SUMBERASIH, Radar Bromo– Dua hari pasca banjir yang terjadi di wilayah Kabupaten Probolinggo, rupanya masih menyisakan dampak.
Seperti yang dialami warga korban terdampak di Dusun Bibis, Desa Lemah Kembar, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo ini.
Senin (19/1) pagi, mereka terlihat masih sibuk membersihkan sisa-sisa banjir yang merendam pemukiman tempat tinggal mereka.
Pantauan di lokasi menunjukkan warga bahu-membahu membersihkan lumpur yang masih tebal di halaman rumah dan menjemur perabotan seperti kasur dan selimut yang basah kuyup akibat terendam air setinggi kurang lebih satu meter.
Sri Wahyuni (33), warga RT 05 RW 04 Dusun Bibis, Desa Lemah kembar, mengungkapkan. Banjir pada Sabtu (17/1/2026) malam kemarin datang dengan cepat.
Sehingga banyak barang berharga yang tidak sempat diselamatkan. Peralatan rumah tangga seperti kulkas dan perlengkapan dapur mengalami kerusakan parah, bahkan penanak nasi (magic com) miliknya rusak total sehingga ia mengalami kesulitan memasak untuk keluarganya.
"Peralatan dapur mulai kompor sampai megicom rusak semua. Jadi belum bisa masak untuk anak dan suami di rumah," ungkapnya.
Hal senada juga dirasakan Suni (53). Ibu rumah tangga yang tinggal se-RT/RW dengan Wahyuni ini juga mengaku sejak rumahnya terkena banjir ia tak bisa lagi beraktifitas normal seperti biasa.
Termasuk memasak untuk keluarga. Ia beserta sang suami hanya melanjutkan kegiatan bersih-bersih rumah. Sekaligus mencuci baju dan mengeringkan kasur yang basah.
Suni mengaku kalau ia sudah mendapatkan bantuan beras maupun nasi bungkus ketika Bupati Probolinggo Gus Haris meninjau ke tempat tinggalnya pada keesokan hari pasca banjir melanda.
Namun, ia kesulitan untuk memasaknya. Sebab, nyaris seluruh peralatan masak rusak dan tidak bisa digunakan.
"Saya hanya rakyat kecil. Permintaan saya nggak muluk-muluk. Cukup bantuan makanan dan tempat tidur saja buat keluarga. Itu saja," keluh Suni saat ditemui di rumahnya.
Hingga sampai kini, warga setempat masih diliputi rasa was-was jikalau banjir kembali datang tiba-tiba. Kekhawatiran itu bisa dimaklumi lantaran cuaca ekstrim seperti sekarang ini sulit diprediksi.
Apalagi tempat tinggal mereka memang berada di lahan rendah dan diapit oleh Sungai Bibis yang bercabang menjepit permukiman (ube/mie)
Editor : Muhammad Fahmi