Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Membangun Kepalsuan di Dunia Maya

Jawanto Arifin • Minggu, 8 Oktober 2023 | 18:05 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Herumawan P.A.


AKU kerap berdebat dengan hati kecilku tentang pekerjaanku di dunia maya saat ini.

"Jangan suka kepalsuan."

"Tahu apa tentang kepalsuan? Ini dunia maya, sebuah panggung sandiwara untuk kepalsuan yang sebebas-bebas."

"Tidak baik terus menebar kepalsuan, asli lebih baik."

"Orang-orang di dunia sudah paham mana yang asli dan palsu. Tapi entah kenapa masih ada suka kepalsuan alias KW di dunia maya? Mungkin mereka lebih mementingkan gengsi ketimbang kualitas diri."

"Tetap saja walaupun ada kepalsuan, nanti juga akan ketahuan kelakuan aslinya."

"Kalaupun ketahuan, tinggal ngeles cari alasan terus minta maaf sambil nangis. Selesai." Perdebatan selesai saat hati kecilku diam, tidak lagi berisik.

Bagiku sekarang, hidup dalam kepalsuan di dunia maya adalah sebuah keharusan. Aku tidak bisa hidup tanpa kepalsuan di dunia maya. Karena itu mata pencaharianku sehari-hari.

Bagiku, dunia maya itu juga panggung sandiwara yang penuh intrik, drama dan tentu saja kepalsuan. Bukannya tidak ada yang benar-benar asli di dunia maya tapi mereka kalah populer. Keasliannya serasa tidak bermakna. Aku tidak mau begitu, aku suka kepalsuan. Karena aku ingin populer, cepat dapatkan uang.

Tapi aku tidak mau kepalsuan yang sembarangan. Punya jadwal sendiri dan terencana. Awalnya dulu kubangun kepalsuan demi kepalsuan demi mendapatkan simpati warganet. Menebarkannya ke setiap penjuru dunia maya. Membuatnya viral. Semakin banyak koin dan jempol yang menyukai kepalsuanku, rekeningku lantas bertambah gendut. Hasilnya untuk anak istriku.

Dari waktu ke waktu, hari ke hari, bulan ke bulan ke bulan hingga tahun ke tahun, kepalsuan-kepalsuan berikutnya makin lebih sering kulakukan. Mengapa aku suka bangun kepalsuan di dunia maya? Karena aku ingin cepat kaya, ingin cepat punya banyak uang. Impian banyak orang zaman sekarang.

Salah kalau berpikiran bangun kepalsuan hanya untuk mencari untung di dunia maya sepertiku. Di dunia maya, pembuat hoaks dan fitnah juga identik dengan kepalsuan. Mengapa tidak kupilih pembuat jasa hoaks dan fitnah? Bukankah lebih cepat terkenal dan menghasilkan uang. Aku tidak mau ambil risiko berhadapan dengan hukum. Lebih enak dan nyaman begini, pikirku. Ya itu benar adanya. Dan sekarang aku jadi kaya.

***

Sebelum-sebelumnya aku tidak punya pekerjaan, apa saja aku kerjakan asalkan cepat dapat uang. Walaupun jumlah tidak seberapa tapi bisa buat makan sehari-hari. Sayangnya entah kenapa aku merasa tidak pernah cukup, tidak mau bersyukur.

Aku pun merasa lelah hati dan pikiran. Sudah bekerja keras, banting tulang tapi hasilnya tidak sepadan dengan biaya kebutuhan hidup yang semakin merangkak naik. Ingin aku merutuki kenapa aku tidak bisa punya uang banyak? Kaya raya seperti mereka yang biasa kulihat di televisi dan media sosial. Aku ingin seperti mereka. Tapi tidak juga kunjung berhasil. Apakah nasibku ditakdirkan begini? Selalu saja kekurangan uang. Padahal aku tidak jenuh berdoa memohon bahkan hingga menangis bercucuran air mata kepada Tuhan, kenapa hidupku begini terus menerus? Tetap saja tidak ada perubahan nasib.

"Kamu harus lebih banyak bersyukur biar hidupmu ada perubahan." Hati kecilku saat itu, coba menasehatiku. Aku tidak mengindahkannya.

"Uang yang banyak tidak akan membuatmu bahagia kalau kamu lupa bersyukur." "Uang bukan segalanya. Jangan jadi pemuja uang." Ia malah terus berceloteh memberikan nasehat-nasehat. Aku sampai bosan mendengarnya. Lalu mengambil jarak yang jauh.

Aku lega tidak lagi mendengarnya berceloteh tentang rasa bersyukur. Mungkin untuk sementara waktu. Tapi tidak mengapa. Yang penting sekarang aku bisa fokus mencari uang banyak. Makanya saat ada teman mengajakku cara cepat kaya dan banyak uang tanpa capek-capek kerja, aku mau saja. Syaratnya cukup berdiri di depan kamera memakai pakaian lusuh.

"Sekarang kamu jadi peran seperti orang susah, pasang wajah memelas. Ngomong seperti yang ada di skrip. Kalau bisa keluarkan air mata, itu bisa jadi nilai plus kamu di mata para dermawan sosial media nanti." Aku mengangguk. Menuruti semua perintahnya, sesuai yang ada di skrip buatannya. Tidak masalah aku dapat peran orang susah. Karena hidupku tidak jauh dari kenyataan itu.

"Ini bagianmu." Ia memberikan segepok uang. Aku terkejut melihat tumpukan uang banyak dalam genggaman tangan.

"Ini buatku." Aku masih tidak percaya.

"Iya."

"Kok bisa dapat segini banyak?"

"Kamu benar-benar menjiwai peranmu. Mantap sekali, luar biasa, bisa narik banyak uang dari sosialita media sosial yang gampang merasa iba dan mudah percaya."

"Terima kasih ya."

"Kenapa sih kamu tidak kepikiran jadi artis saja? Dengan penjiwaan peran kamu yang luar biasa seperti itu kamu bisa jadi aktor terkenal." Aku tersenyum. Lalu menggeleng.

"Aku tidak tertarik. Wajahku pas-pasan. Aku suka yang begini, bisa cepat dapat uang. Besok panggil aku lagi ya." Ia tersenyum lalu mengangguk. Aku pun pamit pulang.

"Itu bukan dirimu, tanggalkan kepalsuanmu itu. Apakah tidak ada yang pernah menasehatimu?" Hati kecil tiba-tiba kembali bersuara kritis setiba aku di rumah.

“Aku tidak peduli, yang penting aku dapat banyak uang, bisa buat beli makanan enak, beli pakaian baru, beli kendaraan terbaru, bisa pergi keluar negeri lalu dipamerin di media sosial biar yang lain pada iri.” Hati kecil terdiam.

Aku langsung memberikan segepok uang kepada istri dan anakku. Mata keduanya tampak berbinar melihat banyaknya tumpukan uang kertas di tangan.

***

Pada saat ini, aku kembali menengok hati kecilku. Memastikan ia tidak merecoki lagi apa yang sedang aku lakukan. Tidak lagi sok menasehati atau berdebat denganku. Karena aku sekarang menyadari lebih butuh uang banyak daripada kehadiran hati kecilku. Walaupun untuk mencapainya, aku harus membangun kepalsuan di dunia maya. Bukan hanya satu tapi banyak. Yang jelas, aku tidak mau lagi asal kerja. Pekerjaan begitu tidak bisa menghasilkan uang banyak dalam sekejap.

Bisa dibilang kini aku hidup berkecukupan. Uang hasil membangun kepalsuan di dunia maya, aku pakai membuka usaha warung makan dan kios pulsa. Tapi itu semua belum cukup membuatku puas. Aku ingin lebih banyak uang... uang... dan uang.

Aku kian banyak membangun kepalsuan di dunia maya. Lalu menebarkannya. Tidak butuh waktu terlalu lama, aku mendapatkan banyak uang lagi. Entah sampai kapan aku harus seperti ini, bercengkerama dengan kepalsuan? Mungkin nanti saat orang-orang di dunia maya semakin banyak yang melek literasi, dan tidak lagi gampang merasa kasihan pada orang-orang sepertiku. (*)

 

Yogyakarta, 5 Oktober 2023

Editor : Jawanto Arifin
#cerpen radar bromo