Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Harus Kerahkan Alat Berat untuk Bersihkan Endapan Bekas Banjir

Fuad Alyzen • Rabu, 13 Maret 2024 | 23:28 WIB
TUTUPI AKSES: Pembersihan endapan lumpur yang menutup jalan Desa Prodo, Kecamatan Winongan dengan menggunakan alat berat, Selasa (12/2) pagi.
TUTUPI AKSES: Pembersihan endapan lumpur yang menutup jalan Desa Prodo, Kecamatan Winongan dengan menggunakan alat berat, Selasa (12/2) pagi.

BANJIR di Probolinggo dan Pasuruan juga membuat warga kesulitan beraktivitas. Banyak jalan yang tertutupi lumpur tebal.

Di Kabupaten Pasuruan, banjir yang melanda sejumlah desa di tiga kecamatan sudah terlihat surut.

Namun endapan lumpur yang cukup tebal membuat warga kewalahan untuk membersihkannya.

Rofiq, 52, warga Desa Bandaran, Kecamatan Winongan, mengaku kewalahan membersihkan sisa material lumpur yang ada di sekitar rumahnya.

Katanya, banjir yang terjadi musim ini sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Banjir biasanya hanya kiriman air saja, tapi kini sudah bercampur dengan tanah.

TEBAL: Pj Bupati Probolinggo, Ugas Irwanto mendorong sisa endapan lumpur di rumah warga di Dusun Siwalan, Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu, Selasa (12/3) pagi.
TEBAL: Pj Bupati Probolinggo, Ugas Irwanto mendorong sisa endapan lumpur di rumah warga di Dusun Siwalan, Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu, Selasa (12/3) pagi.

Jumlahnya pun tidak sedikit. Untuk membersihkannya pun sangat sulit.

“Banjir tahun ini memang beda. Airnya sangat keruh campur tanah. Kalau sudah surut begini susah mebersihkannya. Ditambah lagi ini bulan puasa,” kata Rofiq.

Senada pula dirasakan Herman, 32, warga Desa Prodo yang juga satu kecamatan dengan Rofiq.

Endapan tak hanya ada di kampungnya. Namun, jalan utama yang ia gunakan keluar-masuk desa juga tertimbun endapan lumpur. Untuk membersihkannya warga sekitar tak mampu.

“Warga bisanya membersihkan endapan yang ada di rumah-rumah dan sekitaran saja. Itu pun masih belum maksimal. Saking banyaknya,” ungkap Herman.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo di lapangan, endapan lumpur yang ada Desa Prodo  berkisar 15 sampai 30 sentimeter. Endapan ini menutup total jalan desa setempat.

Akibatnya, jalan yang juga jalur alternatif penghubung Kecamatan Winongan dan Lumbang itu tidak bisa dilewati. Untuk membersihkannya pun tidak bisa dilakukan secara manual.

Di hari yang sama, tim dari Dinas Bina Marga bersama Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Tata Ruang (SDA-TR) Kabupaten Pasuruan turun ke lapangan untuk melakukan pembersihan.

Upaya pembersihan lumpur itu dilakukan dengan menggunakan dua alat berat dan dua truk pengangkut.

Jalur yang dibersihkan sepanjang kurang lebih 400 meter. Yakni sepanjang jalan dari Dusun Gendol, Jetis sampai Ledok. Endapan lumpur yang ada di sepanjang itu disekrop dengan alat berat lebih dulu. Selanjutnya tanah endapan diangkut menggunakan truk untuk dibuang di area urukan yang ada di wilayah Kecamatan Winongan.

Camat Winongan, M. Ganis Subangkit menjelaskan, banjir di wilayahnya sudah surut. Namun, penanganan pascabanjir masih terus dilakukan. Konsentrasi penangan yang utama adalah membersihkan sisa endapan banjir atau ndut (lumpur).

“Kami membersihkan yang ada di area pemukiman warga maupun endapan yang menutup akses jalan. Untuk akses jalan utama sudah tertangani, tinggal akses jalan Prodo ini,” jelas Ganis saat ditemui di jalan Prodo kemarin.

Ganis menambahkan, pembersihan endapan yang menutup jalan Desa Prodo tersebut dikategorikan prioritas. Sebab, jalan itu merupakan jalur utama yang dilewati warga setiap harinya. Baik antar desa dan juga kecamatan. Sesuai rencana, pembersihan endapan lumpur di sepanjang jalur tersebut akan selesai 2-3 hari lagi.

Tak hanya di akses jalan Desa Prodo, kondisi endapan lumpur juga tampak di sejumlah desa di Kecamatan Winongan lainnya. Di antaranya adalah Desa Bandaran, Winongan Lor, Winongan Kidul dan Lebak. Warga setempat juga tampak kewalahan dan berjibaku membersihkan endapan endapan lumpur dan genangan air yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.

Kelaksa BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi mengatakan, sebelum banjir surut, pihaknya menyedot air dengan mesin bor. Setelah berkurang langsung ditangai Bina Marga dan SDA Kabupaten Pasuruan.

Kepala Dinas PU Bina Marga dan Bina Kontruksi Kabupaten Pasuruan Hanung Widya Sasangka mengatakan, lumpur yang mengganggu aktivitas ada di beberapa desa di Kecamatan Winongan dan Grati.

Pihaknya pun menurunkan alat berat jenis bulldozer. Endepan lumpur yang masih menempel di sekitar jalan masuk Desa Prodo itu ditepikan. Berharap sementara bisa dilintasi roda dua. “Sampai kemarin (12/3) kondisi jalannya bisa dilintasi. Namun masih licin,” ujarnya.

Agar jalan bisa normal kembali, nanti akan dibersihkan dengan cara disemprot. Agar lumpur yang masih menempel tidak bisa dibersihkan secara total dengan alat berat. “Kemarin dua lokasi. Jalan manuju Desa Kedawung Kulon dan Jalan Prodo,” ujarnya.

Sementara Kepala Desa Winongan Lor Eko S mengatakan, di Kecamatan Winongan ada beberapa desa yang terdampak lumpur, diantaranya Desa Prodo, Bandaran, Menyarik, Minggir, Gading, Winongan kidul dan Lor. “Saat ini yang masih banyak lumpurnya ada Desa Prodo,” ujarnya.

Di Desa Winongan Lor sendiri dua hari terakhir, masyarakat langsung bekerja bakti membersihkan lumpur dari lokasi yang dianggap penting.  Lumpur dibungkus karung dan dirubah menjadi tumpukan karung berisi lumpur. Ini digunakan untuk menutup akses masuk air dari luapan banjir sungai.

Kondisi serupa sebenarnya juga dialami masyarakat di Kecamatan Dringu. Untuk membersihkan lumpur, sejumlah 500 personel gabungan dari ASN, TNI, Polri, dan relawan bergotong royong mengangkat dan membersihkan endapan lumpur di lokasi.

Pj Bupati Probolinggo Ugas Irwanto mengatakan bertepatan dengan hari pertama puasa, pihaknya mengajak personel gabungan untuk membersihkan sisa material banjir di rumah warga. “Ini untuk meringankan beban warga terdampak. Semoga secepatnya dapat terselesaikan dan bersih kembali,” katanya.

Ugas bilang, pihaknya akan melakukan pendataan terkait hal-hal yang dapat dibantu ke depannya. “Nantinya juga ada penanganan lebih lanjut, termasuk perbaikan plengsengan sungai. Secepatnya akan kami rapatkan untuk penanganannya. Namun dalam beberapa hari ke depan masih fokus pada upaya pembersihan,” katanya.

Selain itu Ugas mengatakan bahwa akan berkoordinasi dengan pihak Provinsi Jawa Timur maupun pusat terkait percepatan penanganan banjir di Kecamatan Dringu. “Namun tidak hanya menunggu pihak provinsi maupun pusat, bagi yang krusial dan prioritas akan kami tangani terlebih dahulu,” tuturnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, warga dan sejumlah personel gabungan membersihkan material tanah menggunakan cara manual. Lumpur tersebut disekrop kemudian diangkut menggunakan argo maupun ember. Sementara sisa lumpur juga didorong menggunakan pel karet ke luar rumah.

Sementara di RT 04/RW 02 Dusun Siwalan, Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo tampak sebuah loader membantu warga membersihkan material tanah setebal 1 meter. Pengerukan tersebut telah dilakukan sejak Sabtu (9/3) paska banjir surut.

“Kami dahulukan akses jalan. Sebab biasa digunakan untuk anak sekolah dan alat angkut. Sementara ini hasil kerukan masih kami tata di sisi jalan, sebab akses alat angkut masih belum ada,” kata Agus Santoso, warga setempat.

Di jalan protokol desa tampak dua alat berat berupa set loader dan mini loader tengah membersihkan sisa tanah. Tanah tersebut lantas dimuat menggunakan dumb truck. “Sesuai kesepakatan dengan kepala desa, material hasil pengerukan nantinya diletakkan di pesisir pantai bagian utara. Sehingga harapannya tidak kembali menutupi jalan,” kata Kepala Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo, Hengki Cahjo Saputra.

Selain itu Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo juga menerjunkan 50 personel untuk membantu proses pembersihan di rumah-rumah warga yang tak dapat dijamah alat berat. Terkait normalisasi sungai, Hengki mengatakan pihaknya telah melakukan survei ke 12 titik lokasi kerusakan.

“Dengan usulan kebutuhan paska daruratnya sekitar Rp 3,5 miliar berupa bronjong. Ini sedang kami koordinasikan dengan SDA Provinsi Jatim sebab Sungai Kedunggaleng masih menjadi kewenangan mereka,” kata Hengki.

“Kami juga melakukan survei lapangan ke bagian hulu terkait managemen pembagian air. Sehingga harapannya semua air tidak hanya mengarah ke Kedunggaleng,” tambahnya.

Setelah diangkut menggunakan dump truck, sisa lumpur disemprot menggunakan bantuan satu fire truck kapasitas 3.500 L milik Damkar Kabupaten Probolinggo. “Tidak ada kendala dalam proses penyemprotan. Hanya saja masih banyak masyarakat yang berlalu lalang di lokasi,” kata Danang Purwanto, Inspektur Inspeksi Damkar Kabupaten Probolinggo. (ube/zen/gus/fun)

Editor : Jawanto Arifin
#banjir probolinggo #banjir pasuruan #banjir dringu