Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hujan Tak Benar-benar Mau Berhenti Menangis

radar bromo • Minggu, 2 November 2025 | 19:00 WIB

 

ILUSTRASI
ILUSTRASI

Oleh: Khairul A. El Maliky

HUJAN sore itu turun dengan cara yang tidak biasa—pelan, tapi panjang, seperti seseorang yang menulis surat pengakuan dengan tinta air mata. Di rumah berlantai dua di pinggiran kota, Bahri duduk di ruang tamu yang setengah remang, menatap air yang menetes dari ujung genting. Ia memandangi cermin yang menggantung di dinding, melihat bayangan dirinya: lelaki berusia empat puluh, rambut mulai memutih di sisi, dan sorot mata yang memendam terlalu banyak yang tak pernah diucapkan.

Di ruangan itu, suara-suara lain terdengar dari dapur—suara sendok beradu, suara ibu mertua yang bergumam, dan suara istrinya, Sari, yang tertawa hambar. Bahri tahu, tawa itu bukan untuknya. Ia sudah tahu sejak lama bahwa di rumah itu, ia hanyalah perabot tambahan.

“Bahri,” panggil Bu Murni, mertuanya, dengan suara dingin yang seperti hujan di bulan Desember.

“Iya, Bu?”

“Kamu udah kirim uangnya buat adikmu Sari itu? Dia mau bayar cicilan motornya katanya.”

Bahri menatap kosong ke arah dinding. Ia baru saja mentransfer uang untuk biaya sekolah anak mereka pagi tadi. Tapi untuk permintaan mertua, ia tidak pernah bisa menolak—bukan karena takut, tapi karena hatinya terlalu lembut untuk membiarkan orang lain kecewa.

“Sudah, Bu. Barusan saya kirim.”

“Bagus. Kalau bukan kamu, siapa lagi. Anak saya kan udah sibuk ngurus rumah.”

Bahri hanya mengangguk, meski kata-kata itu bagai duri yang tertancap pelan di dadanya. Ia ingin menjawab, ingin mengatakan bahwa Sari bahkan tak pernah mengurus rumah dengan benar, tapi ia menelan semuanya bersama secangkir teh yang mulai dingin di tangannya.

Malam itu, hujan masih belum berhenti. Bahri duduk di teras rumah, menatap langit yang gelap dan berat. Ia teringat masa-masa ketika masih muda—ketika ia punya ambisi, punya impian menjadi seseorang yang menulis buku, yang berkisah tentang kehidupan dan cinta, tentang ketabahan manusia menghadapi nasib. Ia dulu seorang editor di penerbit kecil di kota. Lalu setelah menikah, ia harus berhenti karena Sari tak ingin jauh dari ibunya.

Ngapain jauh-jauh kerja di kota, Mas,” ujar Sari dulu dengan nada manja yang kini terasa palsu dalam ingatannya. “Di sini aja. Deket sama Ibu. Lagian bisa bantu-bantu di rumah. Ibu udah tua.”

Dan begitulah. Satu demi satu impiannya ia lipat, seperti kertas surat yang disimpan dalam laci paling bawah.

Namun Tuhan masih memberinya seberkas koneksi kecil dengan dunia luar. Sahabat lamanya, Pak Bene—seorang penerbit yang dulu bekerja bersamanya—masih sering menghubunginya lewat daring. Mereka menulis, mengedit, berdiskusi. Dari situlah Bahri mendapat sedikit uang—bukan banyak, tapi cukup untuk menjaga harga dirinya.

“Mas Bahri,” suara Pak Bene di ujung panggilan daring itu, “Naskahmu yang terakhir bagus sekali. Aku mau terbitkan bulan depan. Royalti naik ya, Mas. Aku rasa banyak yang bakal suka.”

Bahri tersenyum kecil, senyum yang jarang ia berikan pada siapa pun di rumah itu.

“Terima kasih, Pak Bene. Doakan aja, semoga ini langkah baru.”

Langkah baru. Kata itu seperti bunga kecil yang tumbuh di celah-celah tembok kehidupannya yang kering.

Pagi berikutnya, rumah itu kembali ramai dengan suara yang memecah kedamaian. Bu Murni marah karena gas habis, Sari marah karena baju anaknya belum disetrika, dan adik Sari datang meminjam uang. Semua itu sudah jadi pemandangan rutin—sebuah rutinitas yang tanpa Bahri, rumah itu mungkin runtuh. Tapi ironinya, dialah yang paling sering disalahkan jika sesuatu salah.

“Kamu tuh, Bahri, laki-laki kok kayak nggak punya nyali. Semua dibilang iya. Kapan kamu tegas?” bentak Bu Murni suatu hari.

“Kalau saya bilang tidak, nanti Ibu marah,” jawab Bahri pelan.

“Ya iyalah, orang kamu nggak punya pendirian. Pantes aja anak saya capek.”

Sari yang mendengar hanya diam, bahkan tersenyum sinis.

Udahlah, Mas. Jangan dibawa hati. Ibu kan begitu emang orangnya.”

Bahri memandangi wajah istrinya. Di sana tak ada lagi cahaya yang dulu membuatnya jatuh cinta. Yang tersisa hanya rasa letih dan asing.

***

Malamnya, Bahri menulis lagi. Ia menulis kisah seorang lelaki yang hidupnya tak diakui, tapi terus menyalakan api kecil di dalam dirinya. Ia menulis dengan tangan gemetar, seolah setiap kata adalah napasnya sendiri. Hujan di luar masih turun, menulis bersama tinta air di kaca jendela.

Waktu berjalan, dan takdir mulai menyiapkan sesuatu untuk Bahri.

Suatu sore, saat ia duduk di kafe kecil dekat kantor pos untuk mengirim paket buku ke penerbit, seorang perempuan menghampirinya. Ia mengenakan jas hujan warna abu, rambutnya sebahu, matanya lembut tapi tajam.

“Permisi, ini Mas Bahri, kan? Penulis naskah ‘Langit yang Menangis di Sudut Kota’?”

Bahri menatapnya heran. “Iya, tapi... kok tahu?”

“Saya Imelda. Imelda Safitri. Saya bekerja di komunitas literasi yang sering baca karya Mas. Kami suka tulisan Mas. Dan... saya penggemar berat tulisan Mas sejak lama.”

Bahri terdiam sejenak. Ia sudah lama tak mendengar kalimat seindah itu.

“Oh begitu, terima kasih, Mbak. Saya nggak nyangka masih ada yang baca tulisan saya.”

“Mas, tulisan Mas tuh jujur banget. Real, tapi hangat. Saya kayak nemuin potongan diri saya di setiap kalimatnya.”

Hujan di luar tiba-tiba terasa lebih lembut. Seolah alam pun ingin menjadi saksi dari pertemuan itu.

Mereka berbincang lama. Tentang dunia sastra, tentang hidup yang selalu terasa sempit tapi diam-diam memberi ruang bagi yang tabah. Imelda mendengarkan setiap kata Bahri seperti seseorang yang menadah air hujan dengan tangan kosong—penuh penghormatan, tanpa takut basah.

“Mas, saya tahu, tulisan Mas lahir dari luka,” kata Imelda pelan suatu sore ketika mereka kembali bertemu. “Tapi luka yang Mas punya itu indah. Karena nggak semua luka bisa menumbuhkan cahaya.”

Bahri menatapnya. “Kamu tahu, Mbak... selama ini saya hidup di rumah yang saya bantu berdiri, tapi saya sendiri nggak pernah dianggap bagian dari rumah itu.”

Imelda menatap matanya lama. “Mungkin karena Tuhan nyiapin rumah lain buat Mas. Rumah yang dibangun dari kejujuran, bukan dari beban.”

Kata-kata itu seperti jendela yang tiba-tiba terbuka di dada Bahri.

Hari-hari berikutnya, Bahri mulai hidup lagi. Ia menulis dengan semangat baru. Ia dan Imelda semakin sering berkomunikasi. Ia menemukan dalam diri perempuan itu sesuatu yang hilang dari hidupnya selama ini—pengertian.

Mereka akhirnya menikah diam-diam. Hanya disaksikan dua orang teman dekat Bahri dan penghulu yang datang sederhana. Tak ada pesta, tak ada seremonial—hanya doa yang lirih dan hujan yang turun tanpa henti, seolah langit pun ikut merestui.

Di rumah barunya yang sederhana, Bahri seperti dilahirkan kembali. Imelda menemaninya menulis, menyiapkan kopi tiap pagi, membaca naskah-naskahnya, bahkan menjadi editornya sendiri.          

“Mas tahu nggak,” kata Imelda suatu malam, “setiap kali Mas nulis, saya lihat cahaya di wajah Mas. Cahaya yang nggak pernah saya lihat di wajah orang yang menyerah.”

Bahri tersenyum. “Kalau saya nggak menyerah, itu karena kamu.”

Mereka tertawa, dan di luar, hujan turun lagi. Tapi kali ini, hujan itu tidak sedih.

***

Buku Bahri akhirnya meledak di pasaran. Ia dikenal sebagai penulis realis yang tulisannya menggugah nurani. Orang-orang mulai mengenalnya. Televisi mengundangnya. Nama Bahri mulai bersinar, sementara di rumah lamanya, Bu Murni mendengar kabar itu dari tetangga.

“Lho, itu Bahri mantan menantu Ibu, kan? Hebat ya, sekarang jadi penulis terkenal.”

Bu Murni tersenyum kecut.

“Hah, iya, itu... dia cuma beruntung aja.” Tapi malamnya, ia tak bisa tidur.

Beberapa minggu kemudian, Sari dan ibunya datang menemui Bahri. Rumah Bahri kini jauh lebih besar dan asri. Imelda menyambut dengan ramah, walau tahu betul siapa mereka.

“Bahri, Ibu... eh, maksudnya saya, mau pinjam uang sedikit. Cuma buat biaya rumah sakit adikmu Sari,” kata Bu Murni dengan suara dibuat lembut.

Bahri menatap mereka tanpa ekspresi. Di wajahnya tak ada lagi Bahri yang dulu mudah luluh.

“Uang saya nggak banyak, Bu. Tapi saya bantu sesuai kemampuan.”

Ia menulis angka di cek, jumlahnya cukup besar untuk ukuran “pinjam”. Tapi yang ia berikan bukan sekadar uang—itu penutup dari masa lalu yang selama ini membelenggunya.

Sari menatapnya lirih. “Mas... kamu berubah.”

“Enggak, Sar. Aku masih Bahri yang dulu. Cuma sekarang aku udah berhenti minta diakui oleh orang yang nggak mau melihatku.”

Bu Murni menunduk, lalu pergi tanpa banyak kata. Di teras, hujan mulai turun lagi.

Imelda datang membawa payung. “Mas, hujan lagi.”

Bahri tersenyum. “Iya. Tapi kali ini hujan nggak benar-benar mau berhenti menangis.”

“Kenapa?”

“Karena mungkin dia masih belajar seperti aku—belajar melepaskan.”

Imelda menggenggam tangan suaminya.

“Kalau begitu biarkan hujan menangis. Toh, dari tangisnya, kita bisa tumbuh.”

***

Mereka berdiri di bawah payung, memandangi langit yang menangis tanpa dendam. Bahri tahu, segala luka, semua kesabaran, setiap ketabahan yang dulu ia pendam dalam diam—semuanya kini menemukan maknanya.

Ia bukan lagi menantu yang disia-siakan. Ia bukan lelaki yang dikasihani. Ia adalah manusia yang belajar dari penderitaan untuk menemukan arti dirinya sendiri.

Hujan di atas kepala mereka berhenti pelan. Tapi di hati Bahri, hujan itu tetap turun—bukan lagi sebagai kesedihan, melainkan sebagai ingatan yang menghidupi.

Dan di dunia yang kerap kejam pada orang baik, Bahri akhirnya tahu: kesabaran bukan tanda kalah, tapi cara paling berani untuk menang tanpa membalas. (*) 

Editor : Abdul Wahid
#menangis #hujan