Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kejutan Tahun Baru

radar bromo • Minggu, 22 Desember 2024 | 19:00 WIB

 

ILUSTRASI
ILUSTRASI

oleh: Reni Asih Widiyastuti

 NINGSIH memandang nanar ke arah anaknya yang terlelap dalam tidur. Anak yang kulitnya hitam legam terpanggang matahari. Tubuhnya kurus kering, seperti hanya tinggal kulit yang menempel pada tulangnya. Kulit yang menggelambir karena keriput itu nampak menua sebelum waktunya.

Sebagai gelandangan, tentu saja mereka makan tergantung dengan apa yang ditemukan pada hari itu. Jika saja beruntung, maka mereka akan mendapatkan sisa-sisa makanan restoran di ujung jalan dekat dengan gubuk reyot mereka. Kalau tidak mujur, jangan harap bisa mendapatkan makan. Bayangkan saja, sisa-sisa makanan di restoran sekecil itu diperebutkan oleh puluhan gelandangan. Tubuh Ningsih yang ringkih pasti kalah gesit dengan para gelandangan yang lebih muda, bertenaga, lapar, dan beringas.

Jika hari-hari biasa saja Ningsih selalu kalah cepat dengan para gelandangan itu. Apalagi menjelang tahun baru seperti ini. Meski sering terlihat duduk-duduk di sekitaran restoran untuk melepas lelah, lalu setiap jam makan malam tiba gegas menunggu pelayan restoran, nyatanya para gelandangan lebih berkuasa. Jadilah Ningsih tak bisa mendapatkan sisa makanan di restoran itu. Sisa makanan yang seharusnya bisa ia panaskan kembali.

Sudah seminggu ini, Agam, anak Ningsih, tergolek lemah. Badannya panas. Wabah demam disertai batuk memang sedang menyerang kota ini. Orang yang makan cukup dan tidur hangat saja bisa terserang demam, apalagi mereka yang makan sedikit dan tidur berteman angin malam. Seminggu ini pula, Ningsih terus membanting tulang untuk lebih giat mencari sisa-sisa makanan yang tercecer di restoran ujung jalan. Untuk membeli obat, ia jelas tidak mampu, apalagi membawa anaknya ke dokter. Ia hanya berpikiran, kalau saja Agam makan dengan cukup, pasti demamnya akan sedikit menyusut. Meski begitu, ia tidak goyah dan tetap bertahan sekuat yang ia mampu.

Ningsih meninggalkan Agam di sebuah tempat yang mereka sebut rumah. Terletak di sebuah reruntuhan gedung tua yang konon angker. Namun, mereka berdua tidak takut. Mereka berdua lebih takut dengan apa yang disebut angin malam.

“Heh, pergi menjauh! Makanan itu milikku!” teriak Ningsih mendekati tempat sampah yang juga sudah dikerubungi  para gelandangan lain.

“Tidak bisa! Enak saja kamu berkata seperti itu, jelas-jelas kami datang lebih awal!”

“Iya ... iya ... .” Suara kor menyetujui perkataan para gelandangan sebelumnya.

Ningsih tak menyerah. Jika biasanya ia lantas menjauh ketika sudah kalah cepat dengan gelandangan yang lain. Namun, saat ini jelas ia harus berusaha lebih keras agar Agam bisa makan dan terbebas dari demam. Tubuh Ningsih yang ringkih itu kini sudah di antara puluhan gelandangan. Terimpit. Terdesak. Ia terjatuh, tubuhnya terinjak kaki-kaki yang berebut sisa makan siang. Kaki-kaki itu perlahan beranjak pergi dan Ningsih yang memar dan tak kebagian sisa makanan. Dengan menahan sakit, ia berdiri. Ia ingin memastikan, apakah tempat sampah telah benar-benar kosong. Tubuhnya gemetar. Kini, didapatinya tempat sampah telah bersih dari sisa-sisa makanan, hanya tersisa beberapa sampah plastik.

Pupus sudah. Tubuhnya yang memar karena terinjak, kini terduduk kembali. Mencoba mengembalikan kekuatan dalam beberapa menit.

“Ini, Mbak.”

Sebuah tangan terjulur. Memberikan sebuah kotak berisi nasi. Ningsih memandang tangan itu, terlihat bercahaya.

“Terima kasih,” ucap Ningsih lemah dan sedikit bergetar.

Pemilik tangan itu pergi tepat saat suara sirine datang mengaung. Itu sirine penertiban. Ningsih berdiri lalu berusaha berlari sekuat tenaga sebelum tubuhnya berada dalam pelukan sebuah tangan kokoh yang mencengkeram kuat-kuat. Tubuhnya meronta. Kotak dalam tangannya terlepas-mengempas tanah. Isinya berhamburan terinjak sepatu petugas penertiban. Mata Ningsih memerah marah. Berteriak. Ia seperti orang kesurupan. Hanya satu yang berada dalam pikirannya saat ini—Agam. Namun, tangan kokoh itu terus menggiring dan menaikkannya ke dalam mobil secara paksa. Mana mungkin mendengar jeritan hatinya yang berulang kali memanggil nama Agam.

Mobil melaju dengan kencang. Ningsih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang masih nyeri lantaran sempat sedikit terinjak manakala berusaha menyelamatkan isi kotak makanan. Tangisnya mendadak pecah sepecah-pecahnya.

Agam masih terbaring lemah di dalam rumah yang bahkan sebenarnya tidak layak disebut gubuk. Demamnya semakin meninggi. Ia terbaring lemah menunggu Ningsih, yang pagi hari lalu pamit ingin mencarikan makanan untuknya. Namun, semalaman Ningsih tak kunjung juga kembali. Agam semakin tak kuasa menahan lemas lalu tertidur.

***

Agam terbangun oleh riuh suara di luar rumah—memanggil-manggil namanya. Entah kenapa, mendadak tubuhnya terasa ringan seperti kapas. Ia mampu bangkit dan berjalan sedikit demi sedikit. Kemudian, dibukanyalah pintu. Segera terpampang beberapa wajah para gelandangan dengan raut cemas.

“Agam ... Ningsih, Agam!”

“A-ada apa dengan ibuku?” refleks Agam.

“Ada penertiban. Ningsih jadi salah satu yang ditangkap polisi!”

Informasi itu seketika membuat mata Agam membola. Beberapa hari lagi adalah tahun baru. Sebenarnya bukan kejutan seperti sekarang yang ia harapkan. Melainkan bisa berkumpul dengan sang ibu dalam keadaan sehat saja sudah cukup. Namun, kenapa Tuhan memberinya cobaan berlebih? Tubuh yang tadinya seringan kapas pun berbalik begitu berat, lalu luruh ke tanah. Ia benar-benar syok. Tak tahu harus berbuat apa. Barangkali di kepalanya muncul pertanyaan: Bagaimana cara membebaskan Sang Ibu dari pihak kepolisian?

Tak lama, Agam seperti hampir tak sadarkan diri. Para gelandangan itu memapah tubuhnya dan membaringkan di atas dipan reyot. Mendadak napas Agam begitu lemah. Berulang kali sempat mengucap nama Ningsih. Namun, Ningsih tentu tak bisa mendengarnya. Para gelandangan berusaha memberikan pertolongan seadanya. Sayang, nyawa Agam tak dapat tertolong.

Sementara itu, di kantor polisi Ningsih terlihat membujuk polisi, agar dirinya dibebaskan. Bermacam alasan ia lontarkan, demi bisa bertemu kembali dengan Agam. Walaupun tangannya hampa, tersebab isi kotak makanan itu tak lagi dalam genggaman. Kotak makanan yang setidaknya bisa menjadi sumber tenaga bagi Agam. Namun, usaha Ningsih sia-sia belaka. Terlebih ia hanyalah seorang gelandangan. Tak punya sanak saudara untuk dimintai pertolongan. Hingga hari beranjak malam, ia akhirnya resmi mendekam di dalam bui.

***

Agam telah tiada tanpa sepengetahuan Ningsih. Jasadnya telah dimakamkan karena mendapat bantuan dari pemerintah setempat. Di penjara, Ningsih kian nelangsa. Ikatan batin antara ibu dan anak tak pernah terlepas. Ningsih seperti bisa merasakan ada sesuatu hal telah terjadi pada Agam.

Sampai tepat di malam tahun baru, Ningsih tak sengaja membaca berita di koran. Tulisan-tulisan di hadapannya entah membuat ia kian cemas. Dadanya seakan sesak diimpit sebuah kejutan menyakitkan. Malam pergantian tahun yang seharusnya indah bersama dengan anak tersayang, kini tak lagi dapat ia rasakan.

Ditemukan mayat gelandangan anak-anak tak beridentitas. Diperkirakan gelandangan tersebut meninggal karena kekurangan makan. Jasadnya sudah dimakamkan beberapa hari lalu atas bantuan pemerintah setempat.

“Mungkinkah gelandangan itu anakku, Agam?”

 Semarang,  Desember 2024

 Tentang Penulis

Reni Asih Widiyastuti kelahiran Semarang, 17 Oktober 1990. Karya-karya alumnus SMK Muhammadiyah 1 Semarang ini telah dimuat di berbagai media.

 

Editor : Abdul Wahid
#surprise #tahun baru #kejutan