"YAH, seekor kambing kita hilang lagi." Anakku memberitahu aku yang sedang membaca koran di kursi bambu teras rumah. Aku kaget mendengarnya. Tertegun sejenak. Ini sudah yang kedua kalinya seekor kambing di kandang belakang rumah hilang. Bukan kambing di tempatku saja yang hilang. Di beberapa rumah tetangga kanan kiriku hingga beberapa desa yang warganya memelihara kambing juga alami kejadian sama.
Aku tidak mau menuduh siapapun. Yang pasti kambing tidak mungkin jalan-jalan sendiri lalu lupa jalan pulang atau bertemu kambing betina lainnya, jatuh cinta sampai lupa pasangannya yang resah menunggu di kandang. Yang jelas kambingku dibawa pergi orang jahat. Aku lantas memutuskan untuk menjebak pencurinya.
"Aku ikut, Mas." Adik laki-lakiku yang setengah badannya penuh tato bersemangat saat tahu rencanaku menjebak si pencuri.
"Asyik, bisa sekalian olah raga tangan dan kaki. Sudah pegal nih, lama enggak buat olah raga." Aku tersenyum lalu mengangguk.
"Yah, aku ikut." Anaķku yang baru duduk di bangku kelas satu SMP ingin ikutan.
"Kamu jaga Ibumu ya." Aku melarangnya. Ia tampak cemberut. Lalu bergegas masuk ke kamarnya.
***
Malam ini tepat bulan purnama. Aku bersembunyi di dekat kandang kambing. Membawa senter dan arit pemotong rumput. Lamat-lamat aku mendengar suara langkah kaki orang mendekati kandang.
"Ah ini pasti malingnya." pikirku. Lalu keluar dari tempat persembunyian. Menyorotkan senter ke arahnya. Sinar senter mengenai wajahnya. Ia tampak gelagapan. Langsung mengeluarkan sebilah golok dari balik bajunya. Aku bersiul pelan. Adik laki-lakikku keluar dari dapur membawa dua katana terhunus di kedua tangannya.
"Dua lawan satu. Bagaimana? Lebih baik pulanglah." Aku masih menaruh kasihan padanya.
"Sudah kepalang tanggung. Aku siap mati. Toh kalau aku mati, kalian juga bakalan masuk penjara karena bunuh aku. Walaupun kalian bilang membela diri, polisi juga enggak bakalan mau percaya begitu saja. Jadi biarkan aku mencuri kambingmu lagi. Kalian berdua masuk saja ke dalam rumah. Tidur saja ya." Si maling berceloteh panjang lebar. Aku heran sebenarnya ia mau mencuri atau ingin menasehatiku.
Adik laki-lakiku sempat terpancing. Aku segera mendekatinya. Menenangkannya.
"Kekerasan bukan jalan satu-satunya." Adikku mulai bisa tenang.
"Tuh dengerin omongan saudaramu. Mendingan kalian berdua masuk ke dalam dan tidur saja." Si maling coba memprovokasi. Aku kembali menenangkan adik laki-lakiku.
"Kamu mencuri buat apa, wahai kisanak?" Aku bertanya pelan tapi tegas. Si maling diam. Kulihat wajahnya berubah sedih.
"Kambing mau saya jual. Uangnya buat pengobatan istri." Aku terkejut.
"Jangan langsung percaya, Mas. Dia bisa saja bohong." Adik laki-lakiku berbisik megiingatkan. Aku tersenyum.
"Mas percaya kok."
"Mas terlalu baik. Coba tadi dia kita bunuh. Habis perkara."
"Kamu mau kita berdua ditangkap polisi gara-gara bunuh maling." Adik laki-lakiku menggeleng.
"Percayalah Mas tahu apa Mas lakukan." Adik laki-lakiku kali ini mengangguk.
"Sekarang kita jatuhkan senjata masing-masing. Kita ngobrol baik-baik." Aku menjatuhkan arit ke tanah. Disusul adik laki-lakiku dan si maling menjatuhkan senjatanya bersamaan.
"Kita sekarang masuk ke rumahku. Ngobrol baik-baik." Adik laki-lakiku dan si maling mengikuti aku masuk ke dalam rumah. Aku meminta istriku membuatkan tiga cangkir kopi dan menyajikan beberapa cemilan.
"Ayo diminum kopinya." Si maling tampak ragu-ragu.
"Ini enggak ada racunnya kan." Aku tertawa kecil. Lalu mengambil cangkirnya dan meminum kopinya. Lidahku mendadak merasa pahit sangat pahit. Kucoba untuk tidak menampakkannya di depan si maling. Kulirik istriku yang mengintip di balik tirai dapur. Matanya tampak melotot kesal. Aku melemparkan senyuman sambil menahan rasa pahit yang tersisa di mulut.
"Lihat kan, aku masih hidup." Si maling tersenyum. Aku menyodorkan cangkir kopi miliķku. Ia mulai meneguk cangkir kopi yang tadinya milikku.
"Ceritakan kenapa kamu sampai mencuri kambing?" Si maling pun bercerita panjang tentang istrinya yang sakit parah dan kondisinya sekarang. Aku trenyuh mendengarnya.
***
Dua jam berlalu, waktu mulai bergerak lewati tengah malam.
"Ini kambing untukmu." Aku memberikan seekor kambing untuk si maling. Wajahnya tampak sumringah. Berkali-kali ia berterima kasih.
"Aku antar kamu pulang." Si maling awalmya menolak. Tapi aku memaksanya. Ia pun mau.
"Aku yang bawa kambingnya. Kamu yang jalankan motorku." Ia mengangguk.
"Mas, biar Adikmu saja yang antar dia." Istriku berusaha mencegah kepergianku.
"Iya, Mas. Biar aku saja, besok Mas kan kerja." Pendirianku mulai goyah. Aku memutuskan menuruti kemauan istriku. Lalu menyerahkan kambing yang kugendong kepadanya.
"Hati-hati di jalan." pesanku. Adik laki-lakiku mengangguk. Melambaikan tangan kanannya. Sepeda motor pun melaju menembus malam yang kian dingin.
***
Kulihat jam dinding sudah pukul tiga dini hari. Aku cemas sudah dua jam lebih, adik laki-lakiku belum kunjung pulang. Sudah berulang kali aku telepon ponselnya tapi tidak ada jawaban. Entah baterainya habis atau tidak ada sinyal.
Kudengar pintu rumah diketuk. Aku segera membukanya. Berharap itu adik laki-lakiku. Tapi aku kecele. Yang datang dua orang petugas kepolisian. Hatiku langsung tidak enak.
"Selamat pagi. Apakah betul ini rumahmu saudara Wawan?" Seorang Polisi bertanya.
"Iya betul, Pak. Itu nama Adik saya. Ada apa ya?"
"Adik Mas dan satu orang lagi dalam kondisi kritis di Rumah Sakit." Aku berusaha tidak jatuh pingsan. Istriku datang dari belakang menenangkanku.
"Memangnya ada apa ya, Pak?" Istriku gantian bertanya. Sedangkan aku mulai menangis di pelukan istriku.
"Keduanya disangka maling kambing dan digebuki massa. Sejauh ini, kami sudah mengamankan tujuh orang yang dicurigai ikut mengeroyok kedua korban,” Polisi yang lain menerangkan.
"Itu… Itu tidak benar… Itu tidak benar, Pak… Adik saya bukan maling. Dia hanya….. ." kata-kataku terputus, aku jatuh pingsan. Tidak kuat menahan kesedihan. Istri dan anakku terdengar memanggil-manggil namaku. (*)
Yogyakarta, 25 Maret 2024
Herumawan Prasetyo Adhie (Herumawan P A)
Email: herumawanpa@gmail.com
Editor : Abdul Wahid