KRAKSAAN, Radar Bromo– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo mencatat, 19 wilayah kecamatan di wilayahnya berpotensi terjadi gerakan tanah. Dimana gerakan tanah tersebut dapat memicu terjadinya longsor.
Wilayah itu di antaranya Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Gading, Kotaanyar, Krejengan, Krucil, Kuripan, Lumbang, Maron, Paiton, Pakuniran, Sukapura, Sumber, Sumberasih, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas dan Wonomerto. “Sejumlah wilayah ini berpotensi terjadi gerakan tanah menengah hingga tinggi,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Probolinggo Moh. Zubaidulloh.
Gerakan tanah itu, diungkap Izub sapaan akrabnya, dapat terjadi apabila ada curah hujan diatas normal. Terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.
“Selain potensi gerakan tanah menengah juga berpotensi terjadi gerakan tanah tinggi. Biasanya hal ini terjadi di zona tinggi potensi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal. Sementara untuk gerakan tanah lama dapat aktif kembali, apabila terjadi hujan diantar normal,” ujarnya.
Gerakan tanah ini dapat memicu terjadinya longsor. Sehingga membahayakan lingkungan sekitar. Oleh sebabnya, Izub sapaan akrabnya meminta kepada sejumlah wilayah yang berpotensi terjadi gerakan tanah dapat berperan aktif dalam melakukan reboisasi atau penghijauan.
“Sebab tanaman pencakar tanahnya sudah banyak yang hilang. Sehingga apabila terjadi hujan dengan intensitas diatas normal bisa terjadi longsor. Oleh sebabnya perlu adanya reboisasi yang masif di sejumlah wilayah tersebut,” ujarnya.
Seperti yang di ketahui, pergerakan tanah yang mengakibatkan longsor ini terjadi di beberapa wilayah pada Mei lalu. Salah satunya di Kecamatan Sumber, Lumbang dan Sukapura. Mengakibatkan longsor yang memakan bibir jalan dan longsor menutupi sejumlah badan jalan. Selain itu pada sejumlah kejadian, juga mengakibatkan kerugian materil karena menimpa rumah warga. (mu/fun)
Editor : Ronald Fernando