PROBOLINGGO, Radar Bromo- Kasus pencurian di salah satu toko sembako di Pasar Wonoasih, Kota Probolinggo, milik Surojo, 60, Jumat (6/6), ternyata bukan satu-satunya. Ketika Hari Raya Idul Adha tahun lalu, juga ada maling yang menyatroni toko sembako.
Waktu itu, maling membobol toko milik Muhammad Hasan, 35, warga Kecamatan Wonoasih. Toko tersebut tepat bersebelahan dengan toko milik Surojo. Hasan mengatakan, pencurian di Pasar Wonoasih sering terjadi. “Seperti setiap Idul Adha, ada saja yang pencurian. Biasanya rokok dari warung yang lokasinya di depan. Kalau bukan Idul Adha, dari warung yang di belakang,” katanya.
Tahun lalu, sejumlah rokok dari toko miliknya raib dimaling. Hasan mengaku mengalami kerugian hingga Rp 5 juta. Namun, ia memilih tak melapor ke kepolisian karena tak memiliki cukup bukti.
“Dulu belum ada CCTV. Setelah kejadian itu, baru saya pasang 2 CCTV di toko. Kemarin, saya sudah tidak enak hati, khawatir terjadi kecurian lagi di toko. Akhirnya, saya pantau terus lewat CCTV di HP (handphone). Ternyata toko sebelah sekarang yang kebobolan,” ujarnya.
Hasan mengatakan, momen hari raya dimanfaatkan pencuri karena kondisi pasar sepi. Para pedagang sayur yang sehari-hari standby dari malam hingga menjelang pagi juga ikutan libur. “Ditambah di sini tidak ada penjaga malamnya. Hanya pemantau saja. Tidak ada CCTV juga,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat menyediakan penjaga malam ataupun sistem keamanan lainnya, seperti CCTV untuk memantau kondisi pasar ketika malam hari. “Sebab, rawan kalau malam. Sedangkan kami juga membayar retribusi setiap bulannya,” terangnya.
Hal senada disampaikan oleh Ulfa, 49, istri dari Surojo. Ia mengatakan, kejadian pencurian semacam ini bukan yang pertama di Pasar Wonoasih. Ramadan lalu, seorang pedagang juga kehilangan sembako, namun memilih untuk tidak melapor.
Menurutnya, seharusnya pihak pengelola pasar dapat memberikan fasilitas penjagaan atau pengamanan yang lebih baik. “Mengingat kami di sini juga membayar biaya retribusi setiap bulannya. Saya saja setiap bulan bayar hingga Rp 700 ribu,” tuturnya.
Kepala UPT Pasar Probolinggo Edi Sekar mengatakan, penjaga malam memang tidak ada dikarenakan keterbatasan sumber daya manusia (SDM). “Sudah dilakukan upaya penjagaan dengan sistem piket bergilir dari rekan-rekan di pasar. Mulai dari pemantau, admin, dan semuanya ikut berjaga. Itu sudah dilakukan setiap hari, termasuk hari libur,” katanya.
Edi menyebutkan, pihaknya juga berupaya mengusulkan pengadaan CCTV untuk mencegah tindakan pencurian kembali terjadi. Rencana pihaknya akan mengajukan 8 titik CCTV khusus Pasar Wonoasih. “Kalau diakomodasi, kami ajukan melakui P-APBD 2025. Kurang lebih 8 titik itu nantinya butuh dana Rp 25 jutaan,” katanya. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando