Munculnya ikon baru berupa jam kota di Perempatan Penjara mengingatkan warga Kota Pasuruan pada tugu serupa di Perempatan Kumala. Lebih-lebih tugu jam tersebut menggantikan monumen Adipura di tempat yang sama. Ternyata ada ikon serupa di Perempatan Balai Kota.
Bentuknya klasik. Tugu jam di Perempatan Penjara itu memang baru. Dibangun belum lama. Namun, ikon kota tersebut sebenarnya merupakan replika dari tugu jam yang pernah menghiasi kota pelabuhan ini. Di era kolonial Belanda, Kota Pasuruan memang sudah memiliki tugu jam prapatan (simpang empat). Berdasar literatur sejarah, tugu jam bahkan ada di dua lokasi.
Yang pertama, tugu di Perempatan Kumala. Yang kedua, tugu jam di perempatan Jalan Balai Kota. Keduanya memiliki bentuk yang sama. Mirip dengan tugu jam yang baru-baru ini dibangun Pemkot Pasuruan di Perempatan Penjara. Modelnya sederhana. Ditopang tiang yang diameternya mengecil ke atas.
Jam itu sendiri berbentuk segi empat. Menampilkan petunjuk waktu di empat penjuru jalan. Tampilannya juga hanya memadukan warna gelap dengan putih terang. Bedanya, tugu jam di perempatan Balai Kota zaman dulu dilengkapi dengan papan penunjuk arah. Dalam laporan berjudul 25 Tahun Desentralisasi di Hindia Belanda, ada potret tugu jam itu. Gambar diambil dari sisi utara.
Yang terlihat tidak hanya jarum-jarum jam, tetapi juga papan penunjuk arah jalan. Seperti arah ke Bangil di barat. Probolinggo di arah timur. Gambar tersebut diperkirakan diambil sekitar tahun 1928. Namun, tak diketahui secara pasti, kapan tugu jam di perempatan Balai Kota itu dibangun.
Buku laporan tersebut lebih banyak menampilkan hasil pembangunan kolonial Belanda semasa 1905 hingga 1930. Kota Pasuruan termasuk daerah yang menjadi objek pembangunan tersebut. Buktinya, masih terlihat hingga sekarang. Betapa kota dengan empat kecamatan ini masih memiliki banyak gedung klasik yang bersejarah.
Nah, salah satu kawasan elite bagi kolonial Belanda di Kota Pasuruan berpusat di Jalan Pahlawan hingga Jalan Balai Kota. Hal itu juga diungkapkan Budayawan Kota Pasuruan Roemlatif. ”Memang jalan itu menjadi kawasan elite bagi orang Belanda waktu itu,” katanya.
Kawasan tersebut merupakan pusat pemerintahan kolonial. Gedung pemerintahan semasa kolonial tidak berada di Jalan Pahlawan, tetapi di Jalan Balai Kota. Tepatnya, gedung yang sekarang menjadi kantor DPRD Kota Pasuruan.
Kawasan tersebut terus berkembang. Hingga menjadi hunian elite bagi orang-orang Belanda. Ada beberapa hotel yang dibangun di sana. Salah satunya Hotel Tonjes yang sekarang menjadi kantor Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset. Sedangkan gedung Bank Jatim di Jalan Pahlawan dulunya merupakan sebuah guest house.
”Makanya banyak bangunan bersejarah yang bisa ditemukan di kawasan itu,” kata Roemlatif.
Hilang setelah Tahun 1950-an
Mengenai tugu jam perempatan Balai Kota, Roemlatif memastikan dirinya pernah menyaksikan sendiri secara langsung. Namun, dia mengaku tak ingat kapan terakhir tugu tersebut menghiasi perempatan Balai Kota. Dia memperkirakan, bangunan itu sudah lenyap setelah 1950-an.
”Beberapa tahun setelah kemerdekaan masih ada,” ujar mantan Ketua Dewan Kesenian Kota Pasuruan itu.
Menurut Roemlatif, tugu jam perempatan itu dulu menjadi salah satu ikon yang membanggakan. Bahkan, warga kota banyak terbantu dengan adanya jam di perempatan jalan tersebut. ”Tugu jam menjadi sesuatu yang sangat penting,” ungkap Roemlatif.
Tugu jam di perempatan Balai Kota maupun Kumala menjadi acuan bagi warga untuk mengetahui waktu. Dua lokasi tersebut bahkan menjadi jujukan banyak orang di saat-saat tertentu. Yang paling sering sore hari. Ketika sebagian besar warga sudah selesai bekerja.
”Dulu setiap setelah Asar, sudah banyak orang yang datang ke perempatan itu. Untuk apa? Hanya untuk mencocokkan jamnya,” kata Roemlatif. (tom/far) Editor : Ronald Fernando