Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Puluhan Narapidana di Rutan Kraksaan Jalani Terapi untuk Cegah TBC Meluas

Achmad Arianto • Senin, 24 November 2025 | 17:05 WIB

 

 

AGAR TIDAK TERTULAR: Warga binaan di Rutan Kraksaan melaksanakan terapi pencegahan TBC.
AGAR TIDAK TERTULAR: Warga binaan di Rutan Kraksaan melaksanakan terapi pencegahan TBC.

KRAKSAAN, Radar Bromo – Warga binaan pemasyarakatan (WBP) rumah tahanan negara (Rutan) Kelas IIB Kraksaan rentan terkena penyakit Tuberkulosis (TBC).

Alhasil, 57 WBP yang memiliki kontak erat atau sempat sekamar dengan pasien TBC, diobati dan diterapi untuk pencegahan.

Kepala Rutan Kelas IIB Kraksaan Galih Setiyo Nugroho mengatakan, pemberian obat dan terapi pencegahan TBC dilakukan.

Ini merupakan upaya preventif Rutan Kraksaan dalam menciptakan lingkungan hunian yang sehat dan aman bagi seluruh WBP.

Sebab Rutan Kraksaan sebelumnya pernah melaksanakan skrining kesehatan dan pemeriksaan rontgen dada pada WBP.

Ada 2 WBP terindikasi TBC paru sehingga perlu ada tindakan agar pasien bisa sembuh dan potensi penyebaran bisa ditekan.

“Program pemberian obat ini kami laksanakan untuk menjaga kesehatan seluruh WBP serta mencegah penyebaran TBC di Rutan,” katanya.

Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas IIB Kraksaan M. Yasin Zaini menambahkan, pendampingan dari dinas terkait juga rutin dilakukan.

Hal ini untuk memastikan pemberian obat dan terapi pencegahan TBC terlaksana dengan baik dan tepat sasaran.

Selain memastikan ketersediaan obat, pihak terkait juga melakukan pendampingan dalam pemberian terapi serta memantau kesehatan WBP.

Zaini menambahkan, penyakit TBC cukup menjadi atensi pasalnya potensi penyebarannya cukup mudah.

Oleh sebab itu saat ada temuan maupun terdapat indikasi penyakit TBC. Upaya penyembuhan dan pencegahan penularan dilakukan secara maksimal.

Khususnya pada WBP yang memiliki kontak erat atau sempat sekamar dengan pasien TBC.

“Pemberian obat ini dilakukan seminggu sekali selama tiga bulan. Koordinasi dengan pihak terkait intens dilakukan. Kami juga memantau kesehatan WBP secara rutin agar terapi berjalan efektif,” ujarnya. (ar/fun)

Editor : Abdul Wahid
#tbc #kesehatan #rutan kraksaan