Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Melihat Pertunjukan Wayang Potehi di TITD Sumber Naga yang Masih Eksis

Inneke Agustin • Kamis, 7 September 2023 | 16:00 WIB

MENIKMATI PERTUNJUKKAN: Penonton menikmati wayang potehi di TITD Sumber Naga, Selasa (5/9) malam. Inset, Mujiono saat mengisi pertunjukkan.
MENIKMATI PERTUNJUKKAN: Penonton menikmati wayang potehi di TITD Sumber Naga, Selasa (5/9) malam. Inset, Mujiono saat mengisi pertunjukkan.
 

Seni pertunjukan wayang potehi punya sejarah yang panjang. Seni masyarakat Tiongkok di abad ke tujuh sampai abad ke sembilan semasa Dinasti Tang sampai kini masih eksis. Di Kelenteng Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Sumber Naga Kota Probolinggo, kesenian ini ramai akan penonton jika digelar.

INNEKE AGUSTIN, Mayangan, Radar Bromo

Tempat pementasan wayang potehi di Kota Probolinggo biasanya digelar di tengah halaman Kelenteng Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Sumber Naga Kota Probolinggo. Cukup mudah mencarinya karena ada sebuah panggung yang disebut pay low warna merah.

Di depan panggung tertata beberapa kursi yang tiap malam selama pertunjukan dipenuhi oleh penonton. Tak hanya orangtua. Ada kalangan muda mudi dan anak-anak yang turut menonton.

Malam itu Jawa Pos Radar Bromo bertemu dengan Mujiono, 60. Dia adalah salah satu dalang yang sampai saat ini masih sering menggelar pertunjukkan. Pria asli Surabaya itu selalu diundang di momen tertentu. Biasanya hari spesial seperti ulang tahun kelenteng TITD Sumber Naga atau saat imlek.

Mujiono menekuni wayang potehi sejak usianya masih 10 tahun. “Belajar dari kelenteng di dekat rumah. Awalnya hanya melihat, lama-lama tertarik. Akhirnya diajari. Pertama belajar alat musik dulu. Lambat laun sambil belajar, bisa jadi dalang. Tapi memang banyak tantangannya, mulai dari harus menguasai cerita hingga karakter tokoh,” katanya menyapa.

Melihat sejarahnya, wayang potehi merupakan seni pertunjukan boneka tradisional asal Fujian, Tiongkok Selatan. Asal usul nama Potehi berasal dari bahasa Hokkien yaitu “po” artinya kain, “te” artinya kantong, dan “hi” yang artinya wayang. Secara harfiah dapat diartikan sebagai wayang yang berbentuk kantong dari kain. Meski beberapa bagiannya terbuat dari kayu.

Wayang potehi dibawa imigran asal Tiongkok ke Nusantara sekitar abad ke enam belas dan menyebar ke beberapa kota di pulau Jawa.  Kini, wayang potehi telah menjadi bagian dari warisan nasional dan salah satu kebudayaan di Indonesia.

Wayang potehi tidak sama dengan wayang kulit. Wayang potehi hanya dimainkan dalam durasi 1,5 hingga 2 jam tiap malamnya. Pertunjukannya pun dibawakan secara berseri. Ceritanya bisa tentang sejarah kerajaan ataupun dinasti maupun seorang tokoh terkenal atau bisa berupa tokoh pahlawan.

Inilah yang membuat penonton suka. Salah satunya Kristalia, 20. Malam itu perempuan asal Kelurahan Jati, menonton bersama ibundanya. Dia terlihat benar-benar menikmati cerita wayang potehi yang dibawakan Mujiono.

Bukan hanya semalam. “Hampir tiap hari nonton. Ceritanya selalu menarik,” beber Kristalia.

Katanya, pertunjukkan wayang potehi memang bergantung dari dalangnya. Tetapi yang membuat dia suka, dalang wayang potehi bisa memainkan banyak karakter. Sang dalang bisa membawakan satu karakter dengan karakter lainnya, dengan suara yang berbeda.

Biasanya saat pentas, dibutuhkan dua orang yaitu dalang dan asisten dalang. Dalang bertugas menyampaikan cerita. Sedangkan asistennya membantu menyiapkan dan menata peralatan pentas.

“Tiap tokoh itu memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada perempuan ada laki-laki. Ada yang jahat, ada yang baik. Ada yang sebagai panglima, ada yang sebagai raja, ada juga perempuan muda. Semua punya suara yang berbeda. Dan itu perlu dilatih. Untuk mencocokkan kira-kira karakter suara yang seperti apa. Misal untuk raja ya harus berwibawa. Perempuan jahat biasanya lebih cerewet,” jelasnya.

Menurut Mujiono, memang tidak mudah memainkan karakter di wayang potehi supaya pertunjukkan menjadi menarik.  Tak hanya keahlian dalam mendalami karakter. Seorang dalang juga dituntut dapat berbicara dalam bahasa Hokkien atau dialek Tiongkok. Namun memang akulturasi dengan budaya Jawa tetap ada.

“Tapi agar lebih punya interaksi dengan penonton, kadang juga saya sisipi dengan bahasa daerah. Misal di daerah itu mayoritas suku Madura, ya kadang ada celetukan yang pakai bahasa Madura. Sehingga menarik dan mudah dipahami penonton,” katanya.

Selain itu, dalam pertunjukan wayang potehi biasanya mengandung sebuah pesan moral “Kita cari isu-isu terkini. Misal sedang banyak kasus demam berdarah. Ya dalam cerita kita sisipkan tips untuk menjaga kesehatan. Menutup tempat tampung air dan lain-lain. Semacam itu. Jadi kita kemas sedemikian rupa agar cerita sejarah tersempaikan, pesan moral pun juga ada,” kata Muji panggilannya.

Dalam sebuah pertunjukan wayang potehi juga akan dilengkapi musik pengiring seperti gembreng besar (toa loo), gembreng kecil (siauw loo). Biasanya dimainkan tiga musisi. Satu musisi bisa saja memainkan dua atau tiga alat musik.

“Musiknya juga menyesuaikan dengan alur cerita. Kalau sedih ya musiknya mendayu. Kalau sedang perang musiknya terkesan rancak. Dan itu semua harus kompak,” bebernya.

Kini wayang potehi tak hanya digelar di Klenteng. Kesenian ini terkadang merambah ke pusat-pusat perbelanjaan khususnya saat Tahun Baru Imlek. (fun)

Editor : Ronald Fernando
#titd sumber naga #wayang potehi