JALAN hidup yang dipilih Anto (bukan nama sebenarnya), 58, begitu keras. Dia merantau ke ibu kota untuk menjadi preman, bahkan pernah menghilangkan nyawa orang. Itu dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Keluarganya dia nafkahi menggunakan hasil dari pekerjaan itu.
Sejak muda, Anto hidup dengan penuh kekurangan. Kedua orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh tani. Itu pun kedua orang tuanya harus bertanggung jawab memenuhi kebutuhan ke lima anaknya. Salah satunya Anto.
Anto merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Anak pertama menempuh pendidikan di pesantren di Jateng. Sedangkan Anto bersama ketiga adiknya di rumah bersama orang tuanya. Inilah yang membuat Anto berinisiatif untuk membantu orang tuanya menghidupi keluarganya.
“Awalnya saya rencanakan merantau ke Surabaya. Namun saya pikir lagi, lebih baik ke Jakarta saja,” ujarnya.
Di usia 14 tahun dan masih belum cukup umur, Anto pergi ke Jakarta. Dia pamit ke kedua orang tuanya untuk bekerja. Setelah diizinkan, Anto pergi. Itu pun tanpa membawa uang yang cukup. Hanya beberapa lembar pakaian.
Dia menuju Jakarta dengan menumpang truk yang melintas ke arah barat. “Saya tanyakan ke mana pergi. Jika mengarah ke barat, saya pamit numpang,” ujarnya.
Selama perjalanan, Anto selalu menahan lapar. Sebab, untuk memperoleh uang, dia harus mengamen dulu. Kadang mengelap kaca kendaraan dengan baju yang dibawanya.
Selama empat hari, baru tiba di Semarang, Jateng. Terkadang sopir truk yang ditumpanginya membantunya membelikan makan dan minum. Dengan cara gandol, Anto baru bisa tiba di Jakarta setelah lima belas hari kemudian.
Di Jakarta, Anto awalnya mengamen dan mengelap kaca kendaraan. Namun untuk bekerja seperti itu, dia harus melawan gangguan para preman di sana. Acapkali uang yang diperolehnya, direbut. “Makan sembarangan. Kadang sisa orang di tempat sampah saya makan,” ujarnya.
Karena hasil uang selalu dirampas para preman, Anto mulai bertindak tegas. Kenapa dia tak lawan saja. Toh hidup harus nekat. Sama seperti dirinya yang mengubah nasib.
Dia mulai melawan. Saat preman-preman memalaknya, Anto menolaknya dan menyuruhnya juga mencari uang untuk kebutuhannya. Alhasil, terjadilah adu jotos. Anto kalah dan uangnya lagi-lagi dirampas.
Anto dibikin sakit di bagian kepala dan perutnya. Sebab, berulang kali dipukul. Namun, Anto tidak secengeng itu. Dia harus bekerja lagi agar bisa tetap hidup.
Dia bertahan dengan hidup di tepi jalan. Setiap hari hasil kerja ia sisihkan di bawah telapak kakinya, sisanya diserahkan ke preman.
Hingga suatu hari, Anto kembali menghadapi preman yang memalaknya. Jumlahnya kala itu tiga orang. Anto kembali melawannya. Dia berpikir jika tidak memenangkan pertarungan, selamanya akan dijadikan korban.
Namun, saat itu dia tidak seceroboh sebelumnya, Anto meminta preman itu melawannya satu per satu. Ketiga preman itu menyetujuinya. Terjadilah perkelahian. Benar saja ketiga preman itu dikalahkan Anto.
Setelah dikalahkan, Anto pergi dari lokasi itu. Karena Anto mengetahui teman preman tersebut banyak di kompleks terdekat.
Preman itu dikalahkan tak tinggal diam. Untuk membalaskan kekalahan, jumlah preman semakin bertambah mencari Anto. “Kupikir waktu itu saya sudah mati. Karena preman-preman itu membawa golok, celurit, dan lainnya,” ujarnya.
Untungnya waktu itu dia bertemu seseorang pedagang di sana. Orang itu berasal dari Madura. Bahasa yang sama membuat Anto dengan orang Madura itu layaknya seperti saudara.
Mengetahui itu, pedagang asal Madura itu lantas melindungi Anto. Dia juga mengambil celurit untuk membela Anto. Teman sesama Madura mendengar itu juga ikut membantu Anto. Pada akhirnya, Anto selamat dari kejaran maut para preman.
Setelah menceritakan masalahnya, Anto berteman baik. Dia diberi makan, fasilitas kehidupan, dan lainnya.
Namun, Anto yang merasa sungkan, akhirnya beralasan pergi untuk kembali bekerja ke tempat semula dia mencari uang. Meski ditawarkan kembali, namun Anto memilih pergi.
Untuk kembali ke lokasi sebelumnya, Anto harus melawan preman kompleks tersebut. Setelah kembali Anto menyatakan setelah bertemu salah satu preman, dia malah menantang bosnya.
Mendengar itu bosnya langsung bernafsu menghabisi Anto. Bos tersebut menantang Anto untuk berduel. “Saya berpikir waktu itu, menang mati, kalah juga mati,” katanya.
Tetapi, dia beruntung. Anto malah memenangkan duel. Anto yang siap dikeroyok dan mati malah membuat sejumlah preman itu ciut. Dia masih ingat, saat itu hanya memegang balok kayu.
Senjata itu digunakannya untuk membunuh siapa pun yang maju. Tak disangka, itulah yang membuat anak buah preman itu tidak melawan dan justru memberikan apresiasi.
Singkat cerita, nama Anto mulai dikenal di kalangan preman di sana. Nyalinya diperhitungkan, sampai preman yang sebelumnya ia lawan, mengajak Anto bergabung. Anto yang tertarik malah menyetujuinya.
Bak seorang gangster, Anto selalu maju jika terjadi bentrok. Dia paling agresif melakukan perlawanan. Tanpa aba-aba, dia selalu yang terdepan menaklukan musuh. Beberapa kali terjadi bentrok, Anto selalu memenangkannya.
Hingga suatu hari, bisnis dunia gelap tertarik pada Anto. Jasanya untuk melenyapkan musuh dibutuhkan oleh bos kelompok di sana. Iming-iming bayaran yang besar membuat Anto harus menyetujuinya.
Delapan tahun kemudian, Anto melakukan mudik ke Kabupaten Probolinggo. Anto membawa uang banyak serta oleh-oleh yang banyak. Semuanya diserahkan ke orang tua serta adik-adiknya.
Tapi dalam hati kecilnya, Anto tak kuasa. “Saya menangis. Karena uang itu saya peroleh dari pekerjaanku dengan menghilangkan nyawa. Saya tidak mau menyebutkan sudah membunuh orang berapa kali,” ujarnya.
Anto tidak pernah tertangkap polisi karena pandai menghilangkan jejak. Tapi, sejahat-jahatnya Anto, dia tidak pernah melupakan orang tuanya agar selalu mendoakannya.
Selama merantau, orang tuanya juga menginginkannya untuk menikah. Bahkan, orang tua menjodohkannya dengan wanita di kampung halaman. Anto tidak bisa menolak permintaannya. Dia pulang untuk menikah. Setelah menikah kembali ke Jakarta untuk bekerja.
Setelah pernikahanya itulah, hidup Anto antiklimkas. Dia tak kunjung memiliki anak. “Setelah saya konsultasi ke bapak, saya disuruh untuk memperbaiki salat. Disuruh mencari pekerjaan yang halal. Mendengar itu saya menangis,” ujarnya.
Anto sampai pergi merantau ke daerah lain dengan tujuan menjauhi circle lamanya. Dia bekerja sebagai sopir truk. Hingga akhirnya Anto pulang ke rumahnya untuk berkumpul kembali dengan keluarganya. “Alhamdulillah sekarang bekerja apa adanya saja,” katanya. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid