KEDOPOK, Radar Bromo - Masyarakat Kota Probolinggo harus pandai menjaga kondisi tubuh. Suhu udara saat malam hari dalam bulan ini akan semakin dingin. Dalam sepekan ke depan bisa mencapai 17 derajat Celsius.
Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo Sugito Prasetyo mengatakan, Kota Probolinggo telah memasuki musim kemarau. Pada musim ini, suhu pada malam hari terasa lebih dingin di bulan-bulan akhir antara Mei sampai Oktober.
Suhu lebih dingin ini akan dirasakan oleh masyarakat pada malam hingga menjelang pagi. Saat memasuki puncak musim kemarau, suhu bakal menjadi lebih dingin. Namun, puncak kemarau masih Agustus-September.
Fenomena suhu dingin pada musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau biasanya terasa di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur yang terletak di selatan khatulistiwa. Fenomena ini dikenal dengan nama bediding.
“Berdasarkan pantauan Pusdalops BPBD Kota Probolinggo, dalam sepekan ke depan, pada siang suhu antara 19 sampai 32 derajat Celsius. Sementara, saat malam bisa mencapai 17 derajat. Kecepatan angin antara 11 sampai 22 kilometer per jam,” terang Gito.
Fenomena ini terjadi karena wilayah Australia mengalami musim dingin bergerak menuju Indonesia (muson Australia). Selain itu, tutupan awan cenderung sedikit, sehingga udara panas tidak dipantulkan kembali ke bumi.
Bediding terjadi karena posisi matahari berada pada posisi terjauh di sebelah utara garis khatulistiwa, sehingga menyebabkan belahan bumi sebelah utara menjadi panas dan bumi selatan menjadi dingin. Pulau Jawa, yang berada di selatan khatulistiwa, membuat pulau Jawa lebih dingin daripada biasanya.
“Saat musim seperti ini, rawan mengalami diare, flu, atau infeksi saluran pernapasan. Karena itu, perbanyak konsumsi air putih, perhatikan pola tidur, dan minum vitamin jika perlu,” terangnya. (riz/rud)
Editor : Ronald Fernando