Idul Fitri selalu menjadi momen kebersamaan yang penuh makna. Di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, kebersamaan itu bukan sekadar ucapan, melainkan nyata dalam harmoni antarumat beragama.
Di tengah kekhusukan umat muslim menjalankan ibadah Salat Ied 1446 Hijriah, kalangan umat Hindu Tengger memilih untuk menjaga.
Memastikan, saudara mereka menjalankan ibadah dengan tenang.
Suhu dingin menusuk kulit, ketika para jemaah berdatangan ke Masjid Al Hidayah, Senin (31/3).
Dinginnya suhu pagi itu, tak menyurutkan semangat muslim Suku Tengger untuk menjalankan ibadah Salat Ied. Mereka tampak antusias.
Terbukti, barisan jemaah tidak hanya memenuhi masjid, sebelum Salat Ied dimulai pukul 06.30. Tetapi juga, sampai meluberi halaman.
Pemandangan itu, tersaji di Al Hidayah yang berdiri megah di dekat Balai Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Baca Juga: Bromo Tutup Selama Libur Nyepi dan Idul Fitri, Ini Wisata Alternatifnya
Masjid setempat, memang menjadi pusat perayaan Idul Fitri di dataran tinggi Tengger.
Masjid ini adalah yang terakhir dan terbesar sebelum perjalanan mendaki ke Gunung Bromo.
Menjadikannya tujuan bagi masyarakat sekitar untuk Salat Ied, tarawih, dan salat Jumat.
Pada pagi yang suci itu, luberan jemaah, menyatu dalam takbir yang menggema.
"Desa Wonokerto berbeda dengan desa-desa lain di lereng Bromo yang mayoritas beragama Hindu. Di sini, mayoritas penduduknya Muslim," ungkap Kepala Desa Wonokerto, Heri Dri Hartono.
Namun, komunikasi dan kerukunan dengan desa-desa tetangga yang mayoritas Hindu tetap terjaga. Toleransi adalah kunci kehidupan masyarakat di sana.
Tahun ini, harmoni semakin terasa. Karena Nyepi dan Idul Fitri hanya terpaut sehari.
Pada Nyepi, umat Islam di Wonokerto membantu menjaga ketertiban ibadah saudara Hindu mereka. Sehari kemudian, giliran umat Hindu yang mengawal jalannya Salat Ied.
"Kami melakukan pengamanan di sekitar masjid, memastikan ibadah berjalan dengan khidmat dan lancar," ujar Supoyo, 57, tokoh adat Suku Tengger.
Sebanyak 50 anggota yang terdiri dari Jagabaya, Linmas, dan perangkat desa beragama Hindu bersinergi untuk menjaga Salat Ied.
Ini bukan kali pertama, melainkan tradisi tahunan yang telah menjadi bagian dari kehidupan di Wonokerto.
"Di desa-desa lain seperti Ngadas, Jetak, Wonotoro, dan Ngadisari, umat Muslim menjadi minoritas. Sehingga meraka harus turun ke Wonokerto, untuk Salat Ied bersama di masjid terakhir ini. Kami di sini menjaga dan memastikan mereka dapat beribadah dengan aman," terang Supoyo.
Usai Salat Ied, tradisi khas masyarakat Desa Wonokerto berlanjut.
Warga muslim tetap menjalankan ater-ater, yakni mengantarkan berkat berupa makanan kepada tetangga. Tak terkecuali bagi yang beragama Hindu.
"Ini sudah kebiasaan kami sejak dulu. Saat umat Hindu merayakan Karo atau ritual lainnya, mereka pun melakukan hal yang sama kepada kami," ujar Ahmad Sugeng Laksono, 50, warga setempat.
Selain ater-ater, ada pula tradisi silaturahmi dari rumah ke rumah. Tak hanya keluarga dekat, tetapi rekan dari agama lain juga saling berkunjung, menikmati hidangan khas Lebaran.
"Di sini, selepas Salat Id, kami tidak bisa langsung pergi jauh atau berwisata. Karena seminggu ke depan, kami akan sibuk menerima tamu, baik Muslim maupun non-Muslim," tambah Sugeng.
Puncaknya, di hari ketujuh Lebaran. Masyarakat menggelar tradisi ketupat. Namun, yang paling unik adalah doa keliling di Dusun Krajan.
Setelah Salat Ied, delapan ustadz dibagi menjadi empat tim. Masing-masing bertugas mengunjungi rumah-rumah di empat RT.
Setiap rumah telah menyiapkan berkat berisi nasi, lauk, jajanan, dan pisang ayu.
"Kami masuk ke setiap rumah, berdoa bersama, lalu berkat itu disantap bersama keluarga," jelas Muhammad Mukhibbin, 37, salah satu ustadz yang ikut dalam tradisi ini.
Berbeda dengan Dusun Krajan, di Dusun Jombok dan Punjul, berkat dikumpulkan di musala untuk didoakan bersama.
"Tradisi keliling ke rumah-rumah hanya ada di Dusun Krajan," tambah Mukhibbin.
Momen Lebaran di Desa Wonokerto, bukan sekadar perayaan agama. Tetapi cerminan harmoni dalam perbedaan. Di tengah arus digitalisasi, masyarakat tetap menjaga tradisi.
Sembari menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Seperti berbelanja kebutuhan Lebaran secara daring.
Namun satu hal yang tak berubah, rasa saling menghormati yang diwariskan turun-temurun.
Ketika suara takbir dan doa menggema di langit Wonokerto, di sanalah terlihat wajah Indonesia sesungguhnya.
Wajah keberagaman yang saling merangkul, tanpa batas, tanpa sekat. Karena di Wonokerto, Idul Fitri bukan sekadar hari kemenangan bagi umat Islam. Tetapi juga kemenangan bagi semangat persaudaraan. (gus/one)
Editor : Achmad Syaifudin