Oleh: Khairul A. El Maliky
SUBUH belum menyibak kabut di Kampung Rawa Sari. Udara basah masih menggigilkan dedaunan, namun suara azan telah melayang dari corong masjid kecil di ujung gang sempit.
Suara itu tidak lantang, tidak pula melodius seperti para qari Timur Tengah, namun mengandung getar dari kedalaman yang sulit dijelaskan. Suara itu adalah suara Hasan, lelaki renta yang menjadi muazin dan marbot di masjid kampung.
Hasan bukan siapa-siapa. Ia tak bergelar ustaz, bukan pula tokoh masyarakat. Ia hanya penjaga rumah Allah yang hampir tak pernah absen dari tugas membersihkan, menghidupkan, dan merawatnya.
Tangannya sudah penuh kapalan karena menyikat lantai, membetulkan keran air wudhu, hingga menyusun sandal-sandal jamaah. Namun ia tak pernah mengeluh.
Di luar waktu salat, Hasan mendorong gerobak kayu reyot menyusuri gang-gang kota. Ia membeli kardus bekas dari warung-warung, pasar-pasar kecil, dan toko-toko kelontong.
Kardus itu ia kumpulkan, lalu ia jual kembali ke pengepul dengan harga yang bahkan tak mampu membeli sepotong ayam.
Namun di wajahnya tak pernah tampak gelisah, apalagi putus asa. Di balik gerobak tuanya, Hasan menyembunyikan sebuah rindu.
Bukan rindu pada anak-anaknya yang telah menikah dan tinggal jauh. Bukan pula rindu pada masa mudanya yang dulu gagah bekerja sebagai tukang kayu.
Rindu itu tak berbentuk, namun kuat bersemayam di dalam dada—rindu pada Tanah Suci, pada Kakbah, pada panggilan agung yang datang dari balik langit Arab.
“Ya Allah, aku ingin melihat Baitullah-Mu, sekali saja... biarlah hanya satu kali, agar aku bisa mati dengan tenang,” bisik Hasan dalam setiap sujud panjangnya.
Hasan tidak pernah menyuarakan keinginan itu kepada siapa pun. Bahkan kepada Mak Niah, istrinya, ia hanya mengisyaratkan lewat tatap mata dan sepotong doa yang tertahan.
Namun Mak Niah tahu. Ia tahu persis apa yang memenuhi dada suaminya. Dalam sepinya rumah, ia sering mendapati Hasan duduk sendiri, menatap langit malam dengan mata yang basah.
“Apa Abang masih berharap bisa ke Mekah?” tanya Mak Niah suatu malam.
Hasan terdiam. Ia tahu bahwa pertanyaan itu terlalu indah untuk dijawab. Ia hanya tersenyum, lalu berkata lirih, “Bukan berharap, Yah. Tapi merindu.”
***
Hari-hari berganti. Waktu terus berjalan seperti roda gerobak kardus yang digeret Hasan saban pagi. Kampung itu tak banyak berubah. Jalanannya tetap becek saat hujan, dan kering berdebu di musim panas. Tapi kehidupan terus berdenyut dengan segala kesederhanaannya.
Suatu Jumat yang terang, selepas salat, masjid kampung kedatangan tamu agung. Seorang pejabat tinggi kota datang didampingi lurah, camat, dan beberapa tokoh masyarakat. Ia adalah Wali Kota, yang merupakan seorang birokrat muda yang dikenal religius dan dekat dengan rakyat kecil.
Saat masuk ke dalam masjid, wali kota menatap sekeliling. Lantai masjid mengilap. Kamar mandi harum. Karpet tersusun rapi. Bahkan tempat wudhu tertata bersih tanpa satu pun lumut. Ia kagum.
“Siapa yang merawat masjid ini?” tanyanya kepada Ketua DKM.
Seorang tua menunjuk ke arah Hasan yang sedang menggulung sajadah.
“Itu dia, Pak. Pak Hasan. Dia yang azan, membersihkan, menjaga, dan merawat semuanya. Sejak kami masih kecil, beliau sudah ada di sini.”
Wali kota mendekat. Ia menjabat tangan Hasan yang basah oleh air wudhu. Hasan menunduk sopan.
“Terima kasih, Pak Hasan. Bapak telah menjaga rumah Allah lebih baik dari kami yang hidup berkecukupan.”
Hasan hanya tersenyum. Ia tak mengerti pujian. Yang ia pahami hanya satu: cinta kepada Allah dan kerinduan pada tanah yang dijanjikan-Nya.
Dua minggu setelah itu, Hasan dipanggil ke kantor kelurahan. Ia datang mengenakan baju koko putih yang warnanya sudah pudar, tapi masih disetrika rapi oleh Mak Niah.
Ia kira akan mendapat teguran karena gerobaknya sering menghalangi jalan kota. Namun ketika ia duduk, ia diberi selembar surat berkop resmi.
“Pak Hasan,” ucap Pak Lurah dengan mata yang berkaca-kaca,
“Pemerintah kota melalui program haji khusus marbot dan tokoh masyarakat, menetapkan bapak sebagai salah satu calon jamaah haji tahun ini. Bapak akan berangkat ke Tanah Suci, semua biaya ditanggung.”
Hasan terdiam.
Ia memandangi surat itu dengan tangan gemetar. Beberapa kali ia membaca namanya di sana, memastikan itu bukan mimpi. Lalu, perlahan air matanya menetes, membasahi janggut tipisnya.
“Ya Allah… sungguh Kau Maha Mendengar...”
Beberapa bulan kemudian, Hasan berdiri di pelataran Bandara Soekarno-Hatta. Ia mengenakan ihram. Di sampingnya, Mak Niah menggenggam tangannya erat, mengusap punggungnya dengan doa-doa.
“Jangan lupa titip doakan anak-anak kita, Bang... doakan kampung kita juga... dan jika Abang tak sempat pulang, sampaikan rinduku kepada Ka’bah,” bisik Mak Niah sambil menahan tangis.
Hasan mengangguk. Tak banyak kata. Tak banyak suara. Dalam diamnya, ia menyusun ribuan doa dan rindu yang selama ini ia pendam.
Perjalanan itu adalah perjalanan yang tak hanya menempuh jarak geografis, tapi juga spiritual. Ia terbang membawa cinta dan kembali membawa syukur.
***
Dan di hari yang ditunggu itu, Hasan berdiri di hadapan Ka'bah. Ia tak berteriak. Ia tak berfoto. Ia hanya mematung. Matanya basah, dadanya bergemuruh, tubuhnya gemetar.
Lalu, perlahan ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai marmer yang dingin. Ia sujud. Sujud panjang yang entah berapa lama. Di sekitarnya, jamaah lain terdiam, menyaksikan seorang lelaki tua menangis sejadi-jadinya di bawah langit Baitullah.
“Ya Allah… Engkau telah memanggilku. Engkau telah menyempurnakan rinduku. Aku datang tak membawa harta. Aku datang tak membawa nama. Hanya hatiku... yang penuh cinta kepada-Mu…”
Sujud itu menjadi saksi. Bahwa cinta, jika tulus, akan sampai. Bahwa rindu, jika sabar, akan bertemu. Dan bahwa Allah... selalu menyiapkan kejutan untuk hamba yang ikhlas.
***
Sepulang dari haji, Hasan kembali ke masjidnya. Ia tetap menyapu lantai, tetap menyusun sandal, tetap mengumandangkan azan. Tapi kini, suaranya terasa lain. Ada gema Kakbah di dalamnya. Ada langit Mekah di ujung nadanya.
Orang-orang mulai datang lebih awal ke masjid. Mereka ingin mendengar azan dari seorang hamba yang telah bersujud di hadapan Kakbah. Mereka ingin merasakan getaran dari seorang yang telah meminum air zam-zam langsung dari telaganya.
Hasan tak pernah berubah. Ia tetap Hasan yang sederhana. Tapi kini, setiap sujudnya tak hanya menyentuh lantai masjid kampung, melainkan juga langit suci yang pernah ia tapaki. (*)
Editor : Abdul Wahid