Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Warung Kopi

Jawanto Arifin • Rabu, 1 November 2023 | 20:25 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Nadia Yasmin Dini


SAMPAI sekarang ayah masih menjadi sebuah teka-teki yang tidak bisa aku pecahkan. Selama Ibu masih hidup, Ayah terlihat begitu menyayangi serta mencintai Ibu.

Aku bisa bertaruh jika Ayah mampu mempertaruhkan segalanya demi cintanya pada Ibuku. Ayah juga selalu memperlakukan Ibu dengan sangat baik. Ia begitu menghormati Ibu sebagai seorang wanita.

Namun, ketika Ibu meninggal, tepatnya lima bulan yang lalu, Ayah bahkan tidak terlihat sedih sedikitpun.

Tak ada setetes air mata pun yang jatuh dari pelupuk matanya. Ayah terlihat baik-baik saja, bahkan di detik-detik pemakaman Ibu.

Seharusnya Ayah juga merasakan sakit yang sama seperti yang aku rasakan saat itu. Bahkan, dadaku sampai terasa sesak ketika melihat tubuh Ibu harus di timbun di dalam tanah.

Seharusnya Ayah adalah orang yang paling merasa kehilangan sosok Ibu di sini. Tapi sayangnya, aku tidak bisa melihat hal itu dari Ayah di hari pemakaman Ibu.

Setelah prosesi pemakaman Ibu selesai, aku langsung mengurung diri di kamar. Mengunci pintu dan menangis sesenggukan di dalam kamar.

Tante serta ibu-ibu tetangga sempat mengetok pintu kamarku beberapa kali untuk memastikan aku baik-baik saja. Aku katakan kepada mereka bahwa aku hanya ingin sendiri. Setelah itu, tidak ada lagi suara ketokan pintu yang terdengar dari luar.

Kehilangan sosok Ibu di usiaku yang baru menginjak sepuluh tahun adalah sebuah luka yang cukup dalam bagiku.

Karena itu, semenjak hari itu aku berubah menjadi gadis yang dingin, murung, sensitif, dan temperamental.

Aku bahkan tumbuh menjadi seorang gadis yang manja dan egois. Seluruh keinginan ku harus terpenuhi. Kalau tidak, maka aku akan mengeluarkan jurus andalanku.

Yakni, ngambek selama seharian di kamar. Mungkin itu adalah sebuah bentuk pelampiasanku akan luka karena kehilangan Ibu.

Selepas Ibu meninggal, hubunganku dengan Ayah juga jadi tidak baik. Kami tidak lagi dekat seperti dulu. Aku selalu menjauhi Ayah setiap kali Ayah berusaha mendekatiku atau berbicara denganku. Aku sudah terlanjur membenci ayah sejak malam itu.

"Mas Herman yang sabar, ya. Mbak Atiqah pasti sudah tenang di sana," ucap Bibi Rukmini sembari menepuk pelan pundak Ayah. Ayah kemudian membalas Bibi Rukmini dengan senyuman. "Terimakasih, ya."

Tepat di malam Ibu meninggal, aku tak sengaja melihat Bibi Rukmini dan Ayah sedang berbicara berdua di ruang tamu. Saat itu kondisi rumah sudah sepi.

Para tamu sudah pulang. Malam pun sudah larut. Sebenarnya aku tidak berniat mengintip mereka dari balik pintu kamar. Niatku awalnya ingin ke kamar mandi.

Namun, ketika melihat Ayah dan Bibi Rukmini, entah kenapa aku langsung marah. Aku langsung menuduh bahwa Bibi Rukmini adalah selingkuhan Ayah selama ini. Itu sebabnya Ayah sama sekali tidak terlihat sedih dan merasa kehilangan.

Tak kusangka rasa benci itu semakin hari semakin menjadi. Melihat hampir setiap hari Ayah selalu pergi ke Warung Kopi milik Bibi Rukmini. Padahal Ayah bisa saja membuat kopi sendiri di rumah.

Jika hanya sekedar membeli, lalu dibungkus, dan di minum di rumah. Aku sama sekali tidak masalah. Tetapi, masalahnya Ayah menghabiskan waktu sampai berjam-jam di warung Bibi Rukmini. Apalagi yang akan Ayah lakukan di sana jika bukan karena ingin bermesraan dengan Bibi Rukmini.

Selepas salat subuh di masjid, Ayah selalu mampir ke warung Bibi Rukmini terlebih dahulu. Lalu ia akan pulang ketika aku hendak berangkat sekolah.

Begitupun ketika malam, Ayah selalu menyempatkan waktu untuk ngopi di warung Bibi Rukmini jika sedang tidak ada kerjaan.

Hal itu benar-benar membuat diriku jengkel. Belum genap seribu hari Ibu meninggal, namun tingkah Ayah sudah semakin menjadi dengan Bibi Rukmini.

Aku melampiaskan seluruh kebencian serta kekesalanku selama ini pada Ayah tepat di malam itu. Malam ulang tahunku.

Ketika Ibu masih hidup, Ayah dan Ibu selalu memberikan kejutan kue ulang tahun kepadaku. Lalu kami akan meniup lilin bersama.

Namun, malam itu tak ada lagi kejutan seperti dahulu. Yang aku dapatkan hanyalah rasa sepi di rumah. Bergerak mondar-mandir menunggu kedatangan Ayah yang selama seharian ini tak tahu pergi ke mana.

Tak lama setelah itu, Ayah datang. Namun, dengan keadaan tangan yang kosong. Penampilannya kacau. Tetapi, aku tak peduli.

"Ayah jahat! Ayah pasti lupa dengan hari ulang tahunku," bentakku pada Ayah.

Ayah langsung berlutut di hadapanku. Berusaha meraih kedua tanganku. Namun, aku buru-buru menghindar. "Maafin Ayah, Kania. Ayah akan beli kuenya sekarang, ya."

"Tidak mau! Pokoknya Ayah jahat sama kania dan Ibu." Aku berlari ke dalam kamar. Mengunci pintu dan menangis. Berusaha tuli atas suara-suara Ayah yang terus meminta maaf dari luar.

Aku menangis sejadi-jadinya di dalam kamar sembari memeluk boneka kesayanganku. Hingga tanpa terasa aku ketiduran. Dan hari sudah berganti pagi. Suara Ayah sudah tidak terdengar lagi di balik pintu.

Karena itu aku berani untuk membuka pintunya. Dan ternyata benar. Tak ada Ayah di sana. Bahkan mungkin di rumah ini.

"Ayah..."

Aku mencari Ayah di setiap sudut ruangan rumah. Namun, tidak kutemukan keberadaan Ayah. Padahal saat itu aku ingin meminta maaf pada Ayah atas perlakuanku semalam pada Ayah.

Ibu pernah mengajariku jika seseorang sudah meminta maaf kepada kita, maka sudah seharusnya kita memaafkan kesalahan orang tersebut.

Cukup lama aku menunggu Ayah. Namun, Ayah tidak kunjung pulang juga. Aku kembali marah. Menduga Ayah pasti pergi ke warung Bibi Rukmini lagi.

Maka dengan emosi, aku berjalan menuju warung Bibi Rukmini. Kali ini aku akan menangkap basah mereka berdua.

Namun, sesampainya di sana aku sama sekali tidak melihat keberadaan Ayah di antara bapak-bapak di warung tersebut. Aku sempat celingak-celinguk sebentar hingga Bibi Rukmini menyadari kedatanganku dan menyuruhku untuk duduk di sebuah lincak yang berada di samping warungnya.

Kami hanya duduk berdua di sana. Hingga kemudian, Bibi Rukmini mengeluarkan sebuah undangan pernikahannya dengan seorang laki-laki yang tidak aku kenali namanya. Aku melotot.

Bukankah selama ini Bibi Rukmini adalah selingkuhan Ayah?

"Sebentar lagi Bibi akan menikah. Bibi memutuskan untuk menutup warung ini setelah menikah. Bibi ingin fokus pada suami Bibi saja," ucap Bibi Rukmini sembari tersenyum lebar.

Aku masih bingung. Jika pernikahan ini hanyalah sebuah keterpaksaan, lantas kenapa Bibi Rukmini terlihat begitu bergembira menyambutnya?

"Kamu tolong jaga Ayah kamu, ya. Jangan sampai kejadian kemarin akan terulang lagi. "Bibi menggantung ucapannya. Aku menaikkan kedua alisku bingung. "Maksud Bibi?" tanyaku bingung.

Bibi Rukmini seketika terlihat panik dan mati gaya. Sepertinya kata-kata tadi tidak seharusnya ia ucapkan kepadaku. Bibi Rukmini terlihat ragu untuk memberitahuku.

Namun, aku terus mendesaknya. Hingga akhirnya dia bersedia menceritakan segala kejadian yang terjadi kemarin.

"Sebenarnya Ayahmu kemarin mau bunuh diri. Tapi, untung saja dia teringat dengan ulang tahun kamu."

Aku diam tak berkutik. Pelan-pelan berusaha mencernanya dengan baik sembari menunggu Bibi Rukmini melanjutkan perkataannya.

"Sejak Ibumu meninggal, Ayahmu itu sering kemari untuk menceritakan segala kesepiannya ke Bibi dan bapak-bapak di sini. Ayahmu sangat terluka semenjak Ibumu meninggal. Hanya saja dia tidak ingin menampakkannya di depan kamu," lanjut Bibi Rukmini.

Aku semakin tidak bisa berkata apa-apa. Terkejut sekaligus merasa bersalah pada Ayah. Karena selama ini aku sudah menuduh Ayah macam-macam dan menjauhinya tanpa belas kasihan.

Sekarang aku mengerti kenapa selama ini Ayah suka berlama-lama di warung Bibi Rukmini. Bukan karena ingin bermesraan dengan Bibi Rukmini, seperti dugaan gilaku selama ini. Melainkan karena hanya di warung ini Ayah bisa menceritakan segala lukanya.

Tak lama kemudian, Ayah datang. Deru napasnya ngos-ngosan. Dengan napas yang masih belum stabil, Ayah lantas menengadahkan tangannya ke atas.

Menunjukkan sebuah kue ulang tahun yang terbungkus di dalam kresek putih kepadaku. Aku tak kuasa melihat Ayah. Aku langsung berlari memeluk Ayah. Aku memeluknya dengan erat.

Lama kelamaan, aku bisa merasakan kedua tangan ayah menyentuh punggung bagian belakangku. Kepalanya yang berat bersender di pundak kiriku. Bisa kurasakan sesuatu yang hangat jatuh di pundak kiriku.

Semakin lama semakin terasa hangat. Hingga tanpa terasa baju ku sudah basah. Ayah menangis. Namun, aku merasa lega melihatnya. Setidaknya kali ini Ayah tidak lagi memeluk lukanya sendirian. (*)

Editor : Jawanto Arifin
#cerpen radar bromo