Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

“Digebuk Buku”

radar bromo • Minggu, 21 Juni 2026 | 13:13 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

BIMO pulang ke kampung bukan sebagai pahlawan. Dengan koper yang berdecit, dia kecewa di sepanjang jalan tanah.

Hari itu hujan rintik, dan papan pengumuman PHK masih terngiang di kepalanya seperti gong yang dipukul berkali-kali. Ia tak pernah menyangka pintu pabrik tekstil di kota menutup namanya lebih dulu daripada yang lain, lalu mengusirnya pulang tanpa janji apapun.

Kampung menyambutnya dengan bau tanah basah dan suara ayam jantan yang tak pernah lelah berkokok. Rumah kayu ayahnya berdiri sederhana, dengan serambi sempit dan rak buku tua di sudut ruang tamu. Ayahnya Bimo, yang sabar, menatapnya lama. Tak ada pelukan berlebihan, hanya anggukan kecil seolah berkata, masuklah dan bernapaslah sebentar.

Malam itu Bimo duduk terpaku. Kata-kata gagal menumpuk di lidahnya. Ayah menyeduh teh, lalu tanpa peringatan menggapai sebuah buku tebal dari rak. Buk! Buku itu mendarat di kepala Bimo, tidak keras, namun cukup mengejutkan.

“Bangun,” kata ayah singkat. “Kalau jatuh, bangkit. Jangan pernah putus asa lagi.”

Bimo terperanjat. Buku itu jatuh ke pangkuannya. Sampulnya kusam, judulnya pudar, Usaha Peternakan Ayam. Dari Kandang ke Pasar. Ayah tersenyum tipis.

“Kalau nasihat saja tak mempan, biar buku yang bicara,” ujarnya.

Bimo menghela napas, antara kesal dan malu. Digebuk buku. Begitulah cara ayahnya menyemangati.

Hari-hari berikutnya Bimo membaca. Ia membaca sambil menunggu subuh, membaca di serambi saat matahari merangkak naik.

Buku itu tak romantis. Isinya hitung-hitungan pakan, ventilasi kandang, penyakit unggas, hingga strategi pemasaran. Namun di sela halaman, Bimo menemukan sesuatu yang lama hilang, rasa ingin mencoba dan keberanian memulai dari nol.

Ayah membiarkannya belajar, hanya sesekali menyelipkan cerita lama tentang kegagalan. Tentang ayam mati karena salah pakan. Tentang harga telur yang anjlok di pasar. Sukses bukan garis lurus, kata ayah. Ia berbelok, jatuh, dan kadang menabrak. Bimo mencatat, bukan hanya di buku, tetapi di dalam hati.

Dengan tabungan tipis, Bimo membangun kandang kecil dari bambu di belakang rumah. Dua puluh ekor ayam petelur menjadi awal. Ia disiplin, mencatat jam pakan, kebersihan, dan kesehatan. Ia menawarkan telur segar ke pedagang.

Tidak semua berjalan mulus. Penyakit datang, telur pecah, pembeli menawar kejam.

Namun setiap gagal, Bimo teringat bunyi  buk” itu.

Bulan berganti. Kandang diperluas. Ayam bertambah. Ia belajar memasarkan lewat pesan singkat, mengantar telur dengan sepeda motor tua. Ia menolak menyerah ketika satu pesanan besar batal. Ia membuka buku lagi, menambal celah pengetahuannya.

Suatu sore ayah menepuk bahunya. Lihat, katanya. Kandang rapi, telur tersusun, pesanan menumpuk. Bimo tersenyum tanpa ragu.

Ia bukan lagi korban PHK. Ia peternak yang belajar dari pukulan, bukan pukulan tangan, melainkan pukulan pengetahuan yang membangunkan.

Setahun kemudian dia membangun gudang kecil dan memasok ke warung kota. Saat ia mengembalikan buku tua ke rak, ayah tertawa pelan. Buku itu tak memukulmu, katanya. Ia membangunkanmu untuk terus melangkah maju. (*) 

Penulis : Anton Sucipto SP.

Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Editor : Abdul Wahid
#kisah sukses #buku #belajar