KRAKSAAN, Radar Bromo-Selama musim hujan, Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Probolinggo rutin melakukan pengendalian penyakit unggas.
Melalui uji pullorum, pengujian menjadi deteksi dini yang harus dilakukan berkala dan rutin di peternakan ungags khususnya ayam.
Diperta tak sendirian tiap kali melakukan uji pullorum. Tapi kerap melibatkan UPT Laboratorium Kesehatan Hewan (Labkeswan) Malang dengan pendampingan dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur.
Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui status kesehatan unggas sekaligus mencegah penyebaran penyakit yang berpotensi mengganggu keamanan pangan asal hewan.
Seperti beberapa waktu lalu, Diperta menguji unit usaha perunggasan milik PT Ishub di Desa Bimo, Kecamatan Pakuniran. Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Diperta Kabupaten Probolinggo, Nikolas Nuryulianto mengatakan bahwa pengujian ini difokuskan pada unggas petelur guna memastikan telur yang dihasilkan aman dikonsumsi.
“Pengujian pullorum ini ditujukan untuk menjamin keamanan pangan, khususnya telur, agar tetap higienis dan layak dikonsumsi masyarakat,” kata Nikolas.
Hasil uji pullorum akan digunakan sebagai bahan evaluasi status kesehatan ternak serta penentuan langkah lanjutan apabila ditemukan indikasi penyakit.
Selain pengambilan sampel, tim juga meninjau sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan uji pullorum.
Menurut Nikolas, masih terdapat beberapa aspek teknis yang perlu dibenahi untuk mendukung proses pengujian yang lebih optimal.
“Ke depan perlu ada perbaikan, terutama terkait sarana pendukung pengujian serta peningkatan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan hewan,” jelasnya.
Nikolas bilang, uji pullorum penting dilakukan untuk memastikan unggas bebas dari bakteri Salmonella yang dapat membahayakan kesehatan manusia.
Diperta juga memberikan edukasi kepada pengelola usaha terkait pentingnya uji pullorum serta pelaksanaannya secara berkala.
“Tujuan akhirnya adalah memastikan produk telur benar-benar aman dan bebas dari bakteri penyebab penyakit,” tambahnya.
Sementara itu, dokter hewan dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, drh. Indri Salespi, menekankan bahwa uji pullorum tidak bersifat insidental. “Pengujian harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan sebagai bagian dari pengendalian penyakit unggas,” ujarnya.
Hal yang sama disampaikan Kepala UPT Labkeswan Malang, Lisa Nadia. Ia menyatakan pihaknya siap mendukung unit usaha perunggasan dalam pelaksanaan uji kesehatan ternak.
“UPT Labkeswan Malang akan terus memfasilitasi uji pullorum guna menjaga kesehatan hewan dan keamanan pangan,” pungkasnya. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid