Oleh: Khairul A. El Maliky
DI warung kopi Kutunggu Jandamu sore itu berbeda dari hari biasanya. Tawa para pria yang sedang menikmati bergelas-gelas kopi berderai-derai. Asap rokok murahan yang tak tentu asal-muasalnya bergulung-gulung di langit-langit warung, lalu hilang ditelan angin.
Adalah Qusairi yang tawanya jauh lebih keras dari kedua kawannya, Mahmud dan Herman. Di ambang petang itu, ketiganya baru pulang dari kerja, merenovasi rumah Markuat. Dan, setiap akhir pekan mereka gajian. Maka, sebelum pulang mereka mampir di warung kopi milik Duleman yang berada di tepi jalan kampung.
Matahari masih terlihat anggun dalam gumpalan awan jingga. Angin selatan menampar-nampar atap terpal, ilalang, daun pohon kersen yang berdiri di muka warung, dan buah mangga muda yang bergelantungan penuh pesona.
"Katanya Si Kasman pisah ranjang sama istrinya?" kata Qusairi setelah mengembuskan asap rokoknya ke udara.
"Menurut beritanya sih begitu," timpal Mahmud, tetangga dekatnya orang yang lagi dibicarakan. "Tapi sih masak pisah ranjang sampai dua minggu? Apa tidak sampai karatan?"
"Apanya yang karatan, Mud?" sahut Herman ditimpali tawa Qusairi yang meledak-ledak hingga keluar air matanya. Lalu, pria bujang lapuk itu bersin-bersin.
"Ya golok Nogososronya."
Ketiga kuli bangunan itu kembali tertawa-tawa hingga warung kayu itu berjoget-joget hampir mau roboh. Mereka berhenti tertawa setelah Duleman batuk-batuk.
"Tapi, Qus, yang jelas anaknya juga disuruh bawa kepada Kasman agar diasuhnya sendiri. Dan, semua itu lantaran selama satu bulan ini Kasman menganggur sejak dirumahkan dari toko bangunan tempatnya bekerja. Istrinya tidak tahan hidup seatap lagi dengannya karena uang belanjanya kurang. Belum lagi anaknya harus dibelikan susu dan pampers. Ayah mertuanya juga sama melaratnya. Sejak motor dan sepeda listrik berkecamuk di tiap sudut kota, jasa transportasinya... "
Herman langsung memotong, "Cuma usaha becak sok gengsi diganti dengan jasa transportasi."
"Iya, maksudku itu. Usaha becaknya sepi merana macam orangnya. Apalagi sudah menjadi kebiasaan Si Dina belanja baju-baju branded lewat online," Mahmud melanjutkan.
Kedua kawannya manggut-manggut. Mereka bertiga saat itu tengah mengobrol soal masalah rumah tangga Si Kasman yang lagi di ujung tanduk. Gara-garanya sepele: uang belanja.
"Keluarga dari kedua belah pihak telah tiga kali mengadakan rapat, tapi Dina tetap tidak mau hidup bersama lagi dengan suaminya sampai suaminya itu mampu memenuhi segala kebutuhannya. Bahkan meski presiden atau PBB sekalipun yang membujuknya agar rujuk, perempuan itu tidak akan mau."
"Nasib baik aku masih belum punya bini. Andaikata aku punya bini dan biniku suka belanja online, maka tekorlah aku," Qusairi membanggakan dirinya sendiri.
"Tidak punya bini tidaklah seindah yang kau bayangkan, Kawan. Tak ada yang dipeluk bilamana datang hujan malam-malam," sahut Mahmud.
"Aku akan menikah kalau rakyat menunjukku sebagai Pak Lurah," ujar Qusairi berceloteh.
"Sampai putih rambutku kau takkan pernah diangkat sebagai Lurah. Mana ada Lurah, SD saja tak tamat?"
Meledaklah tawa itu lagi.
"Tapi ngomong-ngomong, istri Si Kasman lagi melirik suaminya Doktoranda Nuraini."
"Pak Samsul menurut dikau?"
Herman menganggukkan kepalanya.
"Yang katanya mau mengusulkan agar ibu-ibu dan gadis-gadis kampung dapat ikutan lomba panjat pinang?"
Sekali lagi Herman mengangguk.
"Sebentar lagi kan lomba Hari Kemerdekaan 17 Agustus mau digelar? Nah, selama ini kan peserta lomba panjat pinang semuanya lelaki. Tidak pernah aku melihat ada lomba panjat pinang para pesertanya perempuan," kata Herman serius, lalu menyeruput kopinya.
"Kalau pada lomba panjat pinang sih pesertanya memang tidak ada. Tapi, pada pemilu tahun 1999 kan negara kita mencatat sejarah sebab waktu itu kita punya presiden perempuan. Bahkan Inggris pun punya ratu perempuan. Pada zaman kerajaan dulu, di Kerajaan Keling juga dipimpin seorang perempuan yang tangguh bernama Ratu Sima. Di zaman Rasulullah Saw pun, ada seorang pahlawan perang perempuan yang ahli dalam memanah. Lalu, apa salahnya jika kali ini peserta lomba panjat pinang perempuan?"
Kedua orang udik yang hanya tahu soal dunia bahan-bahan bangunan itu mengerutkan kening. Pertanyaan sepele, namun sulit karena nyata mereka bukanlah tamatan SMA. Itu adalah pertanyaan buat makhluk bernama mahasiswa jurusan Sejarah.
"Itu bukan soal boleh atau tidaknya kaum perempuan jika diperbolehkan menjadi peserta lomba panjat pinang," timpal Duleman yang sedikit banyak sering membaca koran meskipun koran yang dibacanya telah expired.
"Lalu, Cak?"
"Coba kalian pikirkan, andaikata perempuan menjadi peserta lomba panjat pinang, lalu mereka akan memakai apa? Apakah etis jika mereka memakai rok, daster, atau gamis? Sementara penontonnya yang di bawah adalah kalian bertiga. Enak di mata kalian dapat tontonan gratis, tapi rugi di pihak mereka. Oleh sebab itulah, Pak Modin masih berpikir-pikir ide unik itu."
Ketiganya manggut-manggut.
"Lalu, bagaimana perkembangannya sekarang? Apakah Pak Modin telah mengetuk palu?"
"Palu, palu! Memang kepalamu yang ngeres itu mau dipalu? Atau memangnya Pak Modin itu hakim apa mau mengetuk palu?" Duleman mendamprat Mahmud.
Mahmud diam, Qusairi mengalihkan pandangannya ke kaki langit yang berwarna jingga keemasan di barat sana, dan sementara Herman menertawakan Mahmud.
"Ide unik nan kreatif Pak Samsul diterima oleh Pak Modin. Ibu-ibu dan gadis-gadis boleh ikut lomba panjat pinang asalkan mereka mengenakan celana trening. Pemikiran Pak Modin yang berjanggut macam kambingmu itu adalah, di luar sana perempuan telah diperbolehkan ikut lomba panjat tebing. Terus, mengapa di sini perempuan tidak boleh ikut lomba panjat pinang?" Duleman melanjutkan hasil laporannya.
"Nasib baik Pak Modin tak ikut-ikutan kawan-kawannya yang suka semprot sana semprot sini, menyitir-nyitir ayat, dan menamengi egonya dengan dalil garis kerasnya."
"Itulah hadiah manis dari sebuah reformasi, Man. Rakyat sudah bebas merdeka. Bebas mau memilih, bebas berprofesi apa saja, bebas mengeluarkan pendapat, bebas berkarya. Dan oleh karena itu, kita patut menghaturkan ribuan terima kasih kepada Bapak Reformasi kita."
Ketiganya pun pulang ke rumah masing-masing setelah menandaskan gelas kopi yang keempat. Tak lama lagi kampung mereka akan mempersembahkan sebuah lomba panjat pinang yang akan diikuti oleh ibu-ibu. Pasti suasananya menjadi lebih seru, ketika melihat ibu-ibu saling menjunjung kawannya untuk meraih beraneka rupa hadiah yang digantung di ujung pohon pinang, lalu mereka ambruk satu per satu dan jatuh berkubang lumpur. []
Editor : Ronald Fernando