Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Bau Tanah

Jawanto Arifin • Minggu, 16 Juli 2023 | 20:40 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Mufti Wibowo


DIA mendengar lengking suara azan yang mengumandang dari dalam kubur Amar yang masih basah. Pada hari ketujuh kematian Amar, Bapak membisikinya. Bisikan yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat daripada putusan hakim di pengadilan negeri yang memvonisnya bersalah karena menggunakan obat kimia untuk menangkap indukan ikan melem di sungai. Karenanya, ia lima bulan mendekam di selatan alun-alun.

“Kamu jawab apa, Kang?” Ia bergeming mendengar tukas istrinya. Ia merinding karena lengking azan Amar dari dalam tanah kuburan.

Waktu itu, Amar baru dua tahun menjadi tukang azan kami. Setengah tahun menjalankan tugas, Amar sakit-sakitan sebelum berita kematiannya melalui toa masjid memecah hening subuh.

Sedari muda, Amar seorang juragan buah yang membuatnya menjadi orang paling kaya di kampung. Kekayaan itulah yang membuatnya dapat melakukan segala sesuatu yang diinginkannya. Tak peduli jika itu memperistri jin atau sekadar melakukan hobinya tidur di pokok pohon angker hingga berhari-hari.

Sepulang haji, ia seolah terlahir kembali. Kekayaannya menguap seketika, dan ia menjadi sakit-sakitan. Pada masa-masa akhir hidupnya itulah, ia menjadi muazin masjid kami. Tugas —yang ia tambahkan sendiri membangunkan orang sebelum subuh— utamanya azan setiap memasuki awal waktu salat.

“Kang, apa kamu juga mencium sesuatu di rumah kita. Aku sangat risih karenanya,” ujar Biyung kepada suaminya yang berubah perangai sepulang dari bui.

“Aku tak mencium bau aneh apa pun di rumah kita.”

“Aneh sekali kalau kamu tak menciumnya.”

“Nanti kucari, siapa tahu bangkai tikus atau cicak.”


Yang pernah aku dengar dari Bapak, hanya orang saleh saja yang jasadnya takkan membusuk. Orang biasa akan mengalami nasib yang sama dengan binatang-binatang setelah mati.

Di tempat tinggal kalian apa ada seorang seperti Mbah Marta? Orang kampung kami menganggapnya keramat. Dia tak lebih dari lelaki sederhana yang menghabisakan sepanjang hidupnya -sejak kebutaannya- untuk menjadi muazin di masjid kampung kami, ketika bangunannya masih sangat sederhana, berbeda dengan kemegahannya hari ini.

Ketika semua berpikir hidupnya telah berakhir saat mendadak buta sebab mesiu dari moncong laras demi menolong kiainya, ia justru menjalani hidup yang bahagia hingga akhir hayatnya. Setidaknya itulah yang menjadi pengetahuan kolektif penduduk kampung kami ketika mengenang sosoknya.

Ia memperistri anak perempuan satu-satunya kiainya itu. Anaknya meneruskan tradisi kakeknya sebagai ulama. Sepanjang hidupnya, ia tak pernah bersedia menjadi imam sembahyang, kecuali untuk istri dan anaknya. Ia telah menugaskan dirinya untuk menjadi marbot masjid, kebersihan dan azan. Dalam hal ini, aku tahu cukup banyak karena aku adalah cucu keponakannya.

“Orang seperti aku memang serba sulit.”

“Apa yang mengusik pikiranmu?”

“Mau hidup lama, ilmu terlalu sedikit, bukan nambah amal malah mupuk dosa.”

“Bagaimana kalau mati sekarang?”

“La itu masalahnya, amal gak seberapa banyak. Kita tak punya anak yang akan mendoakan jika kita mati, bagaimana mungkin kita mengharapkan orang lain mendoakan kita. Mau berjariah, aku ini kelewat miskin. Tak punya apa-apa.”

“Kesempatan kita masuk surga terasa makin kecil.”

“Kata anakku (dia selalu menyebut aku sebagai anaknya di hadapan suaminya) kecil tak berarti tak mungkin.”

“Dia pulang?”

“Semalam, dia bilang akan datang. Ingin bertemu denganmu. Kamu harus menemuinya. Pergilah ke kali, dia selalu menyukai ikan jalamu.”


*

“Apa Kang Mul boleh meminta kesempatan untuk memperbaiki hidupnya?” tanya perempuan yang lebih terdengar sebagai sebuah gerutu selagi menumis pepaya muda kesukaan Bapak. Perempuan itu yang merawatku sejak lahir, bersama ibuku. Ibu mengajariku untuk memanggilnya Biyung.

“Apa yang kamu gusarkan, Yu”

“Aku rasa aku mencium bau tanah dari tubuh suamiku.”

“Kamu tak sedang bercanda kan, Yu?”

“Sepenting apapun urusan hidup dan mati, aku tetap akan menjadikannya canda. Hanya itu yang aku punya dalam hidup ini.”

Sebelum ditelan mulut pintu tanpa daun yang membatasi dapur dengan ruang makan itu, Ibu dengan kedua tangan penuh cobek sambal terasi dan ikan asin di piring menjanjikan akan menyampaikan itu pada Bapak. Tiga hari kemudian, Bapak mengungkapkan rencana itu kepadanya.

Dia adalah paman yang selalu kubanggakan. Pandai memancing dan jago pencak. Ketika banyak orang mati dan dikuburkan dengan cara-cara yang tak lazim, ia sempat menghilang, ke bui.

Itu saat aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah karena sekolah-sekolah dan kantor ditutup. Pada saat bersisian, Bapak sempat didatangi polisi dan perangkat desa karena anak-anak yang tetap datang untuk mengaji setiap sore. Orang-orang bekerja di rumah, menghadap gawai yang menyala. Bapak tidak, dia tetap pergi ke sawah dan kebun di lereng bukit.

Lalu, saat pandemi reda, dia kembali muncul. Tapi, tak lagi pernah lagi datang ke rumahku. Dia hanya keluar dari rumah untuk ke masjid. Bahkan tidak memancing atau menjala.

Dia menjadi muazin masjid kami kurang dari sebulan sebelum ajalnya tiba, saat ia sujud dalam salatnya, sebelum masuk waktu imsak hari ke-30, setelah membangunkan kami untuk sahur terakhir melalui toa yang lekat dengan suaranya yang berat dan serak, suara yang begitu merdu. Kini, dari jarak rumah ke kuburan sejauh lima belas menit bersepeda, sekali lagi aku mendengar suara pamanku mengumandangkan azan. (*)


Fakuntsin, 2023
Lahir dan berdomisili di Purbalingga, Jawa Tengah.

Editor : Jawanto Arifin
#cerpen radar bromo