Oleh: Herumawan P.A.
SORE ini, aku melihat berita menghebohkan di televisi tentang pengendara mobil yang menabrak jambret dan meninggal karena ingin mengambil kembali tas milik istrinya. Tapi malah dijadikan tersangka Undang Undang Lalu Lintas. Aku geleng-geleng melihatnya.
"Makin aneh saja hukum di sini." Aku membatin.
"Ah andai Sam masih jualan es gabus, aku ingin ngobrol kesana kemari sambil makan es gabus buatannya gratis." Aku tiba-tiba teringat Sam, temanku seorang penjual es gabus yang tinggal di sebelah rumahku. Hidup berdua bersama sang ibu di rumah yang tak begitu mewah. Malah sangat sederhana sekali.
Di kampung, ia dikenal pembuat es gabus yang enak sekali dan menjualnya. Tapi empat hari ini, gerobak es gabus tak tampak saat aku ke sana. Rumahnya pun sunyi sepi seolah tak ada orang, membuatku enggan bertamu walau hanya untuk sekedar menanyakan kabar.
Kulihat ibu pulang dari berdagang di pasar. Tak seperti biasanya, ibu langsung menghampiriku.
"Wan, kamu tahu si Sam ditangkap karena laporan warga yang bilang es gabusnya berbahaya, terbuat dari spon beneran.” Aku terkejut setengah mati mendengarnya. “Yang bener, Bu? Jangan-jangan cuma hoax saja.” Aku menyahut.
“Ini beneran, Wan. Infonya dari Bu Wati penjual lupis di pasar melihat si Sam sedang diintrogasi di pinggir jalan dengan gerobak es gabusnya, empat hari lalu.” Aku angguk-anggukkan kepala. Lalu bersiap keluar rumah.
“Wan mau kemana?”
“Aku mau ke rumah Sam.” Kucium tangan ibu sebelum keluar rumah. Tampaknya ibu tak tega melihatku pergi ke rumah Sam.
"Hati-hati, Wan. Di luar sana, marak aksi kejahatan. Makanya tadi Ibu cepat-cepat pulang. Ibu gak mau kamu kena hukum karena bela diri." Aku mengangguk. Ibu pasti khawatir aku takut kenapa-kenapa, dijadikan tersangka karena membela diri.
“Iya Bu, aku akan hati-hati.” Kucoba menyakinkan ibu.
"Aku juga bawa hape kok, Bu. Jadi kalau Ibu khawatir ada apa-apa, Ibu bisa hubungi aku." Tampak ibu sedikit tersenyum walaupun kutahu itu dipaksakan.
***
Rumah Sam sepi. Tak kulihat lagi gerobak jualan es gabusnya.. Kini hanya tinggal kerangkanya. Entah apa sebabnya.
“Sam.. Sam.” panggilku dari balik pintu pagar. Kulihat ada sepasang mata yang melihatku dari balik korden jendela. Kuperhatikan lamat-lamat, sorot mata itu begitu dingin.
“Sam, keluarlah. Aku ingin bicara!!” Aku berteriak. Pintu pagar pun terbuka. Tampak Sam berdiri terpaku. Wajahnya kulihat kuyu, rambutnya acak-acakan, pakaiannya pun compang-camping. Aku kasihan melihatnya.
“Apa yang terjadi padamu, temanku?” kataku lirih.
“Ceritanya panjang, Wan.” Ia mempersilahkan aku untuk masuk dan duduk di sofa yang empuk.
Sam duduk di sofa depanku, di tengahnya ada sebuah meja tamu kecil. Ia segera memulai ceritanya.
“Entah darimana harus kumulai cerita ini. Tapi hari itu saat aku sedang jualan es gabus, cukup ramai di pinggir jalan. Tiba-tiba ada aparat dan seorang wanita menemuiku. Langsung mengintrogasiku, tuduh es gabus yang kujual berbahaya.” Aku kasihan mendengar ceritanya.
“Terus apa yang kamu lakukan?” Sam menghela nafas. Ia berdiri dari kursi kemudian beranjak ke belakang. Sekembalinya, ia tampak membawa dua cawan berisi es gabus di atas nampan. Ditaruhnya di atas meja.
“Dimakan dulu, mumpung masih dingin.” Kuambil satu cawan lalu kumakan es gabus sampai habis.
“Terus apa yang kamu lakukan?” tanyaku kembali sambil meletakan gelas es sirup yang sudah kosong ke atas meja.
“Aku jelaskan es gabusnya gak berbahaya. Tapi mereka belum percaya. Minta aku makan gabusnya. Ya terus aku makan.” Sam menghirup nafas sejenak.
“Beruntung ada yang rekam dan viral. Aparat langsung periksa kandungan es gabus buatanku dan hasilnya aman dikonsumsi. Lalu beri klarifikasi dan minta maaf.” Sam mengakhiri ceritanya. Aku lega mendengarnya.
“Gak ada semacam ganti rugi gitu?” tanyaku spontan.
“Kemarin datang banyak bantuan, termasuk motor untuk jualan pengganti gerobakku.” Aku mengangguk pelan.
"Lalu kenapa kamu gak jualan es gabus lagi?”
“Aku trauma. Aku takut dilaporkan, takut ketemu mereka lagi. Makanya selesai pulang diintrogasi itu, aku hancurkan gerobak es gabusku.” Aku terkejut. Tak menyangka akan setrauma itu.
Sam kemudian masuk ke dalam. Tak lama, ia keluar dengan dandanan rapi, tangannya membawa hape keluaran terbaru, dugaanku itu juga dari “bantuan” yang ia terima. Di sampingnya ada seorang perempuan paro baya, berdandan rapi Ia mengenaliku. Aku berdiri dari kursi, mencium tangannya.
“Ibu bagaimana kabarnya?” tanyaku sopan.
“Baik, Wan. Salam ya buat Ibumu.” jawabnya. Aku mengangguk.
"Rapi amat. Mau kemana, Sam?" Aku heran melihat sikapnya yang mendadak cepat berubah.
"Mau ngojek dong. Tapi antar Ibu beli bahan untuk bikin es gabus."
"Lho katanya trauma?"
"Yang trauma jualan es gabus itu aku, Wan. Ibuku nanti yang gantian jualan. Hidup kan harus tetap jalan dan butuh pemasukkan." Aku mengangguk.
"Nanti hape barumu bisa kena jambret lho." Ia hanya tersenyum menanggapi. “Tenang, aku akan pasrah kok. Kan kalau nanti dilawan, bisa-bisa aku yang kena hukuman.” Aku geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Mau aku antarkan sampai rumahmu?" Aku menggeleng.
“Rumahku kan dekat, sebelah rumahmu.”
“O iya lupa.” Sam menepuk jidatnya. Aku tersenyum lalu pamit pulang. (*)
Editor : Abdul Wahid