Oleh: Endang S. Sulistiya
AKU punya seorang adik. Saat ini dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Karena itu aku sangat menyayanginya.
Sebetulnya aku tidak mau berjauhan dengan Rahmat. Aku ingin kami dua bersaudara selalu bersama dalam suka maupun duka. Sebagaimana pesan terakhir yang disampaikan oleh bapak sebelum beliau meninggal dunia lima tahun yang lalu.
Namun Rahmat tidak sama sepertiku. Jauh berbeda. Bila aku senang bertani dan hidup sederhana di desa, tidak dengan adikku satu bapak beda ibu itu.
Rahmat punya mimpi besar. Dia ingin menjadi seorang artis. Terkenal dan kaya raya. Seperti Raffi Ahmad idolanya.
Berumur matang, aku merasa dituntut lebih bijak. Aku tidak bisa berlaku egois dengan memaksakan kehendak kepada Rahmat. Lebih-lebih aku sadari, sejujurnya desa memang bukan tempat tinggal yang pas untuk adikku yang rupawan nan menawan itu. Jelas pekerjaan kasar juga berat sebagai petani tidak cocok untuknya yang sedari kecil tidak pernah hidup susah.
Sebagai anak bungsu, Rahmat terbiasa dimanja oleh bapak dan ibu tiriku. Sebagai anak sulung, aku tidak bermasalah dengan hal itu. Justru sebagai seorang kakak yang jarak umurnya mencapai lima belas tahun dengan adiknya, aku senang bila bisa turut berkontribusi memanjakan Rahmat.
Pada akhirnya, mau tak mau aku merelakan adikku yang baru lulus SMA itu merantau ke Jakarta. Harapanku Rahmat yang sebelumnya begitu tergantung kepadaku, pelan-pelan bisa belajar mandiri. Selain itu tentu saja aku juga mengharapkan agar Rahmat bisa mengejar cita-citanya. Sejauh mungkin. Kalau bisa, melampaui ketenaran Raffi Ahmad.
Meski aku tahu jalan yang akan dilalui Rahmat tidaklah mudah, aku percaya dia akan berhasil melaluinya. Dia tidak hanya berwajah tampan, tetapi juga memiliki bakat yang luar biasa di seni peran. Buktinya Rahmat nyaris selalu jadi pemeran utama pada setiap pertunjukan drama di sekolah maupun di kampung.
Sebagai seorang kakak, mustahil aku melepas Rahmat begitu saja. Untuk bekal adikku tersayang berangkat ke Jakarta, aku ikhlas menjual semua hasil panen jagungku. Keseluruhan uang yang aku dapatkan kemudian kuberikan kepadanya. Sungguh aku tidak menyisakan selembar atau bahkan seperak pun untuk diriku sendiri.
Jujur saja aku memang belum pernah ke Jakarta. Akan tetapi terkait tetek bengek kebutuhan Rahmat sesampainya di Jakarta nanti, telah aku perhitungkan masak-masak. Dari biaya mengekos atau mengontrak, makan sehari-hari, fashion dan pastinya transportasi.
Sudah ada bayangan di kepalaku, Rahmat akan wira-wiri mengikuti audisi dan casting. Sudah kuperkirakan juga bahwa pengeluaran untuk urusan tersebut tidaklah sedikit. Tidak lupa aku juga telah memikirkan kemungkinan terburuk, yaitu bilamana adikku tidak kunjung dapat job.
***
Satu tahun berlalu begitu cepat. Rahmat masih menganggur, tetapi untungnya dia tak lelah berjuang untuk menjadi artis. Maka aku pun tak lelah berharap dan berdoa juga, supaya Dewi Fortuna segera menyapa adikku itu.
Tidak ada yang berubah, secara penuh aku masih terus membiayai kebutuhan Rahmat selama dia tinggal di Jakarta. Aku bekerja dan bekerja. Aku bertani dan bertani. Waktuku habis untuk mencari uang. Hingga aku tak sempat memikirkan pernikahan di usiaku yang ke tiga puluh tiga tahun.
Lantaran hama atau cuaca, tak jarang aku mengalami gagal panen. Namun aku senantiasa mengusahakan dengan berbagai cara agar tetap bisa mengirimkan uang tepat waktu. Tatkala aku benar-benar sudah terdesak, terpaksa aku menempuh cara utang. Ya, kalau tidak dapat yang tanpa bunga, yang bunganya besar alias rentenir pun aku libas.
Sampai sekarang, tidak pernah terbersit sekali saja olehku untuk meminta Rahmat pulang kampung. Tidak peduli dia gagal dan gagal lagi lolos audisi dan casting, aku akan selalu menyemangatinya. Tidak ambil pusing terhadap cemooh warga desa, aku akan terus menyokong adikku sampai dia dapat meraih impiannya.
Sungguh aku sudah bertekad mendukung adikku sampai akhir. Aku tak akan menyerah sementara adikku masih bersemangat. Jika akhirnya nanti adikku pulang, itu harus atas kemauannya sendiri. Bukan karena aku.
“Mas Rahman, apa aku ditakdirkan bukan sebagai artis ya?” keluh Rahmat belum lama ini melalui sambungan telepon.
Dari suaranya, aku mampu mendeteksi betapa Rahmat tengah dilanda frustasi. Casting demi casting telah dia diikuti, tetapi keberuntungan belum berpihak ke adikku.
Aku dapat mengerti kegelisahan adikku. Aku mampu merasai kesedihan adikku. Sehingga aku tak bosan-bosan untuk membesarkan hati Rahmat.
“Mas Rahman, aku merasa sangat bersalah padamu. Selama ini aku senantiasa menyusahkanmu,” ungkap Rahmat.
“Aku tidak merasa susah karenamu, Rahmat. Aku ikhlas melakukan apapun demi kesuksesanmu,” tukasku.
“Terima kasih ya, Mas Rahman,” ucap adikku sebelum memungkasi perbincangan.
Satu kata dari Rahmat itu, serta-merta membuatku bahagia tak terkira. Haru seketika memenuhi dadaku. Benar-benar perasaan yang kurasakan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sebab baru pertama kali itu aku mendapatkan ucapan terima kasih dari adikku.
Aku merasa Rahmat sudah sedikit bertumbuh dewasa. Bukan hanya dewasa tubuhnya saja, melainkan pemikirannya juga. Seketika musnah segala lelah yang menjangkiti tubuhku usai bekerja di sawah.
***
Desember menghias kalender. Musim penghujan telah tiba. Waktunya bagi petani memulai masa tanam.
“Rahman! Rahman! Adikmu muncul di TV!” seru Mbokde Painem, heboh.
Aku yang tadinya sedang mencangkul, sekonyong-konyong langsung melempar cangkul. Gegas aku menghampiri Mbokde Painem yang berdiri di pematang sawah
“O ya? Kapan Mbokde?” sambutku, antusias.
“Baru saja! Makanya ini tadi aku buru-buru berangkat ke sawah karena ingin memberitahumu,” jelas Mbokde Painem.
“Yang benar, Mbokde? Mbokde tidak sedang mengusiliku, ‘kan?” selidikku, memastikan.
“Benar, Rahman! Aku tidak bohong!” kata Mbokde Painem sambil mengangkat sebelah tangannya. Bersumpah.
“Sebaiknya kamu cepat-cepat pulang! Siapa tahu acara TV yang ada Rahmatnya belum selesai,” imbuh Mbokde Painem.
Aku mengangguk. Lalu tanpa membuang-buang waktu, aku lari tergopoh-gopoh menuju rumah.
Sampai di rumah, langsung saja kunyalakan televisi. Dengan gelisah aku mengganti saluran televisi satu ke saluran televisi lainnya.
Mataku membulat kala apa yang aku cari telah kutemukan. Ternyata Rahmat sungguh-sungguh ada di televisi. Harapan dan doaku kini telah mewujud nyata.
“Tunggu! Siapa nenek-nenek di samping Rahmat itu!” gumamku, bingung.
Aku tidak habis pikir Rahmat terlihat intim dengan seorang nenek. Tak hanya duduk berdempetan, Rahmat sampai mencium kening nenek-nenek itu.
Dikejar penasaran, aku membesarkan volume televisi. Kalimat demi kalimat yang dituturkan narator makin membuat aku bingung.
“Bagaimana mungkin Rahmat berpacaran dengan seorang nenek? Tidak masuk akal!” rutukku, kesal.
“Tenang, Mas Rahman. Aku tidak berpacaran dengan Nenek Susi kok,” jawab Rahmat ketika kutodong penjelasan.
Bagai seorang pakar ekspresi, aku mengamati wajah Rahmat yang terpampang di layar handphone untuk mengukur seberapa jujur adikku itu.
“Lalu mengapa di televisi kamu mengatakan mencintai Nenek Susi?” tanyaku, gemas.
“Itu hanya akting, Mas Rahman!” tegas Rahmat.
“Akting itu di film atau sinetron, bukannya di infotainment!” timpalku, geram.
“Tidak ada rotan, akar pun jadi, Mas Rahman. Aku sudah berusaha agar bisa main film atau sinetron tapi gagal terus. Tiba-tiba ada tawaran berita settingan pacaran sama ibunya artis senior, ya sudah aku terima saja,” beber Rahmat, berterus terang.
Raut wajah Rahmat yang tidak berdosa, semakin menyulut kekecewaanku. Alih-alih meledak dalam kemarahan, aku malah tak kuasa menahan ledakan tangis.
“Sebegitunya ‘kah kamu ingin viral, Rahmat? Sampai-sampai kamu rela membunuh karaktermu sendiri?” ujarku dengan suara gemetar.
“Aku mohon hentikan kegilaan ini, Rahmat,” pintaku, memelas dan nyaris menangis.
“Tidak Mas Rahman! Aku tidak bisa mundur lagi. Gerbang kesuksesanku sudah di depan mata,” kata Rahmat, bersikukuh.
Video call diakhiri secara pihak.
“Rahmat!” teriakku sia-sia.
Mendadak kehilangan tenaga, aku menjatuhkan tubuhku ke sofa. Mataku menerawang, memandang keluar melalui kaca jendela. Di luar, rupanya mendung. Akan tetapi di hatiku jauh lebih mendung. (*)
Endang S. Sulistiya., menetap di Boyolali. Lulusan Administrasi Negara FISIP UNS. Menulis sastra dalam bahasa Indonesia dan Jawa. Tergabung dalam grup Diskusi Sahabat Inspirasi (DSI).
Editor : Jawanto Arifin