Foto-foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo
- Kecamatan Tegalsiwalan
Saronin Sibelen
Kerapan sapi merupakan kebudayaan asal Madura yang mengandung nilai kerja sama, kerja keras, persaingan, ketertiban, dan sportivitas. Kebudayaan ini juga berkembang di Desa/Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo.
Di Desa Tegalsiwalan, kerapan sapi diadakan setiap dua tahun sekali. Pesertanya dari berbagai daerah. Dua hari sebelum kerapan dimulai, masyarakat Desa Tegalsiwalan mempersiapkan ritual terlebih dahulu yang diselenggarakan di makam Mbah Rawen.
Sebelum perlombaan dimulai, diawali dengan menggiring sapi yang sudah dihias (didandani seperti kemanten) mengelilingi lapangan perlombaan. Sambil diiringi musik yang biasa disebut Saronin.
Karena masyarakat Desa Tegalsiwalan menginginkan kebuadayaan ini lebih dikenal dan lebih memikat para pengunjung, maka dirangkailah iringan musik dengan sebuah tarian yang disajikan oleh penari-penari cantik, sehingga membuat suasana tambah meriah. Tari ini disebut dengan Saronin Sibelen (Tegalsiwalan). (*)
- Kecamatan Maron
Kecamatan Maron
Somberre Reng Maron
Tari Somberre Reng Maron merupakan gambaran masyarakat Maron, yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencarian sebagai pedagang di Pasar Maron. (*)
- Kecamatan Besuk
Petani Desa
KETIKA memasuki musim panen raya, sebelum memanen hasil pertaniannya, warga Desa Bago, Kecamatan Besuk, mengadakan ritual adat ronjengan sebagai wujud syukur. Ronjengan merupakan tradisi adat yang memainkan alat musik tradisional yang berupa kayu berlubang dengan panjang kurang lebih 6 meter. Dalam bahasa Madura disebut lesong yang ditumbuk dengan batang kayu panjang. Mereka memainkannya sambil bersalawat dan bersyair. (*)
- Kecamatan Bantaran
Tari Ongghe
ONGGHE merupakan bahasa Madura. Dalam bahasa Indonesia berarti naik. Bagi masyarakat Desa Bantaran, istilah ongghe mempunyai arti khusus. Yakni, naik ke gunung. Naik ke gunung dalam hal ini berarti berjualan. Dalam istilah lain mlijo.
Jadi, istilah ongghe yang sudah akrab di telinga masyarakat Bantaran, berarti berjualan ke gunung. Kegiatan ongghe biasanya dilakukan dini hari bersama-sama. Para mlijo beramai-ramai berjalan kaki atau naik kendaraan umum menuju pegunungan Sumber. Membawa dagangan berupa kebutuhan dapur.
Di samping rezeki halal, dengan berjualan, mereka dapat bersilaturahmi dengan kerabat di gunung. Saudara dan kerabat semakin banyak. Mereka yakin, semakin banyak saudara, rezeki akan bertambah dan umur pun lebih panjang.
Sambil bersenda gurau, lucu-lucuan, mereka saling menghibur satu sama lain. Dengan kegigihan dan kekuatan, mereka jajakan dagangan ke lorong-lorong di gunung. Mereka tampak lucu, kuat, dan selalu gembira. (*)
- Kecamatan Kuripan
Ganongan Edyan
TARI ini diangkat dari sebuah cerita di sebuah dusun bernama Cindil. Di sini, konon ada sebuah petilasan yang kemudian dikenal dengan sebutan danyang. Di danyang ini, tumbuh sebuah pohon besar dan dipercaya keramat atau angker. Pada suatu saat oleh penduduk sekitar akan dipotong. Mendengar berita itu, penunggunya marah dan murka. Penunggu yang merupakan sekumpulan harimau dalam tari ini diwujudkan dengan wujud ganongan dan kemudian tari ini diberi judul Ganongan Edyan. (*)
- Kecamatan Pakuniran
Nampeh Bherres
NUN jauh di sana, di kecamatan paling ujung tenggara Kabupaten Probolinggo, Kecamatan Pakuniran, terdapat suatu desa yang bernama Desa Bucor Kulon. Setiap hari, segelintir masyarakatnya membuat Gheddheng, sehingga dusun tersebut dinamakan Dusun Gheddhengan.
Maka dari itu, kita sebagai praktisi seni di Kecamatan Pakuniran, mengangkat tarian ini dengan judul Nampeh Bherres. Sampai saat ini, masyarakat Blok Gheddhengan Desa Bucor Kulon, berprofesi utama sebagai perajin Gheddeng. Oleh masyarakat umum, Gheddeng tersebut dipakai untuk alat nampeh bherres alias menampi beras. (*)
- Kecamatan Dringu
Akerap
Tari Akerap menggambarkan sebuah aktivitas masyarakat Etnik Madura, dengan tradisinya berupa pacuan sapi. Sapi pacuan merupakan sapi jantan pilihan. Sambil memasuki arena balap, terlebih dulu sepasang sapi dikirap, dipertontonkan keliling arena, diiringi alunan vokal dan musik khas Maduraan dikolaborasikan dengan alat musik lainnya. (*)
- Kecamatan Pajarakan
Kembang Genggong
KEMBANG Genggong, muncul dengan penuh kemisteriusan membawa keindahan yang elok nan begitu menggairahkan. Siapapun orang yang menyaksikan kehadirannya, seketika merasa kagum dan teperdaya oleh kecantikannya. Namun, sesuatu yang memiliki keindahan tak selamanya harus dimiliki hingga terenggut keindahannya. Keistimewaannya yang harus dibiarkan bebas dimiliki semua orang tanpa terkecuali. (*)
- Kecamatan Tongas
Dara Getak
TARI ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat Desa Tanjungrejo, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, yang mempunyai tradisi mengadakan selamatan desa atau kadesa setiap tahun. Bersamaan dengan kegiatan itu, masyarakat Desa Tanjungrejo juga mengadakan lomba adu dara getak.
Lomba adu dara getak diadakan untuk memperlihatkan kelincahan, ketangkasan, dan keindahan dara-dara hasil latihan mereka. Tradisi ini merupakan warisan dari nenek moyang yang masih dilestarikan sampai sekarang. (*)
- Kecamatan Krucil
Jebbing Torsu
PADA Minggu pagi yang cerah ceria, gadis-gadis kecil berwajah mungil di lereng Argopuro Bremi membantu orang tua memerah susu sapinya. Mereka berbondong dalam keceriaan menyetor susu ke rumah penampungan. Sepulangnya, mereka bercanda ria sambil memanggul milk can pulang menuju rumah masing-masing dengan penuh gembira. Jebbing Torsu merupakan kumpulan gadis-gadis kecil menyetor susu yang diwujudkan dalam karya tari yang berjudul Jebbing Torsu. (*)
- Kecamatan Kraksaan
Kridhaning Wanodyo
KEHIDUPAN wanita tradisional pada masanya di Kraksaan dan Probolinggo, pada umumnya; aku yang luka ketika ada yang menyakitiku, aku yang berusaha kokoh ketika ada yang menjatuhkanku, tentangku yang tak selalu anggun, bahkan tertindas, tentangku yang harus bijaksana pada suatu suasana, dan tentangku yang harus berani melawan dan menerangi sudut gelapku sendiri. (*)
- Kecamatan Wonomerto
Tari Pecut Wonomerto
TARI ini dilatarbelakangi kisah heroik Ki Ageng Klenang. Untuk membabat desa di Kecamatan Wonomerto. Yakni, Desa Pohsangit, Pohsangit Ngisor, Pohsangit Tengah, Pohsangit Lor. Dengan senjata saktinya berupa cemethi atau pecut, Ki Ageng bisa mengatasi semua rintangan yang menghalanginya hingga terwujudlah desa tersebut.
Kegigihan Ki Ageng Klenang untuk mewujudkan cita-citanya dikenang dan dilanjutkan oleh masyarakat Kecamatan Wonomerto. Dalam bentuk karya tari yang diperagakan oleh anak-anak SDN Patalan II Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo. (*)
- Kecamatan Krejengan
Unjuk-Unjuk
PROSESI unjuk-unjuk adalah selamatan desa yang diadakan di Desa Krejengan, setiap 1 Muharam. Unjuk-unjuk berarti meletakkan jodang di atas pendapa desa. (*)
- Kecamatan Gading
Eling Sing Kuoso
TARI Eling Sing Kuoso, merupakan tarian yang mencerminkan generasi muda ingat kepada Sang Mahakuasa dan menebar kebaikan yang agung dengan penuh percaya diri. (*)
- Kecamatan Sukapura
Ongkek Tengger
ONGKEK Tengger, sebuah karya tari yang diambil dari sebuah tradisi masyarakat tengger. Ongkek merupakan sebuah pikulan berisikan hasil bumi yang akan dilabuhkan ke kawah Gunung Bromo saat upacara Kasada, sebagai wujud ucap terima kasih masyarakat Tengger untuk leluhurnya. (*)
- Kecamatan Paiton
Tottak Merpati
TOTTAK Merpati merupakan budaya turun-temurun yang hingga saat ini digemari masyarakat Paiton, khususnya Desa Sumberanyar. Karya tari ini memberikan nuansa kolaborasi budaya tottak merpati yang diiringi musik okol. Okol adalah alat musik khas Paiton, yang digunakan sebagai media pengiring dalam kegiatan adu merpati. (*)
- Kecamatan Sumberasih
Reng Gir Sereng
TARI Reng Gir Sereng menggambarkan aktivitas para gadis-gadis penduduk tepi pantai yang sedang mencari kerang dan rumput laut sambil bersendau gurau di setiap sore hari. (*)
- Kecamatan Leces
Kembang Bawang
TARI Kembang Bawang adalah tari garapan baru. Diangkat dari budaya masyarakat agraris. Tari ini menggambarkan keceriaan anak-anak saat bermain di sawah ketika kembang bawang mulai bersemi. Mereka memetik bawang sambil bercanda di tengah sawah bersama temannya, ketika liburan sekolah. (*)
- Kecamatan Sumber
Tari Nggaga
TARI ini menceritakan salah satu aktivitas masyarakat di sisi timur Gunung Bromo. Khususnya, Kecamatan Sumber dalam berladang. Dengan segala keindahan alam dan kesuburan tanahnya, masyarakat hidup rukun di tengah pluralitas agama.
Kehidupan masyarakatnya sederhana dan pekerja keras, namun religius. Berladang adalah mata pencaharian mayoritas mereka. Sebelum mengolah ladangnya, mereka senantiasa berkomunikasi dengan Sang Pencipta melalui serangkaian ritual doa. Agar senantiasa diberi keselamatan dan keberkahan dalam kehidupannya.
Saat panen, mereka selalu bersyukur atas nikmat yang Tuhan kucurkan. Berbahagia atas kerja keras yang tidak sia-sia. Mereka juga tak lupa berbagi hasil panen dengan sesama.
Nggaga (bahasa Jawa Tengger) berarti ladang. Tari Nggaga merupakan representasi kehidupan masyarakat agraris yang agamis, pekerja keras, dan peduli sesama. (*)
- Kecamatan Lumbang
Bestari Madakaripura
HIDUP bukanlah sekadar berdrama. Namun, ada kalanya mengenang masa lalu yang dituangkan dalam gerakan yang bermakna. Tarian ini bermakna penyambutan penghormatan untuk pejuang yang gagah berani. Yakni, Patih Gajah Mada ketika mereka kembali dengan membawa kemenangan untuk menyatukan Nusantara.
Tarian ini menunjukkan rasa syukur, hormat, dan kebahagiaan atas kemenangan yang dicapai. Tarian ini dilakukan oleh berbagai kalangan dari yang berusia muda hingga tua yang melambangkan keberagaman masyarakat dalam menyambut kemenangan. (*)
- Kecamatan Kotaanyar
Tari Ojung
OJUNG merupakan tradisi budaya masyarakat Kotaanyar yang dilakukan pada saat-saat tertentu. Terutama ketika kemarau panjang. Tujuannnya untuk minta hujan dan penolak balak. Tradisi ini dilaksanakan dengan mempertemukan dua orang petarung pukul tangkis menggunakan rotan. (*)
Editor : Ronald Fernando