjajah Indonesia. Pemerintah Belanda sengaja mencabut pal yang digunakan sebagai penanda titik nol tersebut. Harapannya, Jepang bingung soal wilayah.

Tapi, menurut referensi yang dia baca di media tersebut, pencabutan Pal titik nol ternyata tidak berpengaruh terhadap pemerintahan Jepang saat itu. Pal titik nol di peta ditandai dengan huruf P.

Nah, ada kemungkinan, yang memasang kembali P di titik tersebut adalah pemerintah Belanda. Namun, hanya dengan kira-kira. Sebab, jika dilihat di peta, lokasinya saat ini berpindah sedikit ke selatan Rumah Makan Sumber Hidup. ”Atau, bergeser beberapa meter dari titik awal,” tandasnya.

Photo
Photo
BERGESER: Patok titik nol tepat di selatan Rumah Makan Sumber Hidup. (Rizky Putra Dinasti/Radar Bromo)

Era Sekarang Tidak Dipentingkan

Seiring perkembangan teknologi, fungsi titik nol tidak terlalu menjadi acuan. Bahkan, sering terjadi, jarak tempuh suatu lokasi tidak sama. Antara jarak dari titik nol dan jarak diukur dari titik koordinat dalam aplikasi modern. Yaitu, Global Positioning System (GPS) atau Sistem Pemosisi Global.

Saat ini, seseorang yang hendak bepergian cukup membuka aplikasi berbasis internet tersebut. Langsung bisa melihat jarak tempuhnya. Tak perlu mengetahui titik nol lebih dulu. Akurasi aplikasi teknologi ini dinilai lebih tinggi. Mudah pula dipakainya.

Menurut Achmad Budiman Suharjono yang juga pemerhati sejarah wilayah Tapal Kuda ini, dulu pal titik nol memang difungsikan untuk menghitung jarak. Termasuk jarak rute perjalanan. Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi, jarak suatu tempat bisa diketahui dengan mudah.  Cukup mengaktifkan Google Map atau aplikasi ojek online.



”Sudah ada keterangan jalur yang ditempuh dan jalur alternatif yang disarankan jika terjadi macet. Sehingga fungsi titik nol itu kurang diperhatikan lagi,” terangnya.

Meski demikian, pemerintah tetap memperbarui tanda pal titik nol pada 2019. Dibangun lagi penanda di trotoar tengah kota. Masyarakat yang mulanya tidak tahu lokasi tersebut merupakan titik nol kini malah tahu secara jelas. Pada awal pembangunan, lokasi itu bahkan dijadikan tempat berfoto-foto. (rpd/far) Editor : Jawanto Arifin
#dulu dan kini