TIRIS, Radar Bromo-Banjir bandang dan longsor yang menerjang Kecamatan Tiris, Kamis (10/12) sore, bukan hanya merendam permukiman dan merusak rumah warga.
Infrastruktur vital luluh lantak. Tercatat ada tiga jembatan terputus, satu jembatan besi miring, dan bangunan kelas SD di Desa Andungbiru hampir amblas ke sungai.
Kerusakan terparah terjadi pada jembatan di Dusun Kedaton yang menjadi penghubung Desa Andungbiru-Tiris, serta jembatan bambu Andungsari-Tiris. Selain itu, jembatan besi di belakang Balai Desa Andungbiru ikut condong karena hantaman material banjir.
Jebolnya jembatan ini, menurut warga Andungbiru Agus Subianto, justru menyelamatkan desa. “Kalau jembatan tidak jebol, kami habis. Debitnya lebih parah dari tahun 2018. Dulu material tertahan jembatan lalu masuk rumah warga,” katanya.
Banjir tahun ini membawa material kayu tua dari hulu kayu sepat dan kayu liar sisa tebang. Kerusakan jembatan otomatis memutus akses ratusan warga.
Bupati Probolinggo Mohammad Haris memastikan ada sekitar 500 kepala keluarga (KK) yang terdampak dan harus segera diberi akses darurat. “Yang penting akses dulu. Jembatan ini harus kami tangani cepat,” ucapnya.
Di sisi lain, sekolah menjadi titik kritis. Salah satu gedung di SD Andungbiru 1 kini hanya berjarak beberapa meter dari bibir sungai akibat tergerus derasnya arus. Salah satu bangunannya bahkan telah tergerus banjir. Yakni, bangunan toilet guru.
Kepala Bidang PUPR Kabupaten Probolinggo, Hengki Cahjo Saputra, menyebut bahwa bronjong menjadi langkah darurat pertama.
“Panjangnya hampir 100 meter. Survei sedang berjalan. Insyaallah bisa dikerjakan akhir tahun,” ungkapnya.
Hengki juga menyebut, Dinas PUPR sedang menginventarisasi kebutuhan anggaran biaya tak terduga (BTT) untuk perbaikan jembatan.
“Kami masih punya waktu 20 hari. BPBD sudah memasang jembatan darurat dari kayu untuk akses sementara,” katanya.
Bupati Probolinggo Mohammad Haris menegaskan bahwa di Dusun Kedaton dan jembatan lainnya akan segera diperbaiki. Desain jembatan ke depan tidak bisa menggunakan pola lama. “Ada jembatan yang harus lebih tinggi, ada yang harus model gantung. Setiap hujan besar pertama selalu membawa material dari hulu dan menyeret jembatan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kerusakan hulu di perbatasan Jember yang selama ini sulit diakses. “Ada area Perhutani yang kami tidak mudah masuk. Ini perlu perhatian pemerintah provinsi dan pusat. Hulunya harus diselesaikan," ujarnya.
Meski kerusakan besar, tidak ada korban jiwa. Berbeda saat banjir bandang di 2018 yang menewaskan dua orang. Namun satu warga mengalami luka akibat longsor di dapur. “Syukur masyarakat sudah teredukasi. Begitu air naik, langsung evakuasi,” kata Haris.
Sementara itu, warga Tiris seperti Nur Hayati masih trauma. “Semalam saya tidak tidur. Takut kalau longsor lagi,” ujarnya. Rumah Hayati jebol di bagian belakang setelah terdengar suara keras seperti “dur”.
Kini air sudah surut, namun material lumpur setebal puluhan sentimeter masih menumpuk di rumah dan jalan desa. Pemerintah berlomba dengan waktu rekonstruksi jembatan dan pengamanan sekolah harus selesai sebelum tahun anggaran berakhir. (mu/fun)
Editor : Fandi Armanto