Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Musim Gugur

Abdul Wahid • Minggu, 14 April 2024 | 19:05 WIB

 

ILUSTRASI
ILUSTRASI

AKU melihat sepucuk bunga mawar jatuh di halaman rumahku. Sempat terpikir, lalu membayangkan betapa indahnya jika bunga ini berguguran dari langit. Aku akan sangat merasakan bahagia serasa beban di pundak terangkat ketika melihat satu per satu bunga jatuh berguguran di cuaca panas dan sedikit berangin untuk membawa harapanku agar sampai kepada dia, yang kutitipkan sepucuk surat beramplop merah.

Namun setelah satu jam berlalu, rintik hujan turun dari gelapnya awan yang tak sanggup menahan titik-titik kecil dari awan hitam yang sudah mendung sejak setengah jam yang lalu.

“Hujannya memang selama ini ya?” tanyaku melihat gerimis telah kulewati selama kurang lebih dua jam lamanya.

Hftttttt....... kalau hujan seperti ini aku gak bisa ngapa-ngapain,” sahut seorang perempuan dengan payung transparan yang berdiri tak jauh dariku menggerutu kecil.

“Gerimis kecil begini kan bikin pusing kepala kalau tidak pakai payung,” omelnya lagi. Padahal dia memakai payung, jaket yang tebal, bahkan sarung tangan untuk menghangatkan telapak tangannya,

Aku menghela nafas panjang begitu lampu telah berganti hijau. Kulihat gerimis telah membasahi jalan dan membentuk sebuah genangan yang apabila terinjak akan mencipratkan air di ujung celana jeans yang kupakai. Pekerjaan menjadi volunteer tidaklah mudah. Aku harus mencari sponsor untuk mendukung kegiatan besar yang akan komunitasku lakukan.

Komunitas peduli kanker adalah sebuah komunitas yang telah aku geluti dalam beberapa tahun terakhir ini. Melihat beberapa nyawa melayang  tepat di tarikan nafas terakhir dalam pelukanku.

Satu, dua, tiga, bahkan puluhan anak-anak kecil hanya bisa tersenyum ceria menikmati hari-hari yang akan berakhir hanya dalam kedipan mata. Para lansia yang hanya bisa tersenyum dibalik mata yang redup menemani sang cucu, bahkan sang menantu atau anak kesayangannya melawan penyakit ganas dengan berbagai rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh.

“Aila Aisy,” panggilku kepadanya.

Anak kecil yang bernama Aila Aisy dengan wajah pucat dan kulit putih susu duduk di kursi roda yang didorong oleh seorang suster. Anak sekecil itu harus memakai selang di hidungnya sambil tertawa seolah menganggap dunianya baik-baik saja. Tugasku adalah memberikan semangat yang kupunya untuk membuat mereka merasa dunia itu akan bertahan lama bagi mereka. Setiap udara yang mereka hirup adalah sebuah kebahagiaan bagiku yang diberi tubuh sehat tanpa kurang suatu apa. Bersyukur adalah kuncinya.

Kulihat Aisy tersenyum manis dengan perban ditangannya. Katanya jatuh dari tangga saat bermain petak umpet dengan teman-temannya. Anak kecil itu memang lucu, sekaligus membuat takut dan khawatir dengan tingkahnya yang di luar pandangan.

“Aila, kamu punya keinginan?” tanyaku kepada Aila. “Aila mau ke negara yang bisa menjatuhkan daun berwarna coklat,” jawab Aila. Musim gugur! batinku. “Baiklah, kalau begitu kakak akan mewujudkannya,” ucapku. Aila dan aku memiliki keinginan yang sama.

Dua hari kemudian, aku ditemani oleh dua orang temanku yang bernama Zizi dan Abraham untuk bertemu Aila.

“Aila, sudah makan siang?” tanyaku kepadanya.

Aila mengangguk dengan mantap. Matanya berbinar, lebih berbinar dari sebelum aku berkata ingin mengabulkan permintaannya. Kedatanganku ini membawa kejutan untuk Aila.

Maka dari itu, aku menutup kedua mata Aila dengan selembar kain hitam. Aku menuntun kursi roda Aila untuk ke suatu tempat. Salah satu sudut rumah sakit yang gelap telah disulap menjadi sebuah pemandangan pepohonan rindang, awan yang cerah, bahkan sebuah trotoar kini sedang kupijak.

Kejutan telah dipersiapkan oleh Zizi dan Abraham untuk mengubah ruangan gelap menjadi ruangan 3D dengan efek gambar dapat menikmati  musim semi hingga musim gugur. Mulai dari bunga yang dimulai mekar, merasakan musim panas, sampai daun berguguran.

Kulihat Aila terlihat takjub dan ingin berdiri dari kursi rodanya, namun kutahan lantaran Aila tak mungkin berdiri karena kelumpuhannya. Dinding yang berputar mengelilingiku dan Aila menunjukkan visual musim semi, musim panas, hingga musim gugur. Visual itu terlihat nyata seperti berada di negara dengan musim itu.

“Ini.... musim gugur???? Benarkah????” tanya Aila dengan mata berbinar.

“Ayo Aila pejamkan matamu, lalu berdoalah untuk sebuah impian yang belum pernah terwujud,” ucapku. Seseorang harus memberikan semangat hidup dan bermimpi, itulah yang aku pikirkan.

Aku melihat Aila memejamkan mata lalu mengepalkan kedua tangannya untuk memohon dan berdoa.

Aku ingin tahu apa permintaan Aila, namun aku hanya bisa penasaran. Tidak semua keinginan harus aku tahu, aku takut tidak bisa mewujudkannya. Aku melihat rambut Aila yang tak ada sehelai pun rambut kini telah ditutup oleh topi rajutan berwarna biru muda.

Dua bulan kemudian, aku mendapat kabar bahwa Aila menghembuskan nafas terakhirnya dalam di memeluk sebuah foto dari bigscreen yang telah kubuat bersama Zizi dan Abraham. Dia sangat merindukan musim gugur. (*)

 

Kanada, Januari 2024

Kuhirup angin yang menari-nari di sekelilingku dengan leluasa. Kunikmati daun-daun yang jatuh diterpa angin. Daun warna coklat kulihat dengan sendu. Aila, aku ingin membawamu ke negara dengan musim gugur yang paling tenang. Aku berharap jiwamu datang bersamaku di sini, Aila.

 

Surat kecil dari Aila untukku:

Aila ingin jalan-jalan bersama kakak cantik yang telah memberikan Aila musim gugur, duduk bersama di taman tanpa kursi roda, dan aku ingin rambutku disisir  oleh kakak cantik.

 

Penulis: Rochmana Dwi Rahayu
Mahasiswa aktif Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret

Editor : Abdul Wahid
#musim gugur