PENDIDIKAN bagi pribumi di Kota Pasuruan sudah berlangsung lama. Ada sejak sebelum Indonesia merdeka.
Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Inlandsche School atau Sekolah Rakyat pada 1850 silam. Sekolah tersebut kini dikenal sebagai UPT SDN Bangilan.
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono mengungkapkan, SDN Bangilan didirikan oleh Hindia Belanda pada Mei 1850.
Namun baru diresmikan pada 1 Juni 1850. Sekolah ini dahulu, diperuntukkan bagi anak pejabat pribumi. Sekolah ini dikenal sebagai sekolah pribumi tertua di Jawa, bahkan Indonesia.
Hal ini bisa dilihat dari data tentang sekolah untuk pribumi yang didirikan di kota lain.
Memang, ada sekolah bagi pribumi di Pati dan Jepara yang didirikan lebih dahulu dibanding di Kota Pasuruan.
Sekolah di dua kabupaten di Jawa Tengah tersebut, dibangun pada 15 Oktober 1849.
"Namun peresmian dan penggunaan sekolahnya, dilakukan lebih lambat. Baru 14 September 1850. Karenanya, SDN Bangilan ini adalah yang tertua," kata Budiman.
Dari koran lama terbitan Belanda disebutkan, jika sekolah ini didirikan atas usulan dari Residen Hindia Belanda di Pasuruan pada September 1849.
Awal dibangun, sekolah ini direncanakan bagi 100 murid. Pembangunannya menggunakan kayu dari hutan jati di Pasuruan.
Disebutkan pula, rencananya pembelajaran di sekolah itu, akan dibatasi pada membaca dan menulis bahasa daerah dalam karakter aslinya.
Lalu Bahasa Melayu dengan aksara Latin, prinsip aritmatika hingga aturan tiga dalam pecahan.
Kemudian, pengetahuan tentang ukuran dan berat serta prinsip-prinsip survei praktis.
"Peresmian dilakukan oleh Residen Hindia Belanda. Dan dihadiri oleh Bupati Pasuruan, Bangil dan Malang. Serta sejumlah pejabat pribumi lainnya," tutur Budiman.
Dimulai dari SDM yang Terbatas
Sekolah khusus untuk anak pejabat pribumi ini, dimulai dari sumber daya manusia (SDM) yang terbatas.
Mayoritas seluruh siswanya, belum pernah mengenyam pendidikan apapun. Bahkan, buku yang digunakan sebagai bahan ajar, juga hanya satu buah.
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menuturkan, saat awal didirikan, jumlah murid di SDN Bangilan hanya 76 orang.
Paling muda, berusia delapan tahun. Dan tertua 15 tahun. Jumlah murid yang berusia di atas 12 tahun ada 46 anak.
"Dari semua siswa yang belajar saat itu, hanya satu orang yang pernah mengenyam pendidikan. Lainnya belum sama sekali," kata Budiman.
Pembelajarannya saat itu, tentang membaca dan menulis Bahasa Jawa dalam bahasa asli, dan Melayu dalam karakter Melayu.
Lalu, berhitung, menggambar negara, geografi Jawa, menggambar situasi dan survei tanah. Pendidikan hanya dijalankan oleh satu orang guru dibantu dengan dua asisten.
Gurunya bernama Hadji Ingebeij Ismael, sementara asistennya bernama Ingebeij Ardjo Wijdoijo dan Radhen Kromo Koesomo.
Namun, satu-satunya buku yang digunakan sebagai pedoman dalam pengajarannya, adalah salinan tata Bahasa Jawa karangan A. D. Cornet De Groot.
Ini adalah buku dari risalah masyarakat seni dan ilmu pengetahuan Batavia, terbitan abad ke 15.
Siswanya saat itu, berasal dari wilayah Karesidenan Pasuruan. Yakni Kabupaten Pasuruan, Malang dan Bangil. Namun dalam perkembangan berikutnya, didirikan sekolah serupa di wilayan Malang dan Bangil pada 1853.
"Saat berdiri, semuanya serba terbatas. Baik dari segi SDM guru, murid hingga salinan buku yang digukan untuk bahan ajar," jelas Budiman.
Bangunan Lama Masih Berdiri Kokoh
Meski mengalami berulang kali renovasi, namun bangunan lama SDN Bangilan yang dahulu merupakan sekolah rakyat, masih berdiri kokoh.
Kini SDN Bangilan terus berkembang. Dari semula yang jumlah guru dan siswanya terbatas, menjadi salah satu sekolah jujukan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Kelurahan Bangilan, Kota Pasuruan.
Kepala SDN Bangilan, Engky Agus Pramudiantoro mengungkapkan, bangunan ruang kelas yang melintang membentuk letter U adalah bangunan lama.
Digunakan untuk ruang kelas 1, 2, 3, dan 6. Yang diganti, hanya reng di atap yang melintang dua tahun lalu.
Di luar itu, kuda-kuda atap masih sama seperti dahulu. Menggunakan kayu jati. Beberapa struktur bangunan khas Belanda juga masih utuh.
Seperti pintu, kaca, dinding hingga kawat ventilasi. Hanya cat dindingnya yang sudah mengalami perubahan. Karena berulang kali diganti.
Sementara, untuk bangunan baru, terletak di bangunan paling selatan dan bangunan lantai dua.
Bangunan di sisi selatan, digunakan untuk kelas lima. Sementara di lantai dua, digunakan untuk ruang kelas empat dan ruang komputer.
Adapula, kantin yang terletak di sebelah utara sisi timur yang juga bangunan baru.
"Bangunan paling utara, informasinya adalah bangunan paling awal didirikan. Bisa dipahami, bangunan ruang kelas ini paling tinggi dibandingkan sisi barat dan timur," jelasnya.
Engky-sapaannya menyebut, saat menjadi sekolah dasar pasca kemerdekaan, sekolah ini dikenal sebagai SDN Sawunggalih.
Sebelum akhirnya, berubah nama menjadi SDN Bangilan mengikuti lokasi tempat sekolah berada.
Tidak hanya menerima murid biasa, sekolah juga menerima siswa berkebutuhan khusus.
Total ada 17 rombongan belajar (rombel) di sekolah ini. Tiap kelas, ada tiga rombel. Kecuali kelas tiga.
Kelas ini, hanya memiliki dua rombel, karena dimerger akibat rombel tidak memenuhi.
Sementara jumlah guru ada 25 orang. Sebanyak 18 orang guru kelas, tiga orang guru agama dan tiga orang guru olahraga.
"Ada 22 anak berkebutuhan khusus (ABK) yang bersekolah di sekolah kami. Kami punya satu guru inklusi untuk membantu pengajaran siswa ABK," beber Engky. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin