Edi Martono, pembina Komunitas Bumi Banger, menceritakan, ANIEM merupakan perusahaan swasta yang diberi hak untuk membangun dan mengelola sistem kelistrikan di Indonesia pada masa itu.
ANIEM, perusahaan berada di bawah NV. Handelsvennootschap yang sebelumnya bernama Maintz and Co. Perusahaan tersebut berkedudukan di Amsterdam dan masuk pertama ke Surabaya pada akhir abad ke-19 dengan mendirikan perusahaan gas bernama Nederlandsche Indische Gas Maatchappij (NIGM).
Ketika ANIEM berdiri pada 1909, perusahaan ini diberi hak untuk membangun beberapa pembangkit tenaga listrik berikut sistem distribusinya di kota-kota besar di Jawa. Dalam waktu tidak lama, ANIEM berkembang menjadi perusahaan listrik swasta terbesar di Indonesia. Memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan listrik di negeri ini.
”Saya punya bukunya. Dan, dulu, saya juga bekerja di PLN mulai 1987 hingga 2016 sebagai cleaning service,” terangnya.
Karena suka sejarah, pria 50 tahun itu pun mempelajari sejarah PLN tersebut. Pria yang tinggal di Jl Cempaka, Kelurhan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, itu menambahkan, kantor ANIEM dulu masih berada di titik awal saat ini, yakni di Jl dr Soetomo, Kota Probolinggo. Hanya, kondisinya tentu berbeda dengan sekarang.
Dulu, gardunya model jaringan tanam. Setidaknya ada sekitar 16 lebih gardu di Kota probolinggo. ”Dulu jaringan masuk ke dalam tanah. Jadi, tidak ada jaringan atau kabel yang lewat atas,” bebernya.
Namun, lanjut Edi, semua ada plus dan minusnya. Jaringan di dalam tanah kabelnya tentunya lebih kuat lantaran menggunakan kuningan. Namun, lebih berat serta daya hilang listrinya lebih besar. Kalau jaringan yang ada di atas pakai tembaga yang secara bobot lebih ringan. ”Kebocoran atau yang sering disebut turun voltase itu lebih sedikit,” bebernya.
Edi menambahkan, jika ada perbaikan, tingkat kesulitan dan biaya perawatan di bawah tanah lebih mahal daripada jaringan di atas. Namun, untuk frekuensi terjadi korleting lebih sering di atas karena biasanya terkena pohon.
”Kalau jaringan tertempel pohon saja bisa langsung korslet dan padam di satu wilayah. Jadi, tetap harus dicari di mana yang kena pohon,” ucapnya.
Banyak Jaringan Dibiarkan di Dalam Tanah
Meski terjadi perubahan dari ANIEM ke PLN, termasuk perubahan saluran jaringan, material jaringan yang ada di dalam tanah dipertahankan. Sebab, jika diambil, biayanya jauh lebih besar daripada harga jualnya.
”Dulu itu kedalamanya satu meter. Namun, saat ini, bisa bermeter-meter. Sebab, tanah makin meninggi. Jika diambil, harus dibongkar. Itu makan biaya,” ucap Edi martono, pegiat sejarah yang tergabung dalam Komunitas Bumi Banger Kota Probolinggo.
Edi mengaku ingat betul. Pada 1953, segel meteran masih menggunakan kawat seperti koin. ”Sekarang tidak ada. Bahkan, petugas PLN pun saya yakin tidak ada yang punya segel seperti ini. Ini segel meteran pada 1953,” ucap Edi sembari menunjukan contoh segel miliknya. Termasuk, model meteran pada tahun itu.
Saat ini gedung ANIEM tetap berfungsi sebagai gedung PLN. Namun, belasan gardu yang ada di titik kota sudah lama tak terpakai. Di antaranya, di Jalan Cokroaminoto, Simpang Empat Jl A. Yani, dan di depan pojokan KDS.
”Gardunya masih ada. Dan, itu ada pajaknya hingga kini. Karena itu milik negara, jika ada yang merusak ataupun disalahfungsikan, bisa dituntut dan dihukum,” tandasnya. (rpd/far)
Editor : Muhammad Fahmi