Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Khayalan Yang Patah

radar bromo • Senin, 4 November 2024 | 21:15 WIB

 

Ilustrasi AI
Ilustrasi AI

Café Cinta Waras, di sinilah tempatku bekerja. Aroma kopi akan selalu bersirkulasi dalam setiap rongga paru-paruku. Dentingan cangkir yang beradu dengan sebuah sendok menjadi playlist favoritku. Aroma tembakau yang dibakar seolah menghiasi seluruh penjuru ruangan.

“Ting,” terdengar dentingan bel tepat pukul 8 pagi.

“Ris, ESPRESSO SATUUU,” seru Luthfi dari arah dapur. Suaranya terdengar penuh semangat seperti biasanya.

Tak ada yang lebih penting bagiku selain meracik pesanan pelanggan, dan ya, memang itulah yang setiap harinya aku kerjakan. Mungkin kalau bisa ku bilang, gelas-gelas ini telah memahami diriku lebih dari siapa pun. Sering kali aku merasa, ketika cangkir-cangkir itu beradu dengan sendok kecil, mereka seolah memberiku sinyal bahwa aku masih ada di sini, masih menjalani hari yang sama.

Oh iya, kata orang tak kenal maka tak sayang. Perkenalkan aku Faris, sang pemuda independen, begitu orang menyebutku. Bagaimana tidak, selama seperempat abad hidup, kujalani seorang diri. Tidak ada keluarga, tidak ada cinta, hanya pekerjaan dan teman-teman kerja yang sudah seperti keluarga bagiku.

Di tempat yang aromanya hampir sama dengan perkebunan kopi ini, aku ditemani dua sahabatku, Reza dan Luthfi. Reza adalah kasir di café ini, pria tampan yang sering kali mendapat pujian dari pelanggan. Wajahnya selalu tersenyum, suaranya lembut, dan pembawaannya tenang. Sedangkan Luthfi adalah koki yang punya semangat luar biasa, selalu antusias mencoba resep-resep baru yang dipelajarinya dari YouTube.

Bekerja bersama mereka membuatku merasa berguna, namun tetap saja, meskipun ditemani orang-orang yang punya aura positif, hidupku terasa monoton. Bangun pagi, bekerja, pulang, tidur, dan esok harinya kembali terulang. Aku selalu berharap, seperti di film-film, bahwa suatu hari aku akan menemukan cinta yang bisa mengubah segalanya. Dan secercah harapan itu muncul ketika dia datang ke café ini.

Aurel. Dia adalah wanita ceria yang baru saja bergabung sebagai pelayan di café ini. Kehadirannya seperti secercah sinar di kehidupanku yang selama ini hanya hitam dan putih. Sesuai namanya yang berarti emas, dia bersinar di mataku. Senyum manisnya dan sikapnya yang hangat membuat semua orang merasa nyaman. Setiap hari, aku selalu menunggu momen-momen ketika kami berbicara dan berbagi cerita.

“ESPRESSO SIAPP!” seruku pada Aurel.

Dengan cekatan, Aurel menghampiriku dengan nampan di tangannya. Rambutnya yang hitam panjang terurai, dihiasi pita merah yang melingkari kepalanya. Dia tampak begitu mempesona, seperti sosok yang jauh di luar jangkauanku. Setiap kali dia lewat, aroma vanilla dari parfumnya memenuhi ruang dapur, menggeser aroma kopi yang biasanya mendominasi.

“Ini pesanan meja nomor berapa, Ris?” tanya Aurel sambil tersenyum.

“Nomor 10, yang duduk sendirian,” jawabku sambil menyembunyikan perasaan yang terus bergejolak di dadaku.

“Oke, berangkat,” balasnya ceria sebelum berbalik membawa espresso ke meja pelanggan.

Aku hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh, menikmati setiap detik kehadirannya di café ini. Aurel bukan hanya rekan kerjaku, dia telah menjadi bagian dari rutinitasku, bagian yang paling kutunggu setiap harinya. Kehadirannya membawa warna baru dalam hidupku, yang sebelumnya terasa datar dan membosankan.

Tepat pukul 4 sore, shift kami berakhir. Tubuhnya mungkin sudah hilang dari pandanganku, tapi aroma khas parfumnya masih tertinggal di udara, mengingatkanku bahwa dia baru saja ada di sini. Aku menarik napas panjang, mencoba menghafalkan setiap aroma vanilla yang masuk ke paru-paruku. Rasanya, inilah satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup kembali.

Namun, ada satu hal yang membuatku sedikit ragu. Ada banyak hal tentang Aurel yang terasa aneh. Setiap pagi dia datang diantar oleh sopir pribadi, dengan mobil mewah. Aku kira sopir itu adalah pacarnya, tapi anehnya, Aurel tak pernah menyebutkan siapa pria itu.

"Lu makin bahagia aja ya semenjak si Aurel kerja di sini," goda Luthfi suatu sore, saat kami beres-beres café.

Reza menimpali dengan candaan, "Gimana gak bahagia, tiap hari yang diliat cuma Aurel."

Aku tertawa, meski jantungku berdegup cepat. Mereka benar, Aurel memang sudah menjadi bagian yang penting dalam hidupku. Setiap hari, aku semakin yakin bahwa aku menyukainya. Mungkin, dia juga merasakan hal yang sama. Kami sering berbagi cerita dan tertawa bersama, dan aku berpikir bahwa inilah momen yang telah kutunggu-tunggu.

Suatu hari, aku memutuskan untuk memberanikan diri. Aku ingin membawa hubungan kami ke level yang lebih serius. Jadi, aku mengajak Aurel makan malam di sebuah restoran favoritku.

“Aurel, gimana kalau kita makan malam bareng?” tanyaku dengan gugup.

Dia tersenyum manis, seperti biasa. “Tentu, Ris. Kapan kita pergi?”

Hatiku melayang. Malam itu, aku menjemput Aurel di rumahnya. Rumahnya… begitu mewah, jauh lebih besar daripada yang kubayangkan. Aku sempat merasa tidak percaya diri, tapi aku berusaha mengabaikan semua pikiran negatif. Ini hanya makan malam, pikirku. Aku harus fokus pada rencana asliku—menyatakan perasaan padanya.

Kami duduk di restoran yang telah kupilih dengan hati-hati. Makan malam berjalan lancar, dengan tawa dan obrolan yang terasa hangat. Saat itu, aku merasa inilah momen yang tepat. Dengan tangan bergetar, aku mengeluarkan kotak kecil berisi cincin yang telah kusiapkan.

“Aurel… aku mencintaimu,” kataku perlahan. “Kamu telah mengubah hidupku, dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Maukah kamu menjadi pasanganku?”

Tatapan Aurel berubah. Senyum di wajahnya memudar, digantikan oleh ekspresi yang sulit kuartikan.

“Faris… aku tidak bisa,” katanya dengan suara lembut tapi tegas.

Aku terpaku. “Kenapa? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?”

Dia menghela napas, lalu menatapku dengan pandangan penuh iba. “Kamu salah paham, Ris. Aku sangat menghargai persahabatan kita, tapi… aku tidak pernah melihat kita lebih dari sekadar teman.”

“Teman?” Aku merasa seperti disambar petir. “Tapi… kita selalu bersama, tertawa, berbagi cerita…”

“Faris, aku hanya melihatmu sebagai teman,” lanjutnya, suaranya semakin lembut tapi menghancurkan. “Aku bekerja di kafe hanya untuk mengisi waktu luang. Aku tidak pernah punya niat lebih dari itu.”

Dunianaku seakan runtuh. Namun, ada sesuatu yang lebih aneh. Restoran ini—tiba-tiba mulai terasa tidak nyata. Suasana di sekitar kami perlahan-lahan berubah. Lampu-lampu yang tadinya hangat dan nyaman mulai meredup, dan suara obrolan di sekeliling kami perlahan menghilang. Apa yang sedang terjadi?

Aku berkedip, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Dan tiba-tiba, restoran itu menghilang. Aku tidak lagi duduk di kursi restoran, melainkan berada di sebuah ruangan sempit berwarna putih dengan bau antiseptik yang kuat.

“Apa… apa yang terjadi?” tanyaku, bingung dan ketakutan.

Di sudut ruangan, aku melihat Aurel lagi, tapi kali ini dia berbeda. Dia mengenakan seragam putih, seperti seorang perawat.

“Faris, kau baik-baik saja?” tanyanya lembut.

Aku terdiam. Pikiranku kacau, seolah-olah ada dua realitas yang bertabrakan di kepalaku.

“Aurel? Di mana kita? Bukankah kita sedang makan malam?”

Dia tersenyum simpati. “Faris, namaku bukan Aurel. Aku hanyalah petugas di sini, di rumah sakit ini.”

Aku terhenyak. “Apa maksudmu? Rumah sakit apa?”

Perlahan-lahan, ingatan-ingatan itu mulai kembali. Semua momen di kafe, semua percakapan dan kebersamaan dengan Aurel—semua itu hanyalah ilusi. Khayalan yang kuciptakan dalam pikiranku yang sakit. Aurel bukanlah pelayan café, dia adalah petugas rumah sakit jiwa yang merawatku.

Air mata mulai mengalir di pipiku. Semua yang selama ini kuanggap nyata hanyalah fantasi.

“Aurel…” bisikku dengan suara pecah.

Dia tersenyum lembut, seperti biasa. “Istirahatlah, Faris. Kita akan coba lagi besok.”

Aku menutup mata, tenggelam dalam kenyataan pahit bahwa kebahagiaan yang kucari tidak pernah benar-benar ada. (***)

 Oleh Aminuddin Yasykur*

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

 

Editor : Muhammad Fahmi
#Khayalan #espresso #cerpen #kopi