Oleh: Khairul A. El Maliky
KEDATANGAN Dinasti Asmorodiloka di bagian timur Gunung Sekarloka memberikan kemakmuran bagi masyarakat bekas kerajaan Hindu yang telah dikalahkannya. Selama 30 tahun memerintah kerajaan Islam yang diberi nama Kerajaan Asmorodiloka, sultan pertamanya, yakni Sultan Muhammad Saiful As-Samarqond telah membawa kerajaan yang dipimpinnya ke puncak keemasan.
Di awal pendirian kerajaannya ia sama sekali tidak melakukan kerusakan terhadap istana kerajaan lama yang ditaklukannya. Bahkan ia menawarkan kepada salah satu putri Raja Mahadirajapura agar menikah dengannya. Sang raja pun setuju tanpa harus meninggalkan agama lamanya. Tidak ada sama sekali paksaan dari Sultan baru itu terhadap rakyatnya agar memeluk Islam. Pura-pura dan candi-candi yang menjadi tempat ibadah pemeluk agama Hindu dan Buddha berada dalam perlindungannya. Masyarakat yang plural hidup rukun penuh toleransi. Tidak terdengar gaung dari salah satu tokoh pemuka agama saling mengolok-olok agama lainnya.
Ulama dan para pandita sama-sama berada dalam barisan terdepan dalam menjaga persatuan dan kesatuan umat. Begitu juga ketika ada salah satu warga yang beragama Hindu mengadakan kenduri, baik sultan maupun tokoh ulama yang diundang, mereka tetap hadir demi toleransi. Kendurinya memang budaya orang Hindu, tapi isinya menggunakan dua agama.
Dari istri satu-satunya yang dicintainya itu, Sultan Saiful dikaruniai tiga orang anak, dua lelaki dan satu perempuan. Anak sulungnya yang telah dewasa bernama Pangeran Hadi Saiful Panatagomo. Oleh ayahnya ia telah dipersiapkan untuk melanjutkan tampuk kepemimpinan kerajaan. Maka pagi itu, di tahun ke 30 dirinya memerintah, Sultan memanggil putranya itu.
"Duhai Anakku, ayahmu ini semakin renta. Bayangan kematian telah berada di ujung mata. Tenaga sudah semakin melemah," kata sultan kepada putranya.
"Sebelum Malaikat Maut datang untuk membawa pesan dari Allah, ayah hendak meletakkan jabatan dan akan menyerahkannya padamu."
"Ayahanda, ayahanda jangan bicara begitu. Sungguh ucapan itu amat tak pantas. Saya akan meminta kepada Allah agar memperpanjang umur ayah," ujar Pangeran Hadi lembut sambil menggenggam tangan ayahnya yang merebah di atas ranjang kayu.
"Anakku, kematian manusia telah diatur oleh Allah. Manusia tidak bisa mencegahnya bila sudah sampai pada waktunya. Maka dari itu, ayah mewasiatkan tahta ini padamu. Sementara adikmu, ayah jadikan putra mahkota setelahmu. Tapi, Anakku, sebelum kau dinobatkan sebagai seorang sultan, carilah calon patih yang sejalan denganmu. Patih yang mau mendampingimu dalam memimpin kerajaan ini penuh kelembutan."
Pangeran Hadi tidak paham dengan maksum perkataan dari ayahandanya itu.
"Kenapa ayah tidak menunjuk salah satu anggota keluarga kita saja untuk diangkat menjadi patih?"
"Tidak, Anakku. Jika kita menunjuk dan mengangkat mereka menjadi pendampingmu itu sama kita dengan mendukung nepotisme. Ayah tidak ingin hal itu terjadi. Raja kita ambil dari keluarga kita, sedangkan patihnya dari rakyat biasa," kata sultan menjelaskan. Pangeran mangguk-manggut.
"Tapi, di mana saya akan menemukan orang yang tepat untuk menjadi pendamping saya dalam memimpin kerajaan ini, Ayah?"
"Untuk sementara kamu bertualang. Paling lama sebulan. Pergilah ke desa-desa pelosok."
Pangeran muda itu merasa bahwa titah dari ayahandanya itu sangat aneh. Untuk mencari calon patih saja, sultan memerintahkannya agar merantau. Bukankah anak-anak para pejabat kerajaan itu banyak dan mereka bisa diandalkan. Tapi kenapa justru ayahnya tidak setuju. Maka, berangkatlah pangeran muda bertualang dengan menyamar sebagai rakyat biasa.
Ketika ia berada di suatu pusat keramaian di tengah kota, ia melihat seorang pemuda seusianya sedang menghina seorang pengemis tua yang duduk di depan sebuah masjid.
"Hei, Pengemis Tua! Apa yang kau lakukan di sini?! Ini adalah masjid, tempat ibadahnya orang Islam. Pergi dari sini! Apakah kamu tidak sadar kalau kamu bukan seorang muslim heh?!"
Melihat adegan yang sama sekali tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad, pemuda itu menggeleng.
***
Lantas, karena merasa kasihan dan tidak tega terhadap bapak-bapak pengemis yang dianiaya oleh seorang anak pejabat kerajaan itu, Pangeran Hadi menghampirinya.
"Bapak tidak apa-apa?" tanyanya dengan lembut.
"Saya tidak apa-apa, Den," jawab pengemis tua itu.
"Sebenarnya ada apa ini, Pangeran?" Pangeran muda itu bertanya pada pemuda yang menghardik pengemis tua tersebut.
"Apa urusanmu bertanya ada apa? Apakah kamu mau mencampuri urusan kami?" Tanya pemuda itu memandang sang pangeran yang menyamar sebagai rakyat biasa dengan menghina.
Saat itu, tak seorang pun pejabat kerajaan yang mengenali bahwa dirinya adalah Putra Mahkota, sebab ia memakai semacam penutup di kepalanya berupa kain dan caping. Pakaiannya pun juga biasa sehingga tak seorang pun yang curiga.
"Maaf, Pangeran, bukannya saya mau mencampuri urusan Anda dengan pengemis ini. Tapi, sebagai sesama manusia saya tidak tega apabila Bapak ini diperlakukan dengan kasar," ucap Pangeran dengan lembut.
Pemuda itu tertawa sinis sambil mendengkus mendengar ocehan pemuda miskin itu yang sok bijak di hadapannya itu.
"Jangan sok berempati kamu. Apakah kamu tahu siapa pengemis ini? Dia bukan orang Islam, tapi dia berani mengemis di depan masjid. Jadi, dia memang pantas diusir dari sini," jawabnya dengan sombong.
Mudah saja bagi Pangeran untuk melaporkan pemuda itu pada ayahandanya agar ayahnya yang menjadi pejabat kerajaan di-PHK. Tapi, ia tidak mau melakukan itu.
"Pangeran, bukankah ini adalah masjidnya Allah dan bapak ini juga makhluk ciptaan-Nya Allah?" tanya Pangeran sambil mengulum senyum.
"Tapi kan dia Hindu?!"
"Mau Islam, Hindu, Buddha, Kaharingan, dan Kapitayan penciptanya sama, Pangeran. Yang berbeda hanyalah agama mereka. Mereka sama-sama manusia yang diciptakan Allah," ujar Pangeran lembut.
"Alah. Persetan dengan ocehanmu. Prajurit, ayo kita pergi dari sini!" perintah pemuda itu dengan angkuh.
Lalu, Pangeran mendekati pengemis itu dan memberinya sekantung uang kepeng padanya.
"Terima kasih, Den. Terima kasih." Pengemis itu sampai menyembah-nyembah.
"Berterima kasihlah kepada Sang Hyang Widi, Pak."
Setelah itu, Pangeran melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanan itu ia mencoba mencerna kata-kata ayahnya tadi. Memang, anak-anak pejabat kerajaan tidak ada yang pantas untuk dijadikan patih. Setelah sampai tiba di desa, ia terpana melihat seorang pemuda biasa yang sedang menyuapi seorang pengemis buta.
"Sultan Saiful tak lebih dari seorang penjajah yang tidak hanya ingin menguasai tanah ini, tapi dia juga ingin menghapuskan agama Hindu dan Buddha beserta adat dan budayanya," kata pengemis buta itu. Tentu saja Pangeran yang mendengarnya agak kaget.
"Dia tak jauh beda dengan Muhammad, junjungannya. Konon, Muhammad memerangi bangsa-bangsa di luar Arab untuk memperluas kekuasaannya. Ia merampas, menjajah dan merampok dengan kedok berdakwah. Islam adalah agama penjajah dari Arab."
Tapi yang membuat pemandangan itu ganjil dan Sang Pangeran heran adalah sikap pemuda yang menyuapi orang buta itu dengan penuh kasih sayang. Kenapa pemuda itu tidak marah? Hei, apakah ia telah lupa bahwa Nabi Muhammad pernah melakukan demikian, menyuapi pengemis Yahudi buta yang memusuhi dirinya?
"Permisi, Saudara," sapa Pangeran pada pemuda sederhana itu.
"Iya, Kisanak?"
"Maaf, ada hubungan apa saudara dengan pengemis buta ini?"
"Tidak ada. Bukankah Islam telah mengajarkan kita agar mengasihi sesama?"
Hati Pangeran terpesona dengan jawaban yang meluncur dari mulut pemuda itu.
"Siapa nama saudara dan di mana saudara tinggal?"
Lalu, pemuda itu mengajak Pangeran yang telah menyamar itu ke rumahnya. Betapa ngilunya hati Pangeran melihat tempat tinggal pemuda itu. Ia dan keluarganya tinggal di gubuk reyot. Tapi meski kehidupan mereka miskin, anehnya mereka masih berbagi dengan orang lain tak hirau orang itu beda agama.
"Nama saya Jaka Wana, Kisanak. Saya anak sulung dari tiga bersaudara. Adik nomor dua saya namanya Jaka Wicaksana. Sedangkan adik bungsu saya namanya Wulan Sekarwati."
Gadis berpipi lesung itu menganggukkan kepalanya pada Pangeran.
***
Atas sikap perhatian dan kasihnya terhadap sesama terutama pada rakyat kecil, Sang Pangeran pun mengajak Jaka Wana ke istana. Dan pemuda sederhana itu kaget bahwa pemuda biasa yang baru dikenalnya itu ternyata seorang pangeran kerajaan.
Tibalah saat sultan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai sultan, lalu ia menobatkan Pangeran Hadi sebagai sultan yang baru dan Jaka Wana Samudro sebagai patih Kerajaan Asmorodiloka.
Lalu, sepeninggal sultan sepuh, pemimpin baru yang masih muda itu memimpin kerajaan dengan sangat adil sehingga kehidupan rakyat semakin makmur dan negara menjadi baldatun thayyibah wa rabbul ghafur. Sebab mereka tidak hanya memerhatikan dan mengayomi rakyat kecil. Namun juga memberikan hak yang seluas-luasnya agar rakyat bebas melakukan ibadah keagamaannya.
Dalam waktu yang tidak lama, keduanya menjadi pemimpin yang dicintai oleh rakyat. Untuk memperkuat tali persahabatan antar mereka berdua, Sultan Hadi menikahi Wulan Sekarwati, sedangkan Patih Jaka Wana Samudro menikahi Nilam Cahyawati, adik bungsu sultan. (*)
Khairul A. El Maliky, lahir di Probolinggo, 5 Oktober 1986. Pernah belajar di Pekanbaru, Riau. Karyanya pernah dimuat di beberapa media massa dalam rentang 2012-2024. Tiga novelnya telah diterbitkan oleh Penerbit MNC, Malang.
Editor : Jawanto Arifin