Oleh: Endang S. Sulistiya
HANIN tidak menyangka, konfirmasi pertemanan di media sosial yang ia lakukan bulan Desember tahun lalu, akan menjelma nyamuk yang terus berdenging. Mengganggu keseharian, pekerjaan hingga rumah tangganya.
Amanda Cahya Lestari. Saat akun tersebut melayangkan permintaan pertemanan, tanpa sedikit pun curiga, Hanin langsung menyetujui. Apalagi melihat ratusan mutual friend di antara mereka. Bahkan ketika akun tersebut mengenalkan dirinya sebagai mantan kekasih Fahmi suaminya, Hanin menanggapi dengan santai.
Karena bagi Hanin, pernikahan adalah perjalanan panjang yang berliku, ia dan Fahmi sudah bersepakat untuk fokus menatap ke depan. Sementara masa lalu dianggap sebagai spion yang tidak bisa dilepas karena sesekali akan berguna. Maka sejak awal perkenalan, Hanin dan Fahmi sudah saling terbuka satu sama lain tentang masa lalu mereka. Saat resepsi pernikahan pun, mereka mengundang mantan masing-masing.
Samar-samar Hanin ingat bahwa nama Amanda dahulu memang masuk dalam daftar undangan dari pihak suaminya. Namun ia tidak yakin, Amanda datang atau tidak kala itu. Sekelebat tanda tanya di kepala Hanin itu kemudian tanpa diduga dijawab sendiri oleh Amanda.
Dalam chat-nya, Amanda meminta maaf karena tidak bisa datang ke acara pernikahan Hanin dan Fahmi delapan tahun silam. Amanda menjelaskan bahwa saat itu ia sedang berada di Jerman. Menemani suaminya yang tengah ditugaskan di sana. Tidak tanggung-tanggung, Amanda mengirimkan puluhan foto kebersamaan dirinya dengan suaminya di Jerman.
Hanin menanggapi sekenanya, membalasnya dengan emoticon atau ungkapan kagum ala kadarnya. Sekedar basa-basi. Sebagaimana hubungannya dengan mantan kekasih suaminya yang lain. Masih terjalin komunikasi tetapi tidak intensif. Terhalang oleh kesibukan sendiri-sendiri yang telah berkeluarga.
Akan tetapi panah perkiraan Hanin meleset jauh. Berbeda dengan mantan kekasih suaminya yang lain, Amanda selalu rutin menyapa, aktif bertanya kabar dan bertubi-tubi mengirimi Hanin foto-foto yang tidak diminta. Tidak cukup sampai di situ, Amanda juga sering men-tag dan me-mention akun media sosial Hanin dalam status-statusnya.
Dan yang membuat Hanin geleng-geleng kepala, Amanda kerap sekali melontarkan pertanyaan yang tidak lumrah. Seperti Fahmi sudah pernah mengajak liburan ke luar negeri belum? Hadiah apa yang diberikan oleh Fahmi saat anniversary pernikahan? Hingga seberapa sering mereka berhubungan intim? Lalu dilanjut dengan pertanyaan yang sangat memancing emosi, “apakah pernikahan kalian baik-baik saja? Kalau iya, mengapa kalian belum memberi Amel adik?”
Lambat laun Hanin mulai jengah. Ia merasa komunikasi yang dilakukan Amanda sudah tidak wajar. Alih-alih segera memutus pertemanan dengan Amanda, Hanin lebih memilih mengabaikan saja. Lagi pula Hanin juga sudah mengurangi interaksi di sosial media. Meskipun Hanin masih kerap dapat laporan dari teman-temannya bahwa Amanda masih terus berdenging bagai nyamuk, ia bertahan pada sikap membiarkan. Pikirnya, tidak masalah berdenging asal tidak menggigit.
Dengan menutup kuping rapat-rapat, Hanin kira sudah bisa mengatasi persoalan. Salah besar! Entah bagaimana caranya, Amanda bisa mendapatkan nomor HP Hanin. Seperti orang kerasukan, Amanda terus-menerus meneror Hanin dengan SMS, telepon, chat setiap harinya.
Merasa tidak cukup menutup telinga rapat-rapat, Hanin kemudian melindungi diri dengan selimut. Hanin mengambil sikap tegas dengan memblokir nomor Amanda. Dalam sekejap, Hanin bisa menghirup napas lega. Kedamaian telah kembali dalam hidupnya. Ia bisa beraktivitas, bekerja, dan mengurus suami dan anak dengan tenang dan nyaman kembali.
Hingga tibalah malam itu, saat Hanin, suami dan anaknya berkumpul di ruang keluarga. Hanin dan Fahmi meluangkan waktu, mendampingi Amel belajar. Karena putri mereka yang duduk di kelas 3 SD akan menghadapi penilaian tengah semester.
“Ma, Pa, apa benar nama Amel itu kependekan dari Amanda Lestari?” celetuk Amel. Hanin dan Fahmi saling berpandangan.
“Kata siapa, Mel?” tanya Fahmi, heran.
“Kata wanita yang selalu menelepon ke rumah,” jawab Amel polos.
“Wanita? Wanita siapa, Amel?” kejar Hanin penasaran.
“Wanita itu mengaku namanya Amanda Cahya Lestari. Pacar papa sebelum menikahi mama.”
“Astaga!” seru Hanin dan Fahmi hampir bersamaan. Hanin dan Fahmi saling berpandangan kembali.
“Apakah Amanda menerormu juga, Ma?” Fahmi menyelidik kepada Hanin.
“Iya beberapa waktu lalu. Sejak aku bergerak cepat memblokir nomor-nomornya, dia sudah berhenti. Aku kira dia sudah lelah dan menyerah. Tapi ternyata.....”
“Sudah berapa kali kamu menerima telepon dari Amanda, Mel?” Fahmi mengalihkan pertanyaan ke Amel.
“Sudah sering, Pa! Aku biasanya tidak menggubrisnya. Langsung aku tutup teleponnya. Mungkin karena kesal, hari ini dia memaki-makiku. Mengatakan bahwa namaku diambil dari namanya. Katanya aku tidak tahu terima kasih,” ungkap Amel panjang lebar.
“Terlalu. Tidak benar itu!” Wajah Fahmi memerah. Marah.
“Sebenarnya siapa Amanda ini, Pa? Papa belum pernah menceritakan tentang mantan kekasih Papa yang satu ini ke Mama,” ujar Hanin terdengar menuntut. Menempatkan Fahmi sebagai tersangka.
“Amanda ini sebenarnya bukan mantan kekasih tetapi mantan pasien, Papa. Dahulu memang dia sempat mengungkapkan cinta tetapi Papa tolak dengan halus.” Tanpa terbelit-belit Fahmi menjabarkan duduk persoalan yang sebenarnya.
Secara gamblang Fahmi juga menuturkan bahwa setelah cintanya ditolak, Amanda langsung pindah psikiater. Mereka sudah lama putus kontak sampai tiga hari jelang pernikahan dengan Hanin, Amanda tiba-tiba menghubungi Fahmi lagi. Amanda dengan bangga memamerkan calon suaminya. Berpikir untuk menjaga silaturahmi, Fahmi mengundang Amanda ke pernikahannya. Anehnya Amanda menghilang lagi dan baru setahun belakangan menghubungi kembali.
Hanin mangut-mangut. “Persis! Dia melayangkan permintaan pertemanan padaku juga setahun lalu.”
“Cie ... Papa banyak yang menaksir juga rupanya,” ledek Amel.
Ngiiing..... Seekor nyamuk mendadak berdenging di antara keluarga itu. Memang di bulan Desember yang basah ini, nyamuk-nyamuk suka bertamu. Hendaknya kedatangan mereka jangan disepelekan, karena berpotensi membawa bibit penyakit.
Dengan gerakan cepat, Fahmi menepuk nyamuk itu. Seketika denging nyamuk lenyap. Fahmi menunjukkan nyamuk yang remuk di telapak tangannya. Hanin dan Amel menyeringai.
“Kurasa setahun terakhir ini, kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Sehingga kita jarang mendapatkan momentum seperti sekarang ini. Bicara dari hati ke hati,” ucap Fahmi serius. Pandangan Hanin dan Amel menjurus ke Fahmi.
“Mungkin kita pernah dalam tahap merasa tidak perlu berkomunikasi ketika ada masalah yang dapat diatasi sendiri. Seperti halnya pada kasus Amanda yang telah kita pendam setahun lamanya,” imbuh Fahmi.
“Ya, benar. Padahal dengan komunikasi, segala kesalahpahaman dapat segera diatasi. Seperti menepuk nyamuk. Selesai dalam waktu cepat.” Hanin yang sudah mengerti arah pembicaraan suaminya, tergiring membuat kesimpulan.
Amel tanpa pamit berlari cepat. Sebentar masuk ke kamarnya, ia kemudian datang dengan membawa semprotan pembasmi nyamuk.
“Buat jaga-jaga. Siapa tahu ada nyamuk lainnya,” ujar Amel sambil menyemprotkan pembasmi nyamuk ke seluruh penjuru ruangan. Hanin dan Fahmi bertatapan diiringi derai tawa.#
Tentang Penulis
Endang S. Sulistiya, menetap di Boyolali. Alumnus FISIP UNS jurusan Administrasi Negara. Tujuh tahunan vakum, ia berusaha kembali ke dunia tulis menulis pada awal tahun 2021. Tergabung dalam Grup Diskusi Sahabat Inspirasi membuatnya selalu termotivasi untuk terus berkarya.
Editor : Abdul Wahid