Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pelajar SMK Tewas Dikeroyok usai Nonton Orkes di Kebonsari Wetan

Fahrizal Firmani • Senin, 17 Juli 2023 | 13:50 WIB

 

BERDUKA: Suasana rumah duka korban Samsul Arifin, 17, di Jalan Cangkring, Kanigaran, Kota Probolinggo. Inset, Korban Samsul Arifin (berkaus ungu) semasa hidup.
BERDUKA: Suasana rumah duka korban Samsul Arifin, 17, di Jalan Cangkring, Kanigaran, Kota Probolinggo. Inset, Korban Samsul Arifin (berkaus ungu) semasa hidup.

KANIGARAN, Radar Bromo - Orkes musik Sabtu (15/7) malam itu, menjadi orkes terakhir yang disaksikan Samsul Arifin, 17. Siswa kelas XI SMKN 2 Kota Probolinggo itu tewas dianiaya pria tidak dikenal saat perjalanan pulang usai menonton orkes.

Peristiwa ini diketahui terjadi sekitar pukul 22.00. Malam itu, korban Samsul Arifin alias Apin diajak nonton orkes oleh temannya di Jalan Lumajang, Kelurahan Kebonsari Wetan, Kanigaran, Kota Probolinggo. Ia janjian bertemu di lokasi dengan empat temannya. Dua laki-laki dan dua perempuan.

Korban pun berangkat bakda magrib dengan naik motor sendirian. Mereka berlima lantas nonton orkes sampai sekitar pukul 22.00. Sekitar pukul 22.00, mereka pun pulang.

Dua teman perempuan korban pulang dengan berboncengan motor. Sementara korban berboncengan bertiga dengan dua teman lelakinya. Sebab, dua temannya itu tidak membawa motor.

Korban pun mengantarkan temannya lebih dahulu ke rumah mereka di Jalan Wali Kota Gatot. Baru kemudian dia pulang ke rumahnya di Jalan Cangkring, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran.

Setibanya di dekat SMAN 2 Probolinggo, sejumlah orang tidak dikenal memblayer motornya. Refleks, korban dan kedua temannya menoleh ke arah mereka. Rupanya, hal ini membuat pelaku marah.

Mereka lantas mengejar korban dan kedua temannya. Jumlahnya lebih dari empat orang. Di depan SMAN 2, seorang pelaku menendang motor korban sekali. Tapi, korban tetap melajukan motornya. Aksi kejar-kejaran pun terjadi.

"Sampai di sekitar SMPN 7, seorang pelaku berhasil menendang motor Apin sekali lagi. Dan dia terjatuh bersama kedua temannya," kata Slamet, paman Apin.

Saat itulah, para pelaku langsung turun dari motornya. Lalu mengeroyok korban. Mereka memukul dan menendang korban bersama-sama. Sementara kedua teman korban yang dibonceng melarikan diri karena takut. Mereka lantas menghubungi keluarga korban dan mengabarkan kejadian itu.

Sekitar pukul 23.00, keluarga mencari korban. Mereka mencari korban tepat di sekitar lokasi saat korban jatuh setelah ditendang pelaku dari motornya.

Korban pun berhasil ditemukan. Sayang, dia sudah meninggal saat itu. Dia ditemukan tergeletak tidak bernyawa.

Jenazah korban langsung dibawa ke kamar mayat RSUD dr Mohamad Saleh Kota Probolinggo untuk divisum. Dia tewas karena mengalami sejumlah luka fatal di tubuhnya. Antara lain, dua tulang rusuknya patah dan kaki kanannya bengkok.

Usai divisum, sekitar pukul 14.00, jenazah korban dibawa pulang ke rumah neneknya di Gang Gerilya, Kanigaran. Kemudian, dimakamkan di TPU Cangkring.

"Jenazahnya langsung dimandikan dan disalatkan. Bakda Asar, jenazah keponakan saya dimakamkan di TPU Cangkring," sebut Slamet.

Suasana duka menyelemuti rumah di Gang Gerilya itu. Ibu korban, Safitri terus menangis. Air mata terus mengalir di pipinya saat petakziah datang menanyakan kejadian yang dialami putranya.

Maklum, korban adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Dia punya seorang kakak perempuan. Korban sendiri dikenal sebagai sosok yang ulet dan tekut. Saat hari libur, korban memilih untuk bekerja membantu ibunya.

Korban memang tidak lagi punya bapak. Bapaknya, Muhaidi, meninggal saat dia berusia tiga tahun. Sejak saat itu, korban menjadi anak Yatim.

"Ia tidak milih-milih. Apapun asal halal dikerjakan. Sebelum nonton orkes, Apin menjaga gudang bawang di Curahgrinting. Maklum sejak kecil ia sudah Yatim," tutur Slamet.

Kata Slamet, empat teman korban yang menonton orkes bersama datang bertakziah bakda Asar. Setelah menceritakan peristiwa yang dialami, mereka diminta menjadi saksi di Polres Probolinggo Kota.

"Tadi teman Apin datang. Mereka meminta maaf karena melarikan diri dan meninggalkan Apin bersama pelaku. Sebab, mereka takut," sebut Slamet. (riz/hn)

Editor : Jawanto Arifin
#Polres Probolinggo Kota #tewas dikeroyok