Oleh: Endang S. Sulistiya
PAGI masih perawan. Sinar mentari malu-malu menerobos celah-celah dedaunan, genting juga jendela. Udara masih begitu segar dan menyegarkan. Sama sekali belum ternoda oleh asap kendaraan yang terkutuk.
Memulai sejak pukul lima, Ratna hampir menyelesaikan rutinitas paginya. Memasak sarapan untuk keluarga terkasih. Suami dan dua anaknya.
Sesaat lalu lampu indikator magicom sudah bergeser dari cook ke warm. Tumis kacang panjang yang dikombinasikan dengan tahu putih juga sudah tersaji di piring saji. Bahkan asapnya masih meliuk-liuk seksi bak pragawati. Berikutnya bandeng presto berselimut telur tinggal menunggu sedikit lagi matang untuk kemudian dientas dari wajan penggorengan.
Sekilas menoleh ke jam dinding, ternyata sudah pukul enam kurang lima. Cepat-cepat Ratna menciduk nasi ke piring. Lalu nasi putih panas itu diratakan meliputi permukaan piring. Bermaksud mengangin-anginkannya.
Hal tersebut dilatarbelakangi oleh Heru yang acapkali mengeluh tatkala nasi, sayur dan lauk masih panas semua. Lidahnya serasa terbakar katanya.
Sekira pukul enam lebih lima belas; ketika nasi, sayur dan lauk sudah benar-benar tertata di meja makan, Ratna baru berani memanggil suaminya untuk datang sarapan.
"Pak, sarapannya sudah siap,” lapor Ratna riang dengan kepala menyembul dari pintu.
Heru sedang membaca koran di teras rumah ditemani secangkir kopi hitam dan sepiring kue kering. Itu jadi kebiasaan barunya Heru semenjak dilantik jadi wakil rakyat. Padahal dalu-dulunya Heru kurang suka mengudap berbagai jenis kue dan roti. Dia cenderung lebih memilih ketela goreng atau rebus sebagai teman mengopi di pagi hari.
Waktu telah mengubah manusia. Mulanya Ratna tak mempersoalkan perubahan Heru tersebut, karena hematnya tidak melenceng dari koridor norma dan agama. Justru dengan jabatan anyar yang kini diemban oleh Heru, Ratna berharap suaminya itu terus berubah membenahi diri, menuju lebih baik lagi.
Usai memanggil Heru, Ratna selanjutnya menghampiri anak bungsunya di ruang tengah. Bocah kelas II SD itu tampak masih asyik menonton tayangan kartun di televisi.
"Ayo buruan mandi, Dik!” pinta Ratna agak keras. Sebelumnya Ratna sudah dua kali meminta Candra untuk lekas mandi, tetapi bocah gempal itu tidak mengindahkannya.
Candra memalingkan wajah dari ibunya. "Aku mau berangkat sekolah asalkan diantar naik mobil." Candra mengajukan persyaratan.
"Waduh! Tolong jangan berulah, Dik. Nanti Bapak bisa marah lho. Sekolah sama kantornya Bapak kan beda arah." Andi yang sudah kelas VII SMP turun tangan menasihati adiknya.
Kalau Andi si sulung, sudah pintar mengurus dirinya sendiri. Tidak perlu lagi disuruh-suruh. Berangkat sekolahpun, Andi sudah tidak perlu diantar lagi. Dia biasa berangkat sekolah naik sepeda kayuh bersama teman-temannya.
“Pokoknya aku mau diantar sekolah naik mobil! Titik!” teriak Candra.
“Dik ... kamu itu harus menurut sama Ibu. Jangan jadi durhaka kayak Malin Kundang. Nanti dikutuk jadi batu lho,” ujar Andi dengan nada mengancam.
"Ya sudah. Naik sepeda motor juga tidak apa-apa. Tapi aku minta dibelikan jajan yang banyak.” Candra mengganti persyaratan yang harus dipenuhi oleh ibunya.
"Ya, baik. Nanti kita mampir ke minimarket dekat sekolahan. Kamu bisa pilih jajanan sesukamu.” Ratna menyanggupi.
“Boleh berapa jajanannya?” tanya Candra, memastikan lebih dahulu.
“Hmm ... lima saja ya?” tawar Ratna.
“Itu sedikit! Aku maunya dua puluh!” seru Candra.
“Sepuluh saja ya? Sudah banyak itu!” Andi membantu negosiasi.
“Ya, sudah. Sepuluh tidak apa-apa.” Candra memutuskan.
“Tapi sepuluh jajanan itu harus dihabiskan lho. Awas kalau tidak habis!” hardik Ratna.
“Oke!” jawab Candra singkat.
Bersegera Candra mematikan TV, lalu dia berjalan menuju kamar mandi. Ratna mengikuti dari belakang.
Candra memang masih harus dimandikan oleh Ratna. Kalau dibiarkan mandi sendiri, tidak selesai-selesai nantinya.
Rampung memandikan Candra, Andi yang sudah selesai sarapan pamit berangkat sekolah. Sekilas melirik ke meja makan, Ratna kecewa karena nasi yang disiapkannya untuk Heru masih utuh.
"Tidak sarapan dahulu, Pak?" Ratna mendekati suaminya yang tengah mengenakan sepatu. Heru sudah berdandan rapi dengan aroma parfum yang menguar.
"Sarapan seperti pakan ternak itu yang kamu tawarkan padaku?! Setiap hari kok disuruh makan nasi sama tumis kacang panjang terus. Bisa masak yang lain tidak kamu ini?" cerocos Heru, nyinyir.
Ratna tersentak. Walaupun begitu, dia tetap berupaya tenang dan sabar.
"Lha Bapak ingin makan apa? Dengan senang hati, akan saya masakkan. Di kulkas juga masih ada stok ayam dan telur.”
“Tidak usah!” pekik Heru.
“Besok lagi kalau masak itu yang enak! Jangan seperti orang susah! Masak meja makan isinya tak ada yang layak begitu!”
Sekelebat Heru menyabet kunci di atas meja. Tanpa pamit dia berlalu pergi. Meninggalkan Ratna yang terluka batinnya.
Wanita tiga puluh lima tahun itu hanya bisa mengelus-elus dadanya. Berharap perihnya dapat sedikit berkurang.
Dahulu Heru sama sekali tidak pernah berkata keras juga kasar sebagaimana tadi kepada Ratna. Ketika keduanya tengah cekcok, Heru malah yang memilih menghindar. Lantas ketika hati mereka sudah sama-sama dingin, pasangan suami istri itu akan berbicara dari hati ke hati di dalam kamar. Tujuannya supaya anak-anak tidak dengar.
Akan tetapi sekarang-sekarang ini, Heru sudah tidak pernah pilih-pilih tempat lagi. Tidak peduli di dekatnya ada Andi atau Candra, Heru leluasa meninggikan suara.
Lebih-lebih lagi, sekarang ini masalah sepele langsung dibesar-besarkan oleh Heru. Sebentar-sebentar isi kebun binatang keluar dari mulut Heru.
"Bu, saya sudah siap," ucap Candra.
Sejenak Ratna gelagapan. Walaupun perasaannya sedang kacau, dirinya tetap memaksakan diri mengantar Candra berangkat sekolah.
Balik dari sekolahan, hati dan pikiran Ratna semakin tidak tenang. Gelisah. Seolah-olah ada bisikan gaib yang menyuruh Ratna mengecek keberadaan suaminya. Apakah benar Heru berangkat ke kantor DPRD untuk bekerja sebagaimana mestinya?
Akhirnya Ratna menuruti firasatnya. Sepeda motor dikendarainya menuju kantor DPRD. Selintas lalu melewati warung bubur ayam Mbak Titis, Ratna seperti melihat mobil Heru. Secepat kilat Ratna putar arah.
Suara pria dan wanita yang sedang bermesraan menggigit telinga Ratna. Merah padam wajah Ratna ketika dirinya mendapati suaminya dengan janda muda itu tengah bercumbu penuh gairah.
Bulir air mata mengalir tanpa bisa dibendung lagi. Tak tahan menyaksikan pemandangan itu lebih lama, Ratna melesat pergi dengan sepeda motornya.
Sesampainya di rumah, Ratna menangis tersedu-sedu. Dia teringat akan pengorbanannya di masa lalu. Masa di mana dia dan Heru masih pengantin baru. Masa di mana mereka masih susah.
Saat itu Heru masih jadi sales rokok, gajinya tidak menentu. Ratna kerap kebingungan membelanjakan uang yang tak seberapa itu. Untuk menyiasatinya, Ratna sering memanfaatkan ketela di kebun untuk konsumsi sehari-hari dan sesekali dijual untuk tambahan.
Setelah Heru punya jabatan, dompetnya tebal, rumah megah, mobil dan kemewahan lainnya; perangainya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Ratna sungguh-sungguh sudah tidak mengenali Heru lagi.
Laksana makan ketela, sesaat enak dan empuk di dalam mulut, tetapi seterusnya seret di tenggorokan bila tak diiringi minum yang cukup. Itulah yang dirasakan oleh Ratna sekarang. Kekayaan dan kejayaan yang awalnya indah, belakangan menebar penderitaan karena Heru sudah terlampau jauh berubah. (*)
Penulis menetap di Boyolali. Alumnus FISIP UNS. Cerpen-cerpennya sudah dimuat di media cetak dan online.
Editor : Abdul Wahid