Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menelisik Sejarah Tradisi Senenan, Momen Perayaan Lebaran yang Kini Sudah Menghilang

Fahrizal Firmani • 2024-09-08 17:00:00
ACARA SENENAN: Kegiatan Senenan yang diselenggarakan di Pasuruan pada masa dahulu. Acara tersebut sekarang, sudah tidak lagi digelar.
ACARA SENENAN: Kegiatan Senenan yang diselenggarakan di Pasuruan pada masa dahulu. Acara tersebut sekarang, sudah tidak lagi digelar.

Hari Raya Idul Fitri atau yang lebih dikenal dengan sebutan lebaran, sudah dirayakan oleh masyarakat Pasuruan sejak dahulu.

Berbagai kegiatan biasanya dilakukan, untuk memperingati hari raya umat Islam, yang jatuh setiap 1 Syawal tersebut.

Yang paling dikenal adalah Senenan. Tradisi yang sayangnya saat ini, sudah punah.

Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menyebut, perayaan lebaran oleh masyarakat di masa lampau, bisa dilihat dari surat edaran yang dikeluarkan Residen Pasuruan.

Salah satu istilah perayaan lebaran yang dikenal pada masa itu, adalah Bieran (Bieranfeest).

Kemungkinan kata ini, berasal dari kata takbiran. Karena banyaknya masyarakat yang melakukan takbiran, menyambut hari raya besar Islam itu.

Residen Pasuruan saat itu, Carl Philip Conrad Steinmetz, menyebut dengan istilah berbeda. Bukan lebaran, melainkan Harie Aija Ramlan.

"Kemungkinan maksudnya adalah Hari Raya Ramadan. Hari besar yang dirayakan setelah berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan," kata Budiman.

Dalam surat resmi itu disebutkan, Harie Aija Ramlan jatuh pada Sabtu, 15 Mei 1853.

Bertepatan dengan 1 Syawal 1274 Hijriah. Pada masa itu, yang menjabat menjadi Bupati Pasuruan adalah Kanjeng Adipati Ario Niti Adiningrat IV.

Dalam surat resmi itu disebutkan, susunan acara memperingati lebaran.

Yakni pada pukul 9 pagi, bupati hadir bersama para patih, penghulu besar, kepala jaksa, penilai, wedono, kliwon hingga demang berkumpul di stasiun.

Mereka menuju lokasi dengan berjalan kaki. Berseragam kebesaran dan menggunakan baju perang.

Baju perang yang dipakai saat itu, model India kuno. Yaitu dodok, ikat pinggang, keris dan kuluk.

Tubuh bagian atas telanjang dan diberi warna kuning. Seperti upacara pernikahan atau upacara turnamen yakni Senenan.

Dilanjutkan perjalanan ke rumah residen. Di mana para penduduk dan pejabat Eropa yang diundang untuk acara ini, telah bersiap.

Pada pukul 09.30, dengan isyarat tembakan penghormatan, para bupati dan disusul kepala daerah memberikan penghormatan pada residen seperti biasa.

Setelah residen menanggapi kata sambutan awal dari bupati, maka mereka yang hadir lainnya disambut oleh residen.

Acara pulang berlangsung sama seperti saat mereka datang. Kemudian pukul 17.00, diadakan acara Senenan di Alun-alun.

Dengan mengundang semua yang hadir dalam resepsi di rumah residen, beserta keluarganya.

Senenan ini semacam lomba ketangkasan berkuda dan menggunakan senjata tombak.

Namun, bukan menggunakan tombak yang tajam. Melainkan tombak yang berujung lentur atau tumpul.

Kemudian malamnya, sekitar pukul 20.00 diadakan kunjungan ke rumah bupati, dengan mengundang orang yang hadir di rumah residen.

Saat mendatangi rumah bupati, pegawai Eropa dan pribumi diminta menggunakan seragam kebesaran.

Susunan acara ini dibuat oleh residen sehari sebelumnya. Atau pada hari terakhir di bulan puasa Ramadan.

"Peringatan lebaran sudah dikenal oleh masyarakat tempo dahulu. Namun sayangnya, tradisi Senenan sudah hilang," tutur Budiman. (riz/one)

 

MAHAL: Acara Senenan identik dengan biaya yang mahal. Selain itu, kuda merupakan kendaraan identik pada kegiatan tersebut.
MAHAL: Acara Senenan identik dengan biaya yang mahal. Selain itu, kuda merupakan kendaraan identik pada kegiatan tersebut.

Tidak Selalu dilakuian di Hari Senin

Dalam tradisi kuno Jawa, suatu acara dinamakan sesuai dengan nama harinya. Biasa dilakukan di hari Senin maka disebut dengan Senenan. 

Karena itu, diperkirakan awalnya, tradisi ini diadakan setiap seminggu sekali pada hari Senin. Untuk melatih ketangkasan prajurit dalam berkuda.

Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menyebut, lambat laun tradisi Senenan diadakan sekali atau beberapa kali saja dalam setahun.

Ini karena semakin berkurangnya peperangan. Senenan juga tidak terpaku diadakan setiap hari Senin.

Pada kegiatan Senenan tahun 1858, tradisi ini diadakan bukan di hari Senin. Melainkan di hari Sabtu.

Di Sidoarjo, tradisi yang diadakan pada 1881 ini, berlangsung Sabtu. Yang diadakan tepat di hari Senin adalah di Probolinggo pada 1880.

Tradisi ini tercatat pertama kali dalam ekspedisi kedua Belanda pada 1598 yang dipimpin oleh Jacob Van Neck.

Kapal ini mendarat di Banten, sebelum melanjutkan perjalanan ke Tuban. Saat tiba di Tuban, di Alun-alun Tuban berlangsung Senenan. Disebut "Javaansch/Inlandsch Tournooi" atau Festival Jawa/pribumi.

 

 

"Disebutkan dalam laporan ekspedisi ini, dua orang ksatria berkuda berbaju dan bertopeng besi dengan tombak panjang saling berlomba menjatuhkan satu sama lain," kata Budiman.

Tradisi dan suasana Senenan diceritakan oleh Willem Kooiman dalam jurnalnya De Hollandsche Lelie pada 1905-1906.

Disebutkan, ketika puasa telah berakhir, seluruh masyarakat keluar dengan pakaian terbaik mereka yang berwarna-warni.

Anak-anak juga ikut keluar dengan membawa kue yang diikat dengan kain.

Para pria mengenakan sarung dan keris di pinggang. Sementara perempuan, memakai sarung batik dan berbaju beludru.

Tidak lupa, gelang di pergelangan tangan dan selendang cantik yang menggantung di pundak.

Mereka tampak memenuhi Alun-alun. Di tribun terlihat, pejabat Eropa dan pribumi beserta bupati.

Mereka duduk dan berdiri seraya bersorak, melihat pertunjukan yang disuguhkan, setiap melihat dua orang berkuda masuk ke dalam arena.

Mereka berkuda mengejar satu sama lain dengan kecepatan tinggi. Mereka berupaya saling menjatuhkan, dari pelana menggunakan tombak, atau menjatuhkan tombak dari tangan. Dengan demikian melucuti senjata lawan.

Senenan diakhiri dengan arak-arakan mengelilingi Alun-alun oleh bupati. Beberapa masyarakat memilih tetap di areal setempat.

Menikmati aneka jajanan yang dijual. Tradisi ini selalu berlangsung meriah dan diadakan di sejumlah kota.

Dengan berjalannya waktu, tradisi ini tidak terbatas pada perayaan lebaran saja. Juga diadakan di hari istimewa lain.

Di Pasuruan, dalam perayaan 50 tahun berkuasanya pangeran Ario Niti Adiningrat juga mengadakan tradisi ini. Di Surabaya, tradisi ini menjadi rangkaian kegiatan Mauludan.

"Tradisi Senenan terpatau diadakan oleh berbagai kota di Jawa. Antara lain, Pasuruan, Probolinggo, Surabaya, hingga Mojokerto," tutur Budiman. (riz/one)

 

TEMPAT SENENAN: Area Alun-alun Kota Pasuruan yang dahulu, sempat menjadi tempat kegiatan Senenan.
TEMPAT SENENAN: Area Alun-alun Kota Pasuruan yang dahulu, sempat menjadi tempat kegiatan Senenan.

Dilarang hingga Biaya Tidak Murah

Hilangnya tradisi "Senenan" dari perayaan lebaran masyarakat Pasururuan, kemungkinan terkait kebijakan Gubernur Jendral Van Heutz (periode 1904-1909).

Ia melarang dan memotong anggaran acara-acara adat. Karena dianggap pemborosan.

Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menyebut tradisi ini hilang bisa jadi penyebab lainnya.

Seperti munculnya mode transportasi baru. Sebelum muncul mode transportasi modern, kuda adalah alat transportasi utama.

Banyak dimiliki dan dipelihara oleh para pejabat (kaum priyayi) dan masyarakat pribumi.

Namun karena tergerus perkembangan zaman, transportasi kuda tidak diminati lagi. Sehingga makin jarang dipelihara, makin sulit mencari kuda terbaik.

Adanya fasilitas seperti sepeda, mobil hingga kereta api, menyebabkan para pejabat dan petinggi, jarang naik kuda lagi.

Selain itu "Perkakas Senenan" juga tidak murah. Tergolong mewah dan mahal.

"Kuda sebagai alat utama tradisi ini, saat itu menjadi transportasi utama. Karena kemajuan zaman, yang memiliki kuda juga jarang," terang Budiman.

Selain kostum peserta, yang mirip kostum "Wayang Orang", pernak-pernik perhiasan khusus yang dipasang di kuda, harganya mahal.

Semakin bagus, tentu semakin mahal. Dan ini menunjukkan status dan kedudukan para pesertanya.

Karena ongkos yang tidak murah, diduga hanya di daerah-daerah yang cukup makmur saja waktu itu, yang dapat menyelenggarakan acara ini.

 

 

Biaya "Perkakas Senenan", kabarnya rata-rata seharga 300 Gulden. Yang istimewa bisa mencapai 800 hingga 1000 Gulden

"Mahalnya perkakas Senenan ini, selain karena menggunakan lempengan tembaga, ada juga yang memakai perak dan emas," ungkap dia.  

Di tahun setelah periode Gubernur Jenderal Van Heutz, setelah 1909, tradisi ini sudah sangat jarang dijumpai.

Hanya diadakan beberapa kali saja. Di probolinggo, tradisi yang sudah lama menghilang ini, sempat dihidupkan kembali pada 1930 oleh Bupati Probolinggo saat itu, Raden Adipati Ario Poedjo dalam acara tahunan paguyuban peternak.

Kebetulan, saat itu banyak wedono yang masih menyimpan perkakas untuk tradisi ini.

Meski kemahiran peserta tidak sebaik para pendahulu mereka. Namun lambat laun, tradisi ini pun menghilang.

"Setelah masa pendudukan Jepang dan era kemerdekaan, tidak ditemukan tulisan tentang tradisi ini," paparnya. (riz/one)

Editor : Ronald Fernando
#lebaran #tradisi #budaya #Senenan