Oleh: Endang S. Sulistiya
Malam terakhir di tahun 2023. Meski sudah kau paksa-paksa matamu untuk terpejam, tetapi kau tetap tidak bisa tidur juga. Semakin gelisah, semakin pening kepalamu. Akan tetapi kau tidak tahu cara mengatasi kegelisahanmu yang makin lama makin menjadi-jadi.
Konser dangdut di kampung sebelah adalah akar dari permasalahanmu. Kemungkinan-kemungkinan busuk begitu padat berseliweran di kepalamu. Ramai, sesak dan kacau. Seperti lalu lintas di jam masuk dan pulang kerja.
Mungkin saat ini suamimu sedang kliyengan berjoget ria karena mabuk. Mungkin suamimu tengah merangsek ke atas panggung agar bisa menjawil sang biduan. Mungkin suamimu terangsang dalam suasana hingar-bingar lagu, musik dan sorak-sorai.
Bisa jadi suamimu malah sudah naik ke panggung. Asyik menyawer penyanyi yang digandrunginya. Bahkan menyelipkan lembar demi lembar uang ke penyanyi dangdut yang sintal menggoda. Padahal uang itu semestinya menjadi hakmu dan anakmu.
Memikirkan hal miris semacam itu membuatmu meringis. Dan akhirnya kau hanya punya satu solusi yang sebetulnya tidak solutif. Menangis…
Tangisanmu pun tidak leluasa mengekspresikan kesedihanmu. Kau khawatir bayimu terbangun. Bila sampai terjadi, bayimu akan rewel semalaman suntuk tanpa bisa kau kendalikan.
Kelanjutannya bisa sangat mengerikan. Suamimu yang tidak menyukai bayimu sedari awal, akan membumbung kebenciannya. Lalu di puncak emosinya, ayah dari bayimu akan melakukan tindakan tak terduga kepada anak kandungnya sendiri. Mengencinginya.
***
Setiap bayi yang terlahir di dunia tidak bisa memesan diciptakan seperti apa. Terlahir cantik, tampan, atau jelek merupakan hak prerogatif Tuhan. Maka kau tidak bisa berbuat apa-apa dengan ketentuan yang satu itu.
Kau lahir jadi anak terakhir. Anak kelima dari lima saudara. Satu-satunya perempuan.
Kau paling berbeda di antara saudara-saudaramu. Bukan hanya soal jenis kelamin. Melainkan juga fisikmu. Kurus, pendek, juga dekil. Bahkan kau tampak seperti bayi yang kurang sehat. Penyakitan.
“Padahal sudah lama menanti-nantikan anak perempuan, eh dapatnya....” komentar nyinyir ibu-ibu tetangga sepulang menjenguk kelahiranmu.
“Namanya juga koretan!” tukas tetangga lainnya.
Jika kebanyakan orang mendapatkan perundungan di usia anak-anak atau jelang remaja, tidak denganmu yang sudah direndahkan sejak bayi merah.
Terlalu sering, dalam suatu acara keluarga, paklik atau bulikmu sendiri, dengan sengaja terus-menerus mengangkat diksi itu. Seakan-akan mereka tidak ingin kau melupakan satu hal mendasar itu. Bahwa kau adalah koretan.
Ucapan adalah manifestasi dari doa. Meskipun kata-kata yang muncul cenderung tidak baik yang anehnya hal-hal begitu justru cepat dikabulkan. Pertumbuhanmu tidak bisa maksimal. Di akhir masa SMA, tinggi badanmu mandek di angka 148 cm. Sedangkan berat badanmu berkutat di 36 kg.
Lalu terkait warna kulit, masih tetap merana. Tidak ada harapan. Warna kulitmu tetap dekil, walaupun rajin kau baluri lulur bengkuang. Sekalipun kau telah menggebu-gebu menggosok sekujur tubuhmu dengan batu daki. Sekalipun kau pernah mengusahakan mandi susu. Sekalipun kau acap kali menahan rasa gatal dan perih dari baluran sari jeruk nipis di permukaan kulitmu.
***
Tiga puluh satu tahun. Kau meyakini bahwa itu adalah usia keberuntunganmu. Bertubi-tubi keajaiban yang sebelumnya begitu mustahil akhirnya menghampirimu.
Kau bertemu laki-laki tampan. Tak berselang lama kau dilamar lalu menikah. Masih di usia yang sama, kau hamil dan melahirkan.
Sayangnya satu tahun hanya terdiri dua belas bulan. Rentang waktu yang sebentar. Serasa sekejap mata lalu menghilang. Di usia tiga puluh dua tahun, segala kebahagiaan itu musnah.
Tiga puluh satu tahun. Kau pernah iseng-iseng mendedah makna angka tiga puluh satu. Dengan naifnya kau berasumsi, “Mungkin karena tiga satu adalah kebalikan dari satu tiga alias tiga belas. Angka sial yang berbalik menjadi angka bertuah.
Saking menghayati asumsimu sendiri, kau sampai terbawa perasaan. Kau kecewa ketika menyadari bahwa tidak akan muncul lagi angka seperti itu di pertambahan usiamu.
***
Sekira pukul dua dini hari, samar-samar kau mendengar kunci beradu dengan lubangnya. Buru-buru kau memejamkan mata. Pura-pura tidur.
Satu gagasan gila mendadak muncul di kepalamu. Benar-benar gilanya, kau mengimplementasikan gagasan liar itu. Tanpa membuka kelopak mata, sekelebat kau menarik rokmu ke atas hingga pahamu terpampang nyata.
Harapanmu sajian paha itu mampu mengetuk pintu hasrat suamimu yang sekian lama terkunci rapat. Sudah satu tahun sejak kau melahirkan, suamimu tidak pernah menyentuhmu lagi. Tentu saja hal ini menjadi ancaman bagimu.
Siaga telingamu mengawasi gerak-gerik suamimu. Hening malam cukup membantumu. Kini kau yakin suaminya tengah berada di ruang makan sebab kau mendeteksi suara pintu kulkas yang dibuka.
Suamimu pasti kehausan. Jika benar suamimu di konser tadi habis minum-minum, maka ini akan jadi peluang bagi dirimu. Kau bisa mendapatkan apa yang selama ini kau cita-citakan. Nafkah batin.
Tentu saja kau tidak akan melupakan tragedi malam pertamamu. Suamimu menggagahimu dalam keadaan mabuk berat. Metode pemenuhan nafkah batin semacam itu terus berlanjut ketika suamimu butuh penyaluran.
Mula-mula tersinggung, lambat laun kau justru tidak mempermasalahkannya. Bahkan kini kau merindukan momen-momen seperti itu. Memang memalukan, tetapi kau sudah tidak peduli lagi.
Debar dadamu jadi meningkat tatkala kupingmu menyadap langkah kaki yang mendekat. Tak lama lagi suamimu akan masuk ke kamar. Tak dimungkiri, saat ini kau merasa harap-harap cemas. Apakah umpan pancingmu akan dimakan oleh ikan?
Sepersekian detik kemudian suamimu masuk ke kamar. Ternyata ia hanya mengambil bantal lalu keluar lagi.
***
Sejatinya sudah lama kau menaruh curiga pada suamimu. Kau menduga, sedari awal ada udang di balik batu.
Benar saja, tak berselang lama dari pernikahanmu yang ganjil, kau menemukan kebenarannya. Lantaran kebenaran itu begitu menginjak-injak harga dirimu sebagai wanita, selama ini kau sengaja membohongi diri. Kau menutup mata. Berpura-pura.
Bagaimanapun kau hendak menampik kebenaran itu, pada ujungnya kebenaran tetaplah kebenaran. Susah payah kau menutupi kebenaran yang dengan tirai kepura-puraan. Namun tiba waktunya nanti, kebenaran itu akan memancar dengan sendirinya.
Silau. Kebenaran memang menyilaukan dan menyiksa. Lebih-lebih kebenaran itu sangat terang benderang. Padahal sejak awal perkenalanmu dengan suami, orang-orang sudah mencium gelagat yang tidak wajar.
“Pria setampan Ardi, mana mungkin mau dengan koretan sepertimu!” Begitu suara sumbang orang-orang. Tak terbayangkan betapa pilu dirimu kala mendengar kasak-kusuk itu.
Kau sempat merasa menang atas terselenggaranya pernikahanmu yang sebelumnya sempat diragukan bakal terjadi. Sesaat kau beranggapan telah berhasil menampar mulut-mulut tak pernah memakan bangku sekolahan itu.
Sayangnya, itu hanya kemenangan sesaat. Fakta suram itu segera terungkap. Bahwa suamimu menikahimu demi harta semata.
Suamimu yang tampan itu sungguh-sungguh bangsat. Diam-diam ia sudah mengalkulasi besaran aset keluargamu. Selangkah lebih maju, suamimu yang mata duitan, juga sudah menghitung-hitung berapa warisan yang akan kau dapatkan.
***
Pagi pertama di tahun 2024. Kau menatap bayimu yang masih terlelap. Kesedihan sekonyong-konyong menyergapmu.
Kau sebagai seorang ibu, tidak bisa menjamin bahwa bayimu akan menyongsong masa depan yang jauh lebih baik. Malah sejauh yang terjadi selama ini, bayimu lebih buruk nasibnya dibanding dirimu.
Kau masih jauh lebih beruntung. Kau adalah anak perempuan yang ditunggu-tunggu kelahirannya oleh kedua orang tuamu. Sehingga walaupun penampakanmu jauh dari harapan, ayah dan ibumu tetap menerima dan menyayangimu.
Tidak seperti dirimu. Kelahiran bayi perempuanmu itu sangat menyedihkan. Bayimu tidak pernah diharapkan oleh ayahnya sendiri. Sampai setahun umur bayimu, ia belum pernah ditimang atau digendong oleh ayahnya.
Jika kau dilabeli sebagai koretan, bayimu lebih buruk dari itu. Kutukan! Ya, bayimu serupa kutukan. Ia tak diharapkan. Hidupnya akan penuh dengan penderitaan.
Bagaimana mungkin seorang ibu akan membiarkan hal semacam itu terjadi terhadap anaknya? Rasa-rasanya ibu yang gila sekalipun tidak akan rela.
Kegundahanmu tiba-tiba mendapat penawarnya seiring cahaya mentari yang menembus kaca jendela. Ilham itu serta-merta membuatmu berani untuk mengambil keputusan bercerai dari suamimu.
Melepas, meninggalkan, dan melupakan segala kisah dan kasih sedih di sepanjang tahun 2023 adalah satu-satunya jalan agar kau dan bayimu miliki harapan di tahun 2024 mendatang. Memang mustahil mendadak langsung bersih. Pasti masih ada koretan yang terbawa. Akan tetapi jika kau sudah bertekad, tidak ada yang tidak mungkin. (*)
Editor : Ronald Fernando