Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jalan Politik

Ronald Fernando • Minggu, 14 Januari 2024 | 16:15 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

“AYO, ini kesempatan emas bagi anakmu.” Kalimat itu menjadi penutup percakapan  Bung Romy saat meneleponku. Aku sangat paham keinginan beliau. Sebagai pengurus partai politk level kota, beliau tentu ingin mendapatkan kader terbaik. Aku juga mengerti, mengapa anakku menjadi sasaran. Reputasi anakku tengah mengkilap bagai kilau permata.

Anakku bernama Yuzza. Popularitasnya kini terus naik. Sebulan ini, ia menjadi sorotan media. Musababnya, Yuzza berhasil memenangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Ia selaku ketua Badan Ekseskutif Mahasiswa (BEM) memenangkan tuntutan soal ambang batas usia pencalonan wakil rakyat. Seminggu kemudian, Yuzza resmi diwisuda. Ia berhasil merengkuh titel sarjana hukum. Namanya kian melejit di dunia politik.

“Mas, Yuzza bagaimana ini?’’ tanya istriku.

“Maksudmu, bagaimana?’’ aku balik bertanya.

“Dia terus didekati  para elite partai” kata istriku.

“Nanti, kita tanya rencana dia ke depan” jawabku.

Wajah istriku tampak gamang. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Rasa cemas memikirkan nasib Yuzza terus menghantui. Aku paham isi pikirannya. Sebulan ini, Yuzza diburu wartawan dan juga para politikus. Sebenarnya aku bangga dengan capaian anakku. Akan tetapi, aku juga diliputi sedikit takut. Siapapun tahu, stabilitas politik negeri ini acapkali berubah. Lebih-lebih, menjelang bergulirnya pemilu tahun depan.

 

 

Setelah libur wisuda selesai, Yuzza pulang dengan semringah. Satu pekan dia habiskan liburan di Bromo. Aku menyambut hangat anak semata wayangku. Pelukan erat kucurahkan untuk setiap kerinduan. Tak lupa kubisikkan sebuah kalimat, “Kamu anak bapak yang hebat, tetaplah waspada” kataku. Yuzza tersenyum dan menjawab singkat : “Tenang saja Pak” katanya. Aku tersenyum tapi tidak dengan istriku.

“Yuzza, kau serius terjun ke politik?” tanya istriku.

“Tentu ibu, aku ingin negeri ini membaik” jawab Yuzza.

“Kau masih terlalu muda” kata istriku.

“Ibu khawatir, aku seperti politikus muda itu?” kata Yuzza.

“Tentu, tapi ibu lebih mencemaskan keselamatanmu”’sambung istriku.

“Ibu tenang, aku punya jalan politik sendiri’ kata Yuzza.

Yuzza tersenyum lalu memeluk ibunya. Sekali lagi, aku paham kecemasan istriku. Anak semata wayangnya rentan terhadap ancaman. Dunia politik yang penuh pragmatisme memang mengerikan. Namun, aku juga suka jawaban Yuzza. Ia memilih tak mengikuti politikus muda yang dalam sekejab ingin menuju puncak. Aku tertarik tentang ucapannya bahwa ia memiliki jalan politik sendiri.

***

Pada suatu sore, aku melihat Yuzza duduk santai di beranda. Mungkin, ia ingin menikmati paras senja sambil menimang jalan masa depan. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk bercakap-cakap dengan Yuzza. Ingin kutanyakan tentang jalannya di dunia politik. Sepemahamanku jalan  politik tak melulu jadi politikus. Ada jalan lain seperti pengamat dan juga praktisi politik. Aku ingin menggali lebih dalam jalan yang ditempuh anakku.

 

 

“Kau sedang tak sibuk, nak?’’ tanyaku.

“Tidak Pak, mari temani Yuzza” jawabnya sambil senyum.

“Baiklah,” kataku.

Aku duduk di sebelah Yuzza. Sore itu suasana benar-benar sempurna. Tiupan angin yang lembut dipadu warna langit terasa menentramkan. Aku mengamati anakku. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu.

“Kau sedang memikirkan apa, nak?” tanyaku.

“Yuzza sedang memantabkan pilihan  jalan politik” jawab Yuzza.

“Kalau boleh tahu, apa jalan yang akan kau ambil nak?” tanyaku.

Yuzza tersenyum. Ia sudah tampak sangat dewasa. Tak seperti dulu sewaktu kecil yang suka merengek dan tak mau kalah dalam berpendapat. Kini, ia tampak lebih tenang. Anakku benar-benar telah tumbuh seperti pohon yang kuat. Meski begitu, aku harus memastikan pohon itu kian kuat melalui badai.

“Yuzza akan menempuh jalan politik yang berbeda” katanya.

“Maksudmu, kau tak ingin menjadi politikus?” tanyaku.

“Yuzza tak menutup kemungkinan menjadi politikus” jawabnya.

“Berarti, kamu siap bergabung dengan parpol yang penuh amburadul” kataku.

Yuzza tertawa terbahak. Ia seperti mendengarkan hal yang sangat lucu. Dari sini, aku mencoba menebak jalan politik yang ditempuhnya. Aku lantas menggalinya lebih dalam lagi.

“Kamu siap menerima pinangan dari elite partai?” tanyaku.

“Ya, sebuah niat baik orang lain, akan saya pertimbangkan Pak” kata Yuzza.

“Lalu, apa pendapatmu tentang parpol?” tanyaku.

 

 

“Kita harus menghormati parpol. Parpol adalah alat untuk memperjuangkan ideologi politik” kata Yuzza.

“Kamu sudah punya pilihan partai politik yang cocok?” tanyaku.

“Sedang saya filter sebelum memilih ’’ jawab Yuzza.

Setelah percakapan sore itu, Yuzza tidak pernah di rumah. Ia meminta izin untuk menghadiri beragam acara dari partai politik. Bung Romy tampak senang karena Yuzza mau hadir dalam undangan partai politik miliknya. Katanya, aku berhasil membujuk Yuzza. Padahal, aku tidak pernah mencampuri pilihan anakku.

***

“Pak ada kiriman paket lagi” kata istriku. Semenjak Yuzza tampil di berbagai acara partai politik, rumah kami menjadi gudang penampungan barang. Banyak barang berdatangan atas nama elite politik dari lintas parpol. Selain itu, nomor rekeningku acapkali mendapat transfer dalam jumlah lumayan. Aku dan istriku tahu ini siasat untuk menggandeng Yuzza.

“Pak, tolong jangan gunakan uang maupun  barang kiriman dari partai manapun” begitu isi pesan Yuzza padaku dan istriku.  Kami ikut saja meski istriku kadang tergiur oleh banyaknya kiriman benda-benda mewah.

“Kalau Yuzza jadi anggota legislatif, hidupnya pasti makmur” kata istriku.

“Ibu jangan terlalu materialis, kita doakan saja jalan politik yang ditempuh Yuzza” kataku.

***

Suatu pagi  suara ponselku bergetar kencang. Yuzza rupanya yang menelepon.  Aku paham bila ia menelepon itu tandanya ada hal penting. Aku juga teringat bahwa hari ini sudah genap seminggu ia pergi.

“Hallo Yuzza, bagaimana kabarmu di ibukota?’’ tanyaku.

“Lancar dan baik Pak” katanya.

“Ada apa nak, sampai kamu menelepon?’’ tanyaku.

“Bapak dan ibu  ada acara nanti malam?’’ tanyanya.

“Tidak ada” jawabku.

“Pak, Yuzza ingin memberitahu jalan politik yang saya tempuh”’ katanya.

“Kau sudah memutuskan masuk partai mana?” tanyaku.

 

 

“Nanti malam bapak lihat saja berita televisi” kata Yuzza.

Selesai bertelepon, aku segera menyampaikan kabar dari Yuzza kepada istriku. Malam harinya, kami bersiap di depan televisi. Kami ingin mengetahui seperti apakah jalan politik Yuzza. Kami bersiap dengan meriah seperti para suporter yang menonton pertandingan tim kesayangannya.

Sewaktu aku menyalakan televisi. Sebuah stasiun televisi mengabarkan berita dengan suara keras. “Saudara, tokoh intelektual muda bernama Yuzza kembali membuat langkah berani. Ia melaporkan praktik suap dan gratifikasi para tokoh partai politik terhadap dirinya.’’ Aku dan istriku terkejut mendengar berita tersebut.

Tak kusangka, Yuzza memiliki jalan politik yang benar-benar berbeda. Alih-alih menikmati kursi empuk kekuasaan, ia justru mengambil langkah sangat pemberani.  Ia menjebloskan para elite partai politik yang bermain kotor.

Tiba-tiba suara pintu rumah  diketuk. Aku bergegas membuka pintu rumah. Betapa terkejutnya aku, ada beberapa polisi yang bertamu. “Permisi Pak, kami ingin mencari barang-barang dan alat bukti  dalam kasus suap dan gratifikasi terhadap saudara Yuzza” katanya.  Aku kembali teringat wajah anakku. Ia benar-benar pemberani.

 

 

 

Thomas Elisa, lahir 21 September 1996 di kota Surakarta. Penulis tinggal di Pucangsawit RT 01/RW 03, Kecamatan Jebres, Surakarta. Penulis telah menempuh jenjang pendidikan di antaranya : TK Kristen Petoran (2001-2002), Sekolah Dasar Kanisius Pucangsawit (2002-2008), Sekolah Menengah Pertama Negeri 20 Surakarta, (2008-2011), Sekolah Menengah Atas Negeri 8 Surakarta (2011-2014). Penulis juga telah menyelesaikan program Strata-1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) pada Juni 2018 lalu. Karya terbaru penulis adalah novel fiksi anak berjudul Bangunnya Peri Merah (2017). Penulis mengajar di SMK Mikael Solo.

 

 

 

Editor : Ronald Fernando
#Jalan Politik