Oleh : Yeni Endah
“Buat Dian dan Lia,” ucap Bu Ratih pada Heru saat memberikan dua kotak nasi ke keluarga Heru pada hari Jumat. Begitu menerima kotak nasi, ia segera memberikannya ke kedua anaknya.
Heru bersyukur mendapat kiriman nasi. Itu artinya bisa sedikit menghemat pengeluaran uang belanja. Apalagi sudah tiga bulan ini ia di PHK dari pabrik tempatnya bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia menggunakan uang pesangon, tapi karena tidak ada pemasukan, lama-lama simpanan uang semakin menipis.
Heru sudah mencoba mencari pekerjaan, tapi belum ada surat panggilan wawancara ke rumahnya. Ia sempat menjadi ojek online. Baru sebulan ngojek, HP-nya rusak.
“Daripada diperbaiki mending beli baru saja, Pak. Biaya perbaikannya hanya selisih sedikit,” saran tukang servis HP pada Heru.
“Sebenarnya aku ada uang untuk beli HP baru, tapi kalau beli HP baru, tabunganku habis. Bagaimana dengan nasib anak-anak dan istriku. Kebutuhan mereka lebih penting.”
Heru mempertimbangkan dengan seksama. Akhirnya dirinya memutuskan untuk ojek pangkalan saja dan menerima pekerjaan apa saja asal bisa menghasilkan uang. Dari mulai mencabuti rumput di pekarangan rumah tetangga, hingga mengangkat galon.
Pekerjaan apapun ia sanggupi demi sesuap nasi. Sementara, Asti istri Heru bekerja sebagai tukang cuci dan setrika baju.
***
Sudah enam kali Bu Ratih rutin mengirim nasi ke rumah Heru setiap pukul 10.00 pada hari Jumat. Namun, kali ini kotak nasi yang diberikan hanya satu.
“Kok cuma satu Pak, nasinya. Biasanya kan dua?” tanya Dian, anak tertua Heru.
“Ya dikasihnya cuma satu. Disyukuri saja apa yang orang beri ke kita ya Nak,” jawab Heru. “Karena cuma satu. Kalian bagi dua saja,” imbuh Heru lalu duduk di teras sambil menyesap sebatang rokok.
Dian lalu memanggil adiknya untuk makan. Saat membuka kotak nasi, isinya ayam goreng tepung, kesukaan Lia.
“Sudah cuci tangan?”
Lia mengangguk.
“Ini dimakan ya Dik. Dihabiskan.” Dian mengalah dan memberikan nasi kotak pada Lia.
“Wah, ayam goreng tepung.” Terlihat ekspresi wajah bahagia bocah berusia 5 tahun itu.
“Kak Dian kok nggak makan. Biasanya kan kita makan bareng-bareng?” Lia merasa heran.
“Kamu makan dulu aja.” Dian sengaja tidak memberitahu adiknya jika hanya dapat satu kotak nasi. Lagipula ibunya sudah menggoreng tahu dan tempe. Jadi Dian akan makan itu.
***
“Bu, tadi dapat nasi kotaknya cuma satu.” Dian memberitahu ibunya saat pulang mencuci dan menyetrika baju dari rumah tetangga.
“Lho kok cuma satu. Bukannya dua?” Asti tampak terkejut. Dian mengangkat bahunya.
“Ya mana Dian tahu Bu. Aku terimanya cuma satu. Dan aku berikan pada Lia. Coba tanya sama bapak,” ujar anak berusia 10 tahun itu.
“Jadi kamu nggak dapat nasinya ya, Nak?” Dian menggeleng lalu masuk ke kamar. Bermain dengan adiknya.
***
“Pak, apa tadi Bu Ratih kasih nasinya cuma satu?” cecar Asti pada Heru, suaminya setelah pulang salat Jumat.
“Iya, Bu.”
“Duh, kok kebangetan banget Bu Ratih. Jadi orang nggak amanah. Padahal aku kasih empat kotak nasi. Dua untuk keluarganya dan dua untuk keluarga kita, sesuai amanah Pak Haji Basir. Kok dia tega ambil jatah punya kita.” Asti geram.
“Lho maksud ibu apa?” Heru memastikan ucapan istrinya.
“Nasi yang Bu Ratih kirim itu sedekah dari keluarga Pak Haji Basir, Pak. Aku kan kerja cuci setrika di rumahnya. Selain itu juga bantu menata nasi kotak untuk Jumat berkah yang dibagikan di masjid. Jadi sebelum mengirim nasi ke masjid, aku diminta untuk menyiapkan empat kotak nasi. Dua untuk keluarga kita dan dua untuk keluarga Bu Ratih. Bu Ratih kan yang antar nasinya ke masjid. Jadi aku minta tolong antar sekalian buat Dian dan Lia, karena searah,” jelas Asti.
“Jadi kiriman nasi kotak itu dari Pak Haji Basir bukan dari Bu Ratih?”
“Ya iyalah. Bapak pikir dari siapa? Jangan-jangan kamu pikir dari Bu Ratih, ya?”
“Iya, Bu.”
“Apa Bu Ratih nggak bilang kalau kiriman nasi itu dari Pak Haji Basir?”
“Nggak. Pertama kali nganter cuma bilang buat Dian dan Lia. Selanjutnya ya cuma kasih nasinya ke bapak tanpa ngomong-ngomong apa-apa.”
“Oalah Gusti.”
“Bapak pikir itu sedekah rutinnya Bu Ratih. Mereka kan keluarga kaya.”
“Itu kan dulu Pak. Sekarang ekonomi keluarga mereka sama dengan kita.”
Mata Heru terbelalak.
“Bapak belum tahu ya. Usaha suaminya Bu Ratih kan bangkrut. Ditipu investasi bodong sama temannya. Selain itu, suaminya juga hobi judol. Harta bendanya ludes. Katanya rumah yang sekarang ditempati juga sudah dijadikan jaminan bank. Anak semata wayangnya juga nggak tahu kabarnya. Sudah tidak sudi mengurus mereka. Bu Ratih juga kerja di rumah Pak Haji Basir, jadi tukang masak. Sedangkan suami sekarang sering sakit-sakitan,” imbuh Asti.
“Kalau begitu aku mau ke rumah Bu Ratih dulu, Pak?” Asti berpamitan.
“Buat apa, Bu?”
“Mau tanya, Pak. Kenapa dia ambil jatah kiriman nasi buat anak kita. Apa nasi yang diberikan kurang? Mereka kan cuma tinggal berdua. Kalau misal kurang bisa bilang ke Haji Basir. Pasti dikasih lebih.”
“Tu...tunggu Bu,” cegah Heru dengan terbata-bata.
“Tunggu apalagi, Pak. Kalau dibiarin, mungkin Bu Ratih akan melakukan hal yang sama. Mengambil kotak nasi hak kita.”
“Se... sebenarnya.” Keringat dingin mengalir di sekujur tubuh Heru.
Asti memandang Heru dengan tatapan tajam.
“Sebenarnya kiriman nasinya dua Bu, tapi sudah aku makan satu.”
“Duh Pak, bisa-bisanya kamu ini. Itu kan buat anak kita. Gara-gara kamu, Dian jadi nggak dapat. Dia rela nggak ikut makan buat dikasihkan ke Lia.”
“Hmm.. tapi tadi aku sudah meminta Dian untuk berbagi makanan dengan Lia.” Heru membela diri.
“Tega-teganya kamu ambil jatah anakmu Pak. Padahal aku sudah menanak nasi, menggoreng tahu dan tempe. Kamu bisa makan itu!”
“Aku bosan makan tempe tahu terus Bu. Maafin bapak jadi tergoda seperti anak kecil. Tidak bisa menahan diri waktu tahu kiriman nasinya berisi ayam goreng tepung.”
“Aku juga nggak mau masak tahu tempe terus Pak, tapi ekonomi kita sedang sulit. Aku masak sesuai dengan uang yang kita punya. Apalagi bapak ngojek lagi sepi. Bahkan aku rela ambil cuci dan setrika dua keluarga lagi untuk menambah penghasilan.” Asti mengelus dadanya yang terasa sesak.
“Sudah nggak usah diperpanjang. Cuma masalah nasi aja ribut. Ini bapak ganti nasi yang bapak makan tadi. Hari ini kiriman nasi di masjid melimpah. Bapak dapat dobel.” Heru menunjukkan plastik putih yang berada di tangan kanan. Berisi dua kotak nasi.
“Ini bukan cuma sekadar nasi Pak, tapi sikapmu sebagai seorang bapak yang tidak bisa dijadikan contoh. Bagaimana kalau anak-anak tahu. Kalau bapaknya tega makan kiriman nasi yang seharusnya buat mereka. Coba kalau aku tidak tanya lebih dulu ke kamu dan langsung melabrak Bu Ratih. Padahal kamu tersangkanya. Bisa setengah mati malunya aku. Hubungan dengan tetangga juga bisa rusak.” Asti lalu meninggalkan Heru dan menuju kamar. Menemani anak-anaknya. (*)
*) Ibu rumah tangga, tinggal di Banyumanik, Semarang
Editor : Muhammad Fahmi