Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pengobral Janji

Ronald Fernando • Minggu, 14 Januari 2024 | 19:15 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Herumawan P A

“Masnya tahu Indonesia punya berapa musim?” tanya salah seorang penumpang pria muda di samping tempat duduķku dalam angkot, membuka percakapan sembari menunggu sopir angkot mencari penumpang.

"Ada tiga itu musim hujan, musim kemarau dan musim pancaroba."

"Salah. Karena sejatinya ada empat musim. Yang keempat itu musim kampanye." Aku mengangguk membenarkan ucapannya.

"Musim kampanye ini hanya datang lima tahun sekali tapi ributnya minta ampun. Melebihi tawuran supporter bola." Aku tergelak kecil mendengar perkataannya.

"Yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan perpecahan di masyarakat, antarsaudara, antarkerabat hingga antarsuami-istri kalau tak bijak menyingkapi perbedaan pilihan politik." Aku menambahkan selesai tertawa. Ia mengangguk.

 

 

"Musim kampanye begini mengingatkan pada gula. Ya sesuatu yang terasa manis di mulut dan disukai banyak orang. Seperti pengobral janji yang dibalut kata-kata manis; yang dilontarkan dalam setiap kampanye." Aku mengangguk sependapat.

"Semakin banyak gula ditelan maka akan semakin haus. Begitu juga obral janji dibalut kata-kata manis selama kampanye yang kalau banyak ditelan tanpa berpikir kritis, akan seperti orang yang gampang dibodohi." Aku menambahkan pendapatku.

"Harusnya pengobral janji dibalut kata-kata manis perlu belajar pada penjual gula. Lihatlah tak ada pembeli yang menanyakan apakah gula yang dijualnya manis atau tidak? Karena mereka sudah tahu gula itu manis," Aku tertawa kecil.

Percakapan terhenti sebentar. Angkot mulai berjalan kembali. Kulihat penumpang bertambah beberapa orang.

"Mas tahu darimana pembeli yakin gula itu manis?" Ia melanjutkan kembali percakapannya.

"Ya mereka sendiri kan sering merasakannya." Aku menjawab singkat.

"Bukan cuma itu, Mas. Di otak dan alam bawah sadar mereka, sudah terprogram kalau gula itu manis, asin itu garam. Jadi tak perlu ditanyakan lagi kepada penjual gula. Hanya orang konyol atau tak punya kerjaan yang menanyakan gula itu manis atau enggak kepada penjual gula, padahal ia sendiri sering meminum teh atau yang lain diseduh dengan gula."

Aku tertegun mendengar penjelasannya yang panjang lebar. Aku hanya bisa menebak ia seorang mahasiswa filsafat atau tenaga pendidik. Betul-betul tajam perkataannya, membuatku kagum.

"Kredibilitas penjual gula tak perlu diragukan lagi. Selalu menepati janji. Gula yang dijualnya pasti manis. Dan pembeli banyak mempercayainya." Ia gantian yang tertawa kecil.

"Sedangkan pengobral janji, mereka harus menepati janjinya dulu ketika terpilih nanti, biar pemilih percaya. Kalau tak tepati janji, jangan salahkan siapapun kalau tak ada yang mempercayainya lagi." Aku tersenyum.

 

 

"O ya, berhati-hatilah bila kamu terlalu sering menelan kata-kata manis dari pengobral janji yang dibalut janji manis. Karena tak baik bagi nalar pikiranmu." Ia menasehatiku. Aku pun berterima kasih kepadanya.

Tiba-tiba tercium bau tak sedap di dalam angkot yang kutumpangi. Semua penumpang termasuk aku sontak menutup hidung dengan kedua tangan. Ada juga yang langsung memakai masker yang dibawanya. Tak ada yang tahu dari mana asalnya.

Sopir segera menghentikan laju angkotnya di pinggir jalan lalu turun dengan mulut penuh sumpah serapah. Para penumpang satu per satu mengikutinya turun. Aku jadi penumpang terakhir yang turun.

“Bau apa itu? Kok enggak enak?” tanya penumpang yang sedari tadi mengobrol denganku.

“Mungkin ada orang kentut tadi.” jawabku asal-asalan. Sopir manggut-manggut mendengar kataku. Lalu mulai bernyanyi sambil menunjuk satu per satu penumpang, "Bang bang tut cendelo ewo ewo, sopo prei ngentut ditembak rojo tuo, nyang kali ngiseni kendhi, jeruk purut wadhah entut. Kamu ya,” jari telunjuk sopir berhenti pada seorang penumpang pria bertubuh kekar.

“Biasanya yang nuduh itu tadi yang kentut,” sahutnya tak terima. Sopir marah dengan ucapan si pria bertubuh kekar. Terjadi sedikit ketegangan antara keduanya. Tapi bisa langsung dilerai beberapa penumpang lainnya.

“Ya sudah beri saja parfum atau pewangi biar enggak bau lagi,” celetukku. Beberapa penumpang mengeluarkan parfum yang dibawanya lalu bergantian menyemprotkan ke dalam angkot.

Setelah dirasa bau tak sedapnya sudah hilang, sopir masuk ke dalam angkot diikuti penumpang lain termasuk aku dan si pria muda itu. Di dalam angkot kini bau malah berubah sangat wangi. Mungkin karena tadi ada bermacam parfum yang disemprotkan.

 

 

Mencium bau wanginya, aku seperti teringat akan bau lisan dari mereka yang biasa obral janji di musim kampanye yang baru saja dimulai. Baunya juga tercium harum semerbak wangi dan manis. Padahal aku tahu itu hanya kamuflase saja. Karena bau aslinya tidak berbeda jauh dengan bau kentut yang keluar dari perut orang mules seperti yang tercium di angkot tadi.

"Seperti bau asli yang dikeluarkan pengobral janji saat lupa tepati janji," Aku kaget ia seperti bisa membaca alam pikiranku. Lalu aku mengangguk.

"O ya, saya lupa sedari tadi belum kenalan," katanya kemudian mengenalkan namanya. Tak lupa menyebutkan kalau ia sekarang jadi seorang  calon legislatif untuk daerah pemilihan kotaku. Aku kaget mendengarnya. Tebakanku tentang siapa dirinya tadi keliru.

"Tak perlu kaget kalau saya ini juga pengobral janji,". Ia lalu tertawa kecil. Aku menggeleng.

Baru kali ini lihat pengobral janji berani kritik dirinya sendiri. Jarang ada yang mau mengkritik dirinya sendiri. Malah marah jika ada mengkritik mereka.

"Tak semua seperti itu, Mas. Masih ada yang mau dikritik dan legowo menerima kritikan. Contohnya saya,". Aku dan dia tertawa kecil bersamaan.

 

 

"Pilih saya ya" Ia lantas memberikan kartu namanya. Aku mengangguk. Lalu ia pamit hendak turun. Sèbelum turun, kulihat ia membagikan kartu namanya kepada setiap penumpang.

Kubaca kartu namanya. Tak tertulis janji-janji manis setinggi langit. Hanya ada beberapa baris kalimat, "Ingin lebih memajukan budaya literasi Indonesia,"

Aku tersenyum membacanya. Bagus sekali janjinya. Tapi aku tadi lupa memberitahunya kalau tempat tinggalku sekarang di luar kota. (*)

Penulis:

Herumawan Prasetyo Adhie, seorang pejalan kaki yang memilih naik trans Jogja atau becak ketika lelah melanda, juga pemerhati sepak bola dan suka sekali menulis apapun.

Editor : Ronald Fernando
#Pengobral Janji