Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Belanda di Jalur Wisata Bromo via Pasuruan

Jawanto Arifin • Minggu, 4 Juni 2023 | 20:30 WIB
EKSOTIS: Tikungan menuju Baledono, Tosari saat dipotret tahun 1930-an. (Istimewa)
EKSOTIS: Tikungan menuju Baledono, Tosari saat dipotret tahun 1930-an. (Istimewa)
KEINDAHAN Bromo sudah dikenal sejak dulu kala. Di zaman penjajahan Belanda pun, Bromo sudah jadi destinasi favorit. Jalur wisata sudah dibangun saat itu.

Eksotisnya Bromo tak lekang zaman. Sejak zaman pra-kemerdekaan Indonesia, Bromo sudah jadi favorit warga mancanegara.

Pada zaman penjajahan Belanda, Bromo sudah jadi destinasi favorit orang-orang Belanda untuk berlibur. Hal itu terlihat dengan pembangunan jalan Bromo yang masuk prioritas kala itu.

Berdasarkan sejumlah literasi, jalur Bromo kawasan Penanjakan Pasuruan sudah dimulai sejak 1925. Fatkhul Arif, salah seorang pemerhati sejarah di Pasuruan mengatakan, sejak zaman penjajahan, jalan ke Bromo sudah bisa dilewati kendaraan bermotor.

“Kalau dulu sekali yang lewat adalah kuda dan tandu. Tapi, semenjak orang-orang Belanda datang, mereka juga membawa kendaraan bermotor," kata Fatkhul.

Kendaraan bermotor diperkirakan, kali pertama melintasi Bromo pada April 1928. Menurut Fatkhul, yang datang kala itu adalah klub motor yang memecahkan rekor mencapai ketinggian. Sedangkan untuk mobil malah diperkirakan dalam waktu hampir bersamaan.

Photo
Photo
VIEW MENAWAN: Sejumlah cyclist menikmati tikungan tajam jalur Bromo di Tosari dalam gelaran Suropati Race, beberapa waktu lalu. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)



"Ada catatan bahwa klub mobil dan motor mencoba memecahkan rekor ketinggian. Mereka datang ke Tosari sekitar 1928 itu," ceritanya.

Kala itu, yang mengendarai motor dan mobil baru orang-orang Belanda. Sedangkan warga pribumi masih menggunakan transportasi tradisional. Seperti kuda dan tandu. Warga Tengger kala itu menjual hasil buminya masih menggunakan pikulan. “Kalau dilihat sampai kini memang banyak sekali perubahan yang terjadi," ungkapnya.

Photo
Photo
NIKMATI KEINDAHAN: Klub motor pertama yang mencapai pondok kayu di Penanjakan Bromo pada April 1928. (Sumber: Bataviaasch Niewsblad)

Photo
Photo
MASIH MANUAL: Sejumlah tenaga pribumi saat dikerahkan untuk pembangunan jalan di Tosari. (Sumber: Salzwedel)

Belah Tebing untuk Akses ke Lautan Pasir

Akses ke lautan pasir Bromo kini bisa ditempuh dari empat daerah. Mulai Probolinggo, Lumajang, Malang hingga Pasuruan. Jauh berbeda dengan dulu.

Sebelumnya, warga Tengger Pasuruan saat hendak ke lautan pasir, cukup kesulitan. Nah, saat Belanda datang, jalur dari Pasuruan ke lautan pasir pun dibuat. Caranya tak mudah. Dengan membelah tebing dan menjadikan jalur berkelok yang bertahan hingga saat ini.



Fatkhul Arif, salah seorang pemerhati sejarah Pasuruan mengatakan, di kawasan Bromo wilayah Pasuruan, ruas jalan yang dibangun kali pertama adalah jalur menuju Penanjakan. Sebelumnya, jalanan di wilayah setempat hanya jalur setapak.

Pada 1925, ruas jalan itu diperlebar. Seperti di beberapa daerah lain, orang-orang Belanda mengerahkan tenaga pribumi untuk pembangunannya. "Karena kunjungan ke penanjakan meningkat, Belanda kian antusias. Lantas, dibangunlah (ruas jalan ke penanjakan). Jalan setapak diperlebar," ungkap Fatkhul.

Begitu juga dengan jalur menuju lautan pasir. Awalnya, warga Tengger harus memutar bila mau ke lautan pasir. Lewat Kandangan.

Setelah itu, ada ekspedisi pembukaan jalur dengan membelah bukit. "Bukit itu dibelah. Dan jadilah kini jalur yang ada saat ini," bebernya.

 

Pelebaran Jalan Dilakukan Berkelanjutan

Potensi Bromo terus dikembangkan. Pemerintah pusat pun telah menetapkan Bromo sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

Bromo masuk sepuluh destinasi prioritas. Atau dikenal dengan jargon Bali baru. Beberapa program pun diarahkan untuk menunjang Bromo sebagai KSPN.

Salah satunya, pembangunan jalur wisata menuju Bromo. Jalur menuju Bromo terus diperbaiki. Mulai dari Probolinggo, Malang, Lumajang hingga Pasuruan.

Di Probolinggo, pelebaran jalan ke Bromo memanfaatkan anggaran bantuan dari Australia. Yakni Provincial Road Improvement Maintenance (PRIM).



Di Pasuruan, pelebaran tak hanya dilakukan di jalur utama ke Bromo; Pasrepan-Tosari. Jalur Purwodadi – Tosari pun juga telah dilebarkan.

Pelebarannya dilakukan secara multiyears. Atau bertahap. Jalan yang kian nyaman itu tak hanya memudahkan wisatawan. Petani di kawasan Bromo pun banyak terbantu. (sid/mie) Editor : Jawanto Arifin
#dulu dan kini #jalur bromo