Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sebal karena Penjual Tahu Keliling Tak Turun dari Motor di Gang, Halaman Depan Rumah Warga Mayangan Ditembok

Inneke Agustin • Selasa, 17 Oktober 2023 | 00:58 WIB

 

 

DITEMBOK: Sisilia menunjukkan tembok setinggi 1,5 meter dibangun Jumina di depan rumahnya di jalan Ikan Kerapu RT 05 RW 09, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan. (Inneke Agustin/ Radar Bromo)
DITEMBOK: Sisilia menunjukkan tembok setinggi 1,5 meter dibangun Jumina di depan rumahnya di jalan Ikan Kerapu RT 05 RW 09, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan. (Inneke Agustin/ Radar Bromo)

MAYANGAN, Radar Bromo–Sebal karena halaman rumahnya sering dilewati penjual tahu keliling naik motor, akhirnya Jumina, 78, membangun tembok di halaman rumahnya. Halaman rumah itu sekilas seperti ruas jalan. Namun sang pemilik rumah menjelaskan bahwa yang dibangun tembok itu masih lahannya.

Tembok itu dibangun menggunakan bata setinggi 1,5 meter dan lebar sekitar 1 meter. Tembok dibangun seminggu lalu. Tujuannya agar penjual tahu yang biasa lewat pakai sepeda motor, bisa turun saat melintas. Walaupun sebenarnya, Jumina tidak lagi tinggal di sana.

Rumah yang halamannya ditembok itu ada di Jalan Ikan Kerapu RT 05/RW 09, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan. Sementara Jumina tinggal di RT yang berbeda.

“Saya kesal. Sebab pembeli tahu maupun penjualnya kalau lewat depan rumah tidak turun dari motornya. Kan bahaya. Apalagi itu hanya lorong kecil, bukan jalan umum. Sudah saya kasih tulisan harap turun di depan rumah. Tapi tak digubris,” katanya.

Tak hanya Jumina, adiknya Satuja, 65, mengatakan hal serupa. Satuja bahkan pernah menegur si penjual tahu, yaitu Sunyoto yang masih tetangganya sendiri.

“Saya pernah bilang sama dia, tolong dikasih tahu kepada pembeli agar turun dari motornya. Malah dia menjawab, tidak bisa menyarankan pembeli untuk turun. Malah saya yang dilawan,” kata Satuja.

Bahkan menurut Satuja, cucunya hampir tertabrak motor pembeli tahu saat pembangunan rumah Jumina sekitar setahun lalu. Sebab, pembeli tidak turun saat membeli tahu.

“Kan bahaya itu. Karena itu akhirnya dibangun tembok. Tapi kan tidak ditutup semua. Masih disisakan satu meter untuk orang lewat. Jadi motor tidak bisa seenaknya dinaiki saat keluar masuk lewat halaman saya,” lanjutnya.

Sisilia, 49, istri dari Sunyoto mengatakan, pembangunan tembok itu membuat suaminya kesulitan saat lewat. Sebab, suaminya itu biasa membawa tahu dua bak di samping kiri dan kanan motornya.

Sebelum tembok dibangun, suaminya bisa melewati halaman dengan tetap menaiki motornya. Namun sejak ditembok, bak tahu harus diturunkan saat melewati halaman Jumina. Atau dua bak tahunya diangkut dengan gerobak sampai di depan gang. Baru kemudian dinaikkan motor.

“Biasanya suami saya bisa lewat pakai motor dengan mengangkut dua bak tahu di samping motor. Sekarang tidak bisa, karena jalannya tidak muat. Cuma cukup untuk motor lewat. Kalaupun bisa, hanya bawa satu bak tahu,” jelasnya.

Ketua RT 05/RW 09 Erni Azizah, 54, mengatakan, dirinya sudah pernah dilapori Jumina. Saat itu dia minta agar Jumina jangan dulu menembok halamannya. Sebab, Erni berkeinginan menegur Sunyoto lebih dulu.

“Saya tegur dulu, lalu ditunggu seminggu hingga sebulan. Apakah ada perubahan. Ternyata keesokan harinya sudah dibangun tembok,” katanya.

Sunyoto sendiri menurutnya tahu proses pembangunan tembok itu. Namun, dia tidak memberitahu dirinya. Hingga akhirnya tembok itu sudah dibangun, barulah Sunyoto menelpon dirinya.

“Kalau telepon saya sejak awal, mungkin saya masih bisa bantu untuk menghentikan pembangunan tersebut,” kata Erni.

Lurah Mangunharjo, Hari Setyoyani mengatakan, pihaknya akan mencoba mediasi kedua belah pihak. Menurutnya, Selasa (10/10) keduanya sudah pernah dimediasi. Namun, saat itu belum ada titik temu.

“Maka dari itu kami coba untuk mediasi kedua kalinya pada Senin (16/10). Harapannya bisa ada solusi dan kedua belah pihak bisa berdamai,” katanya. (mg/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#bangun tembok