Oleh: Beni Irawan
SATU rahasia yang tidak akan pernah saya ceritakan pada istri saya, bahwa jauh sebelum saya mengenalnya, saya pernah hamil tujuh bulan.
Lalu, tepat di hari pertama memasuki usia kandungan delapan bulan, janin yang saya kandung menghilang. Menghilang begitu saja tak bersisa. Mungkin dimakan setan atau entah apa.
Hanya Tuhan Yang Maha Tahu yang tahu ke mana perginya janin yang saya kandung itu. Saya lelaki. Tulen. Sejati. Tidak serong. Tidak pernah bersebadan dengan sesama lelaki. Tidak pernah operasi kelamin dan melakukan penanaman rahim.
Tapi entah bagaimana bakal bayi itu ada dan tumbuh di perut saya.
Hari-hari di mana saya hamil itu adalah hari-hari mengurung diri. Saya tidak mau orang tahu. Untungnya ketika itu saya sudah tinggal di apartemen kecil dengan tetangga yang tidak saling peduli.
Pekerjaan yang saya tekuni waktu itu adalah jenis pekerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah. Jadi saya tidak perlu keluar rumah. Untuk makan, saya memesan secara online bahan-bahan makanan yang cukup untuk memasak satu-dua bulan.
Awal mula saya tahu saya hamil ketika suatu pagi, saya bangun dengan badan panas dingin. Saya duduk di tepi ranjang ketika tiba-tiba ruangan seperti berputar.
Ketika akan tidur kembali, perut saya seperti ingin memuntahkan isinya. Dengan susah payah saya menuju kamar mandi. Sampai di sana, saya sudah tidak mual lagi.
Siang itu juga saya langsung menuju rumah sakit terdekat. Dan entah bagaimana, saya sudah berada di ruang dokter kandungan. Dokter kandungan itu bilang, selamat, karena saya sudah kembali ke kodrat. Saya menatapnya bingung.
“Anda hamil,” katanya lagi sambil tersenyum dengan senyuman terbaik yang bisa dia persembahkan hari itu.
Ketika saya bilang saya lelaki dan tidak pernah perempuan, dokter berwajah bundar dengan tubuh yang juga bundar itu pura-pura tidak dengar.
Dia sibuk menulis resep obat. Saya pergi meninggalkannya tanpa permisi. Saya pulang dengan perasaan apa-apaan.
Beberapa kali saya mencoba menggugurkan kandungan itu. Gagal. Di usia kandungan empat bulan, ketika saya sudah merasakan adanya pergerakan dalam perut saya, saya katakan padanya, hiduplah jika itu yang dia mau.
Hari-hari kemudian saya biarkan berjalan sebagaimana adanya. Saya bangun pagi dan membuat sarapan. Setelahnya saya duduk di meja kerja hingga sore.
Petangnya saya memasak untuk makan malam. Setelah makan malam, setelah melakukan apa-apa yang ingin saya lakukan kecuali keluar rumah, saya tidur untuk besok kembali memulai rutinitas yang sama. Begitu selama berbulan-bulan. Perut saya semakin membesar.
Di usia kandungan delapan bulan, tepatnya sehari setelah memasuki usia kandungan delapan bulan, perut buncit saya tiba-tiba hilang.
Kejadiannya sangat cepat. Saya selesai gosok gigi malam itu. Saya berkumur sambil memandang wajah saya di cermin. Ketika membuang air dari mulut ke wastafel, perut saya sudah seperti semula.
Seperti tidak pernah ada sesuatu yang tumbuh di sana. Saya periksa lantai barangkali dia terjun keluar, tidak ada. Di sana tidak ada apa-apa. Tiba-tiba saya merasa lega.
Tapi ketika hendak tidur, kelegaan itu berubah menyesakkan. Malam itu tak sepicing pun saya memejamkan mata. Dari sana air mata meleleh begitu saja tak mampu saya bendung. Butuh berhari-hari bagi saya untuk menjadi normal kembali.
Itu adalah masa lalu yang sudah saya tutup rapat-rapat. Sekarang, saya sudah menikah dan istri saya sedang hamil empat bulan. Dari semenjak mengetahui kehamilannya, istri saya selalu mengajak calon bayinya bicara.
Sudah menjadi semacam ritual; setiap malam sebelum tidur dia cerita tentang apa-apa yang dia lakukan hari itu, dan pagi hari sebangunnya dari tidur dia cerita tentang apa-apa yang akan dia lakukan hari itu. Kadang dia meminta saya untuk cerita sambil mengusap-usap perutnya.
“Ini biar cepat dia bisa bicara,” katanya. “Biar kelak dia terbiasa mengatakan apa yang dia pikirkan dan rasakan.”
Seiring bertambahnya usia kehamilan, istri saya semakin rajin mencari tahu tip-tip parenting, baik dari buku-buku maupun dari video-video yang banyak tersebar di media sosial.
Soal makanan jangan ditanya lagi. Dia bahkan menyeleksi betul apa yang boleh masuk lewat lubang-lubang di tubuhnya. Kerajinannya menemui dokter kandungan melebihi rajinnya dia ke salon kecantikan. Di sana, dia meminta validasi dari apa yang dia lakukan. Kata dokter, bagus. Lanjutkan.
Di usia kandungannya tujuh bulan, saya diserang cemas. Saya takut bagaimana kalau istri saya mengalami apa yang pernah saya alami.
Saya perhatikan betul-betul dia. Saya tidak ingin jauh-jauh darinya. Dia harus selalu berada dalam pengawasan saya. Istri saya sampai curiga. Saya bilang padanya, saya ingin dia sehat dan anak yang dikandungnya juga sehat.
Bulan ketujuh lewat. Bulan kedelapan juga. Di bulan kesembilan istri saya melahirkan seorang bayi yang saking menggemaskannya, saya selalu ingin menyentuhnya, memeluk, menggendong, dan berada dekat-dekat dengannya.
Selain lucu, dia juga luar biasa. Belum genap 12 bulan, dia sudah mulai menggumamkan kata-kata. Belum jelas memang, tapi kami paham.
Namun suatu ketika, dia mulai menggumam sendiri. Itu sempat membuat kami khawatir. Kami membawanya ke dokter tumbuh kembang anak.
Jawaban dari dokter membuat kami lega. Katanya, mungkin karena selama di dalam kandungan sering diajak bicara, daya imajinasinya berkembang pesat.
“Itu tanda anak cerdas,” sambung dokter.
Dia masih sering terlihat menggumam sendiri, terutama kalau kami tidak ada di sampingnya mengajaknya bicara. Istri saya yang sering mengajaknya bicara.
Beberapa kali saya dapati mereka mengobrol layaknya kawan dekat. Kata-kata yang dia ucapkan juga semakin jelas. Sudah genap 12 bulan dia waktu itu. Memang anak yang luar biasa.
Dan saking luar biasanya, suatu ketika, istri saya menarik saya ke pojok. Dia bilang, anak kami baru saja dapat cerita dari teman yang sering dia ajak bicara.
“Siapa?” tanya saya.
“Anak kamu. Katanya kamu pernah hamil?”
“Ah, itu hanya imajinasi anak kecil.”
Istri saya tidak percaya. Dia terus memberondong saya dengan pertanyaan demi pertanyaan. Sementara di sana, anak kami semakin asyik mengobrol dengan temannya yang mungkin benar… Saudaranya. (*)
Yogyakarta, Januari 2024
Editor : Jawanto Arifin