MAYANGAN, Radar Bromo - Memiliki nilai histori yang tinggi, didukung dengan pemandangan areal persawahan nan hijau. Hal itu menjadi potensi tersendiri bagi dam yang masih dioperasikan secara manual ini.
Karenanya pada 2019 lalu, dibentuklah sebuah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wirotama yang intens mengembangkan wisata.
Mulanya anggotanya hanya berjumlah 5 orang. Seiring dengan berjalannya waktu dan keseriusan untuk mengembangkan wisata, akhirnya antusiasme warga setempat semakin meningkat. Anggota Pokdarwis pun menjadi lebih banyak.
"Pengembangan menjadi wisata alternatif dilakukan setelah ada kesepakatan antar warga. Lingkungan dam yang sudah bersih, jika tidak dikelola secara berkelanjutan akan kembali kotor. Saat ini, anggota Pokdarwis Wirotama sudah 20 orang," Ketua Pokdarwis Wirotama, Abdul Rohman.
Mulanya dam ini belum memiliki nama, seiring dengan terbentuknya Pokdarwis. Kemudian diberikanlah nama Wisata Amsterdam yang merupakan akronim dari Area Manfaat Saluran Terbuka Dam.
Nama tersebut dipilih dengan beberapa pertimbangan. Pertama, tidak meninggalkan histori yang merupakan peninggalan Belanda, negara dengan ibukotanya Amsterdam. Kedua, agar mudah diingat dan menjadi ciri khas wilayah dam di Kelurahan Wiroborang.
"Tidak perlu jauh-jauh ke Amsterdam untuk berwisata, cukup ke Kelurahan Wiroborang. Nama itu sendiri (Amsterdam, Red) selain memang ada kepanjangannya. Juga agar mudah diingat," kata Rohman.
Anggota Pokdarwis Wirotama lainnya, Udrayaka mengatakan, pada prinsipnya wisata alternatif pinggir kota yang berbatasan dengan kabupaten Probolinggo adalah edukasi wisata.
Mengenal sejarah dam itu sendiri, kemudian mengetahui manfaat, dan menyuguhkan pemandangan yang indah berupa hamparan sawah. View seperti ini jarang dijumpai di tengah kota.
Pengembangan wisata Amsterdam saat ini hanya dilakukan dengan menggunakan anggaran hasil iuran dari Pokdarwis. Tidak heran, pengembangannya belum maksimal.
Artinya, penambahan fasilitas pendukung wisata belum ada. Hanya ada beberapa fasilitas seadanya. Seperti sebuah kios makanan dan minuman untuk pengunjung. Parkir motor serta beberapa tempat duduk yang bisa digunakan untuk cangkruk'an.
"Ada fasilitas tapi masih seadanya. Sebab, kami lengkapi secara swadaya. Kalau ada dana ya ditambah. Kalau belum ada, kami hanya melakukan tamanisasi. Serta pemeliharaan rutin," ucapnya.
Udrayaka menyampaikan, Pokdarwis sebenarnya sudah memiliki rencana pengembangan wisata jangka panjang. Seperti membuat warung apung yang posisinya berada diatas air.
Potensi ini ditangkap setelah melihat permukaan air sungai dam yang tenang. Dengan view sisi sebelah selatan areal persawahan dan gunung. Sementara di timur pintu kontrol dam. Warung ini nantinya akan dilengkapi menu khas Probolinggo.
"Rencana sudah ada kalau ada dana yang mencukupi segera kami eksekusi. Saat ini, wisata yang rutin berjalan adalah memancing. Ramai biasanya saat akhir pekan. Jadi, UMKM dapat menggeliat. Kalau wisata bisa berkembang, tentunya ekonomi warga setempat juga turut meningkat," tuturnya. (ar/mie)
Editor : Jawanto Arifin