Kemarau Cenderung Lebih Kering-Panjang, Masih Berpotensi Hujan Lokal

Fuad Alyzen • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 09:20 WIB
Ilustrasi Kemarau
Ilustrasi Kemarau

PROBOLINGGO, Radar Bromo - Warga Probolinggo dan Pasuruan, harus bersiap menghadapi cuaca panas dan kering. Puncak musim kemarau 2026 diprediksi terjadi bulan ini. Kondisi ini diperkirakan melanda sekitar 70 persen wilayah Jawa Timur.

Kondisi itu sesuai perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo. Prakirawan Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo Rendy Irawadi mengatakan, kondisi kemarau masih akan mendominasi Jawa Timur. Bahkan, musim kering tahun ini diperkirakan berlangsung cukup panjang.

“Puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada Agustus 2026. Sekitar 70 persen wilayah Jawa Timur mengalami puncak kemarau pada periode tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, musim kemarau 2026 diprakirakan berlangsung selama 19 hingga 21 dasarian atau sekitar enam sampai tujuh bulan. Dihitung sejak awal musim kemarau masing-masing wilayah. Dengan durasi itu, kondisi kering dan panas masih berpotensi dirasakan masyarakat hingga Oktober, bahkan awal November 2026.

Meski kemarau mendominasi, Rendy mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap seluruh wilayah Jawa Timur akan sepenuhnya bebas hujan. Sebab, pada periode kemarau tetap terdapat kemungkinan munculnya hujan lokal dengan durasi singkat. Fenomena ini juga sempat terpantau pada awal Agustus.

“Walaupun sedang berada pada periode kemarau, masih ada potensi hujan lokal. Biasanya durasinya singkat dan sifatnya sangat lokal, seperti yang sempat terjadi pada awal Agustus,” jelasnya.

Karena itu, masyarakat tetap diminta memantau perkembangan cuaca. Terutama ketika melakukan aktivitas di luar ruangan maupun kegiatan yang berkaitan dengan pertanian.

Rendy menjelaskan, kondisi musim kemarau tahun ini juga dipengaruhi fenomena El Niño. Fenomena ini turut membuat kondisi udara terasa lebih terik. Selain suhu yang cenderung lebih panas, kondisi kemarau juga berpotensi berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Pengaruh El Niño membuat kondisi kemarau cenderung lebih kering dan durasinya bisa lebih panjang. Masyarakat perlu melakukan antisipasi terhadap dampak yang mungkin muncul,” katanya.

Kondisi ini perlu menjadi perhatian, khususnya berkaitan dengan ketersediaan air dan potensi kebakaran lahan. BMKG Juanda mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah melakukan langkah antisipasi terhadap kemungkinan kekeringan ekstrem serta kebakaran hutan dan lahan.

Sektor pertanian juga diminta menyesuaikan pengelolaan air dengan kondisi musim kemarau. Termasuk mengoptimalkan efisiensi penggunaan dan alokasi air irigasi serta ketersediaan air di waduk. Masyarakat masih harus menunggu beberapa bulan sebelum memasuki periode peralihan menuju musim hujan.

BMKG memprediksi masa transisi atau pancaroba menuju musim hujan mulai terjadi secara bertahap pada November 2026. Artinya, hingga Oktober atau awal November, sebagian besar wilayah Jawa Timur masih berpotensi didominasi kondisi kering.

“Untuk awal musim hujan, diprakirakan mulai masuk secara bertahap pada November. Namun, waktunya bisa berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya,” terang Rendy. (zen/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
pasuruan kering cuaca panas probolinggo